Benarkah Keseringan Pakai AI Bikin Kita Kekurangan Air Bersih? Yuk Kita Bedah!

Kamu pasti pernah dengar gosip atau diskusi di medsos: “Ah, pakai AI terus — itu juga bikin planet kekurangan air bersih.” Kedengarannya dramatis, tapi beberapa ahli dan laporan belakangan mengangkat klaim serupa: bahwa pusat data dan ekosistem AI bisa menyedot air bersih dalam jumlah besar. Tapi, apakah benar dampaknya fatal ? Dalam artikel ini kita kupas dari berbagai sudut pandang: data, fakta lapangan, skeptisisme — supaya kamu bisa nilai sendiri.

1. Kenapa AI & Data Center “Haus Air”: Cerita di Balik Server

Bayangin kamu punya ribuan server terus-menerus bekerja 24/7. Server-server itu panas luar biasa. Kalau dibiarkan, bisa overheat — rusak. Makanya, banyak data center (termasuk yang mendukung AI) memakai sistem pendingin berbasis air atau air cooling. Ini berarti butuh pasokan air bersih terus-menerus.

Belum lagi, tak hanya pendinginan langsung: pembangkitan listrik di banyak tempat juga memakai air (pendingin pembangkit, distribusi, dsb). Jadi jejak air AI itu “langsung + tidak langsung.”

Sebuah laporan juga memperkirakan bahwa konsumsi air global oleh pusat data AI bisa melonjak pada beberapa tahun ke depan — skenarionya sangat tinggi jika ekspansi terus naik.

Jadi ya — di balik kemudahan AI, ada kebutuhan “air besar” yang tersembunyi. Dan itu benar-benar bisa jadi beban jika dilakukan secara masif tanpa perhitungan.

2. Dampak Nyata: Risiko Kekurangan Air di Wilayah Rawan

Masalahnya jadi lebih serius jika data center berada di wilayah yang memang sudah rawan air, atau di area dengan pasokan air terbatas. Misalnya negara atau kota yang jarang hujan, atau wilayah dengan cadangan air tanah kritis. Jika data center besar menenggak air terus-menerus, bisa memengaruhi pasokan air publik, pertanian, dan kebutuhan warga sehari-hari.

Drastisnya, regulasi pun bisa kewalahan. Sebuah regulator di Inggris bahkan mengaku tidak punya data pasti berapa banyak air yang dipakai oleh data center saat ini, sehingga sulit membuat prediksi kebutuhan air masa depan jika AI terus berkembang pesat.

Dengan demikian, kalau kita tidak bijak dalam merencanakan lokasi data center, sistem pendinginan, dan teknologi pemanfaatan ulang air — AI berpotensi memperburuk krisis air bersih yang sudah melanda banyak wilayah.

Baca juga : Jenis-Jenis Kerusakan HP Berdasarkan Tingkat Keparahannya

3. Bukti Ilmiah: Data dan Riset Tentang Water Footprint AI

Belakangan ini, riset akademik mulai mencoba menghitung “jejak air” dari siklus hidup AI — dari pembangunan chip, pelatihan model besar, sampai operasional sehari-hari. Hasilnya, penggunaan air itu bukan main-main.

Contohnya: pelatihan model bahasa besar (Large Language Model / LLM) bisa menyebabkan konsumsi air hingga jutaan liter — tergantung skala dan infrastruktur pendinginnya.

Selain itu, estimasi global menunjukkan bahwa jika tren AI terus melaju seperti sekarang, pada 2027 konsumsi air dunia dari AI bisa mencapai miliaran meter kubik—angka yang cukup untuk membuat banyak negara khawatir terhadap pasokan air bersih.

Artinya: ini bukan sekadar takut-takut. Ada data, ada logika, bahwa AI bisa menjadi faktor tambahan dalam tekanan terhadap sumber daya air dunia.

4. Versi Industri: Klaim Perusahaan Teknologi Tentang Efisiensi AI

Tapi, tidak semua pihak setuju kalau AI otomatis identik dengan ‘penguras air’. Contohnya, Google pernah merilis data bahwa versi terbaru dari asisten AI-nya — Gemini AI — memiliki “water footprint” yang sangat kecil per prompt. Menurut Google, satu prompt median hanya membutuhkan sekitar 0,26 mililiter air (sekitar lima tetes) dan energi yang sangat kecil.

Google juga mengklaim bahwa dalam satu tahun terakhir, efisiensi energi per prompt meningkat drastis, dan jejak karbon serta air per prompt berkurang jauh.

Artinya: jika AI dikembangkan dengan teknologi modern, hardware efisien, dan sumber energi bersih, tekanan pada air bisa ditekan — setidaknya secara per-user. Tapi catat ya: ini klaim industri. Kita tetap perlu skeptis dan verifikasi secara independen.

5. Perdebatan: Apakah AI Benar-benar Pemicu Krisis Air, atau Hanya Kamuflase Masalah Lama?

Kalau kita tarik mundur ke masalah global air bersih, angka menunjukkan bahwa sebelum ada AI pun banyak wilayah dunia sudah menghadapi kelangkaan air. Di 2025, dilaporkan bahwa lebih dari 2 miliar orang masih kekurangan akses air minum layak.

