Julukan “HP gacha” sering muncul di kalangan pengguna gadget Indonesia ketika membicarakan smartphone Xiaomi. Istilah ini mengacu pada pengalaman konsumen yang terasa acak-acak beruntung: kadang dapat unit prima yang awet dan lancar dipakai bertahun-tahun, tapi di lain kasus ada yang menghadapi berbagai masalah serius bahkan setelah baru beberapa bulan digunakan.
Istilah gacha sendiri sebenarnya berasal dari dunia permainan — dari mesin kapsul di Jepang yang memberi item secara acak berdasarkan keberuntungan pemain. Anime dan mobile game banyak mengadopsi istilah ini untuk menggambarkan mekanik undian dalam game. Ketika istilah itu dipakai pada smartphone, maksudnya serupa: kualitas HP terasa “random” — seperti undian siapa yang beruntung dapat unit bagus, siapa yang dapat unit bermasalah.
Namun, apakah julukan ini benar-benar mencerminkan pengalaman pengguna secara objektif? Atau hanya persepsi yang dipicu oleh kejadian tertentu? Berikut daftar 7 alasan utama kenapa Xiaomi sering disebut HP gacha, plus penjelasan untuk kamu yang ingin memahami fenomenanya secara lebih lengkap.
1. Kualitas Hardware yang Sering Dianggap ‘Random’
Alasan paling sering dikaitkan dengan julukan HP gacha adalah soal hardware yang dianggap tidak konsisten. Banyak pengguna berbagi cerita bahwa beberapa unit smartphone Xiaomi berjalan mulus tanpa masalah selama bertahun-tahun, sementara yang lain mengalami gangguan serius seperti mati total (matot), overheat, atau bahkan komponen rusak di luar masa garansi.
Contohnya, beberapa varian smartphone Xiaomi terdahulu seperti POCO X3 Pro dan POCO F3 pernah ramai diberitakan mengalami mati total yang cukup banyak di sejumlah komunitas pengguna. Permasalahan itu sering kali disebabkan oleh kerusakan internal di komponen seperti CPU atau motherboard, atau bahkan overheat berkepanjangan saat performa tinggi.
Tentu perlu dicatat bahwa kejadian semacam ini bisa terjadi di semua merek smartphone, tidak hanya Xiaomi. Namun persepsi “gacha” makin kuat karena Xiaomi memiliki basis pengguna yang sangat besar, sehingga jumlah laporan yang viral lebih banyak terlihat dibanding brand lain.
2. Performa Software (MIUI/HyperOS) yang Kadang Buggy atau Tidak Konsisten
Selain hardware, pengalaman pengguna sering dipengaruhi oleh perangkat lunak (software). Xiaomi menggunakan antarmuka kustom seperti MIUI (dan kini HyperOS) di atas sistem Android. Banyak pengguna melaporkan bug-bug yang mengganggu pengalaman penggunaan, seperti fitur tertentu tidak berjalan semestinya, misalnya refresh rate yang tidak aktif di beberapa aplikasi, sensor fingerprint yang tidak responsive, atau bahkan fitur pengisian cepat yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Bug software seperti ini bisa sangat merusak pengalaman penggunaan karena fitur yang tampak seharusnya bekerja malah tidak optimal. Walaupun beberapa bug bisa diperbaiki lewat update perangkat lunak, tidak semua model mendapatkan update secara merata, sehingga beberapa pengguna pada akhirnya “terjebak” dengan bug tanpa perbaikan.
Dalam banyak kasus pengguna yang tidak sabar menunggu update resmi akan mencari solusi alternatif seperti Custom ROM, tetapi jalan ini tidak dianjurkan bagi semua orang karena berisiko mempengaruhi garansi dan stabilitas perangkat.
Baca juga : 7 Bahaya Edit Foto AI Pakai Grok yang Perlu Kamu Ketahui (Lebih dari yang Viral)
3. Build Quality yang Dinilai Kurang Premium di Beberapa Seri
Build quality atau kualitas material ponsel juga menjadi sorotan kuat di komunitas pengguna saat membicarakan Xiaomi. Karena sebagian besar HP Xiaomi dibanderol lebih terjangkau dibanding kompetitornya dengan spesifikasi serupa, beberapa model kelas menengah atau entry-level menggunakan material plastik atau rangka yang kurang kokoh.
Kondisi ini membuat sebagian pengguna merasa unit yang mereka pegang terasa “murahan” atau mudah retak/bengkok. Hal-hal semacam ini menambah kesan bahwa kualitas produk bisa sangat berbeda dari satu unit ke unit lain, tergantung keberuntunganmu saat pembelian.
Perlu dicatat bahwa hal ini tidak berlaku untuk seluruh lini produk Xiaomi. Banyak model flagship dan seri Pro kini yang menggunakan material premium seperti metal dan kaca yang terasa lebih kokoh. Namun persepsi awal soal build quality murah masih membekas kuat di benak banyak konsumen.
4. Banyak Model dengan Varian Spesifikasi Serupa tapi Performa Berbeda
Xiaomi dikenal sebagai brand yang sangat agresif dalam meluncurkan banyak model dengan spesifikasi yang tampak mirip, tetapi pada kenyataannya performa atau kualitas pengalaman pengguna bisa berbeda cukup signifikan antar perangkat.