Di Indonesia misalnya, prediksi krisis air bersih terjadi pada 2045 jika tidak ada pengelolaan sumber daya air yang baik.

Jadi sebagian orang bilang: “Kalau sudah sumber air bersih langka, apa nggak lebih baik kita benahi distribusi dan konservasi dulu, sebelum nyalahin AI?”

Memang. Argumen itu masuk akal. Karena banyak faktor penyebab — urbanisasi, alih fungsi lahan, perubahan iklim, sampah, polusi — yang bertanggung jawab terhadap kelangkaan air sebelum AI muncul. Namun kritik terhadap AI bukan berarti kita abaikan faktor-faktor klasik itu.

AI bisa jadi “pemanis tekanan” jika tidak dikelola dengan baik, tapi bukan penyebab utama sejak awal. Tapi ketika teknologi terus membesar, dampaknya bisa signifikan — terutama di area sensitif.

6. Apa Solusinya? Bagaimana Biar AI dan Air Bisa Hidup Berdampingan

Kabar baik: ada jalan keluar, kalau kita kolektif dan visioner. Berikut beberapa inisiatif & ide yang mulai digodok dunia:

Pertama — inovasi pendingin ramah air: begitu banyak data center mulai mempertimbangkan penggunaan pendingin cair tertutup (closed-loop liquid cooling), pendinginan udara, atau teknologi hemat air lainnya. Ini bisa menurunkan konsumsi air secara drastis dibanding sistem evaporatif tradisional.

Kedua — efisiensi perangkat keras & software: seperti klaim Google tadi, kalau hardware lebih efisien dan algoritma dipangkas supaya hemat energi + tidak butuh pendinginan ekstrem, air dan listrik bisa dipangkas jauh.

Ketiga — regulasi & transparansi: pemerintah dan regulator lingkungan perlu mewajibkan data center melaporkan penggunaan air dan dampaknya pada lingkungan lokal. Dengan data transparan, bisa dipetakan area mana yang rentan krisis air jika data center dibangun di situ.

Keempat — konservasi & konservasi sumber air: masyarakat dan industri perlu belajar sadar lingkungan — hemat air, mendaur ulang air, memperbaiki distribusi, menjaga daerah resapan air, dsb. Karena selama ini banyak krisis air terjadi bukan cuma karena konsumsi tinggi, tapi juga kebocoran dan pengelolaan yang buruk.

Kalau semua dilakukan bersamaan — teknologi + regulasi + kesadaran — bukan nggak mungkin AI bisa hidup berdampingan dengan air bersih yang cukup untuk manusia dan lingkungan.

7. Kenapa Kita Harus Peduli: Karena Krisis Air Bukan Isu Tommorow — Dia Isu Sekarang

Mungkin kamu berpikir: “Ah, itu kan masalah global besar, masa saya peduli?”

Tapi ingat: kekurangan air bersih bukan cuma soal susah mandi atau minum. Ini soal sanitasi, kesehatan, pangan, dan keadilan sosial. Saat akses air menipis, dampaknya terasa paling berat di masyarakat kecil—mereka yang paling rentan.

Dan AI kini berkembang cepat — di server, cloud, layanan online, streaming, generative AI, large-scale data — semuanya butuh pusat data. Jika dunia mengadopsi AI tanpa pikir panjang soal lingkungan, maka dalam 10–20 tahun ke depan bisa jadi air bersih jadi barang mahal di beberapa tempat.

Itu sebabnya diskusi soal AI vs air bukan cuma untuk nerd atau aktivis lingkungan. Ini isu global, yang menyentuh kita semua — terutama kita yang hidup di negara tropis dengan tantangan air seperti Indonesia.

8. Kesimpulan: AI Itu Keren — Tapi Kalau Ngangkut Semua Air, Ya Risikonya Diri Sendiri

AI menawarkan banyak hal: efisiensi, inovasi, kemudahan, produktivitas. Tapi jangan lupa: di balik server dan data center ada kebutuhan nyata — termasuk air bersih. Kalau kita cuma mikirin kemajuan teknologi tanpa memikirkan sumber daya alam, ya sama saja kayak beli motor kencang tapi tangkinya bocor.

Jadi, jawaban singkat buat pertanyaan judul artikel ini: Ya — terlalu sering, tanpa pengelolaan baik, AI bisa memperburuk kelangkaan air bersih. Tapi itu bukan takdir, melainkan pilihan.

Kalau kita bijak: bangun data center di lokasi aman, pakai teknologi hemat air, daur ulang air, regulasi ketat, dan sadar lingkungan — maka AI dan air bisa berdampingan. Tapi kalau kita gegabah, ya siap-siap krisis air makin parah.

Jadi yuk, kita awasi bareng-bareng. Karena memberi prompt ke AI itu gampang, tapi melindungi air bersih harus jadi urusan semua.