Misalnya, dua smartphone dengan chipset, RAM, dan storage yang hampir mirip tetap bisa menunjukkan pengalaman penggunaan yang berbeda, tergantung komponen lain seperti sistem pendingin, kualitas antena, hingga optimasi software. Hal ini membuat beberapa orang merasa seakan “bermain undian” ketika membeli HP Xiaomi — layarnya mungkin bagus, tetapi performa sistem bisa saja kurang optimal, atau sebaliknya.
Perbedaan itu menciptakan pengalaman yang bervariasi di kalangan pengguna, dan efeknya memperkuat narasi HP gacha karena “tidak ada jaminan pasti” performa atau kualitas unit yang akan kamu dapatkan.
5. Ekspektasi Konsumen yang Terlalu Tinggi Karena Harga & Spesifikasi
Salah satu hal yang membuat narasi “HP gacha” semakin kuat adalah ekspektasi konsumen yang tinggi terhadap produk Xiaomi. Karena Xiaomi dikenal menawarkan spesifikasi yang sangat tinggi untuk harga yang terjangkau, banyak pengguna memiliki ekspektasi bahwa perangkat akan bekerja sempurna layaknya flagship dari brand premium lainnya.
Namun realitanya, pengalaman penggunaan sehari-hari tidak selalu semulus angka spesifikasi di atas kertas. Ketika sesuatu berjalan tidak sesuai ekspektasi — misalnya performa gaming yang tidak sejalan dengan benchmark, bug minor, atau build feel yang kurang premium — beberapa konsumen merasa kecewa dan menilai pengalaman tersebut sebagai “tidak konsisten”.
Ekspektasi ini semakin pelik karena banyak pengguna menyamakan angka spesifikasi seperti RAM besar, refresh rate tinggi, atau kamera megapiksel tinggi dengan performa bebas masalah — padahal ada banyak faktor lain seperti optimasi software dan kualitas komponen yang memengaruhi hasil akhir.
6. Xiaomi Sering Dibandingkan dengan Brand Lain di Segmen Serupa
Sebagai salah satu brand smartphone terbesar di dunia, Xiaomi sering dibandingkan dengan pesaingnya seperti realme, Infinix, Tecno, dan lainnya — brand yang juga dikenal menawarkan spesifikasi tinggi di harga bersaing.
Persaingan ini menimbulkan opini dari sejumlah pengguna bahwa kompetitor lebih “aman” karena lebih jarang terdengar mengalami masalah hardware atau software. Secara kasat mata, pengalaman pengguna realme atau Transsion Holdings terkadang lebih konsisten menurut beberapa pengguna di forum.
Perbandingan semacam ini turut memupuk anggapan bahwa HP Xiaomi punya tingkat variabilitas yang lebih tinggi — sehingga kesannya seperti layanan yang berbasis keberuntungan random — mirip mekanisme gacha di game.
Namun perlu diingat, setiap brand punya catatan masalahnya masing-masing dan laporan konsumen yang viral tidak selalu mencerminkan gambaran keseluruhan.
7. Xiaomi Sedang Berbenah, Dan Gacha Bisa Jadi Mitos yang Mulai Pudar
Terakhir, narasi “HP gacha” tidak sepenuhnya hitam-putih dan tidak juga akhir dari cerita Xiaomi. Perusahaan ini secara aktif memperbaiki kualitas produk dari generasi ke generasi, termasuk build quality yang lebih baik, penggunaan material premium, dan update software yang semakin rutin.
Beberapa model flagship terbaru dari Xiaomi kini sudah memakai material kaca dan metal solid, serta update sistem operasi yang lebih cepat. Ini menunjukkan bahwa Xiaomi menyadari persepsi pasar dan berupaya memperbaiki pengalaman konsumen.
Selain itu, angka keluhan yang ramai terdengar sering datang dari suara paling keras di internet, sedangkan mayoritas pengguna yang puas mungkin tidak sebesar suaranya. Persepsi semacam ini bisa membuat anggapan “gacha” terasa lebih kuat daripada kenyataannya.
Bagaimana Cara “Menang” Kalau Mau Beli HP Xiaomi?
Setelah memahami berbagai alasan di balik julukan HP gacha, yang bisa kamu lakukan sebagai konsumen adalah:
Lihat review dari banyak sumber, termasuk review video dan forum pengguna yang sudah memakai unit secara nyata.
Pilih model yang sudah terbukti kualitasnya, karena beberapa seri memang lebih stabil performanya daripada yang lain.
Periksa jaminan garansi dan layanan purna jual di wilayahmu, karena ini penting kalau ada masalah hardware atau software.
Pertimbangkan kebutuhan utama kamu, misalnya kamera, gaming, atau daya tahan baterai — supaya pilihanmu konsisten dengan prioritas pemakaian.
Kesimpulan: Mitos atau Realita?
Istilah “HP gacha” yang melekat pada Xiaomi mencerminkan persepsi konsumen tentang pengalaman yang acak, bukan suatu fakta mutlak. Ada beberapa faktor yang membuat pengalaman memakai Xiaomi bisa bervariasi antar unit, seperti hardware, software, build quality, ekspektasi konsumen, serta cara brand menghadirkan banyak model dengan spesifikasi mirip.
Namun, Xiaomi juga terus berbenah dan menciptakan produk yang semakin matang. Sebagai calon pembeli, memahami konteks ini penting supaya kamu bisa membuat keputusan yang cerdas dan tidak sekadar terpengaruh oleh stereotip semata.