Di Indonesia, perbincangan tentang gadget sering kali terfokus pada smartphone — terutama segmen entry-level yang sangat beragam, mulai dari perangkat murah Rp1-2 jutaan sampai flagship terbaru. Sementara itu, ketika berbicara soal laptop, banyak pengguna merasa pilihan dan variasinya terasa lebih kurang tebal. Fenomena ini bukan sekadar persepsi semata, tetapi berakar pada sejumlah faktor struktural dan dinamika pasar sendiri.
Berbeda dengan smartphone yang punya market size besar dan siklus pergantian yang cepat, pasar laptop di Indonesia berkembang lebih lambat dan lebih tersegmen — khususnya di kelas harga tertentu. Artikel ini membahas 8 alasan utama yang menjelaskan fenomena tersebut, lengkap dengan implikasi bagi konsumen dan tren masa depan hingga 2026.
1. Perbedaan Ukuran Pasar dan Frekuensi Pembelian
Salah satu alasan paling mendasar pasar laptop kurang variatif dibanding smartphone adalah karena perbedaan ukuran pasar itu sendiri. Smartphone telah menjadi perangkat sehari-hari bagi hampir semua lapisan masyarakat, dari anak sekolah hingga orang lanjut usia — sehingga permintaan sangat tinggi di hampir semua segmen harga.
Konsumen smartphone cenderung mengganti perangkat setiap 2–3 tahun karena pengaruh fitur baru, kamera, atau tren media sosial. Sementara itu, laptop biasanya dibeli untuk penggunaan jangka panjang — bahkan bisa bertahan hingga 4–6 tahun.
Karena frekuensi pembelian yang lebih rendah dan siklus pakai lebih panjang, produsen cenderung tidak merilis model baru dengan cepat seperti di pasar smartphone. Hal ini secara otomatis mengurangi jumlah varian yang tersedia di pasar Indonesia dibanding smartphone.
2. Biaya Produksi dan Struktur Harga Laptop Lebih Tinggi
Struktur biaya laptop jauh berbeda dengan smartphone. Laptop memerlukan komponen yang lebih besar dan kompleks: layar besar, keyboard, sistem pendinginan, port konektivitas, baterai besar, serta komponen internal berkinerja tinggi. Ini membuat biaya produksi laptop sulit ditekan serendah smartphone murah.
Smartphone bisa diproduksi dengan biaya rendah dan jumlah besar, terutama di kelas entry-level, karena mesin produksi dapat lebih efisien dan banyak tindakan ekonomis lainnya dilakukan oleh vendor Android. Sedangkan laptop umumnya dijual mulai dari kisaran harga yang lebih tinggi karena tidak ada “subsidi silang” monetisasi seperti di OS Android.
Akibatnya, laporan harga laptop baru sering kali tidak turun ke level yang terlalu murah, sehingga pilihan di kelas sangat murah (misalnya di bawah Rp3-4 jutaan) sangat terbatas. Ini berbeda dengan smartphone Rp1 jutaan yang memiliki banyak pilihan beragam.
Baca juga : 8 Aplikasi Fitness Efektif untuk Pemula dan Pekerja Sibuk di 2026
3. Siklus Inovasi Laptop Lebih Lambat
Inovasi di ranah laptop memang terjadi, tetapi kecepatan perubahannya tidak secepat di smartphone. Smartphone terus menghadirkan fitur baru seperti kamera AI, konektivitas 5G, serta tampilan layar inovatif hampir setiap tahun. Sementara itu, laptop cenderung fokus pada peningkatan performa, daya tahan baterai, dan peningkatan spesifikasi tanpa perubahan desain yang spektakuler setiap generasi.
Hal ini bukan berarti laptop stagnan, tetapi kebutuhan pasar yang berbeda membuat inovasi di laptop lebih stabil dan evolutif daripada revolusioner, sehingga variasi model yang benar-benar baru pun tidak sebanyak di smartphone.
Selain itu, ekosistem laptop sangat tergantung pada segelintir produsen chip utama seperti Intel, AMD, dan Apple. Ini berbeda dengan smartphone yang punya lebih banyak variasi chipset dan strategi, sehingga persaingan dan variasi produk menjadi lebih dinamis.
4. Fokus Produsen pada Segmen Menengah–Atas
Strategi produksi laptop sering kali fokus pada kelas menengah hingga atas, bukan segmen sangat bawah. Produsen lebih tertarik pada margin yang lebih besar di segmen performa tinggi, laptop gaming, dan perangkat produktivitas profesional.
Misalnya, merek seperti ASUS, Lenovo, Acer, Dell, dan HP menempatkan banyak model mereka di segmen harga menengah hingga jauh di atas Rp10 jutaan, dengan model gaming, creator, dan bisnis profesional. Meski ada model entry, pilihan varian di kelas bawah tetap jauh lebih sedikit dibanding smartphone.
Hal ini kontras dengan smartphone Android di mana banyak merek masuk ke kelas bawah dengan strategi agresif dan volume tinggi. Selain itu, smartphone punya cara monetisasi lain (seperti aplikasi dan layanan langganan) yang tidak diterapkan di laptop.
5. Faktor Permintaan Konsumen yang Berbeda
Perilaku konsumen di Indonesia juga berbeda antara laptop dan smartphone. Banyak pengguna melihat smartphone sebagai perangkat utama yang harus selalu dimiliki, sedangkan laptop masih dianggap sebagai perangkat khusus untuk kerja, belajar, atau kreatif.
Survey menunjukkan pilihan laptop yang populer biasanya adalah merek luar negeri besar, dengan Asus, Acer, Lenovo, HP, Dell, hingga Apple paling dikenal konsumen. Variasi perangkat lokal atau entry-level relatif kecil dibanding jumlah variasi smartphone.
Karena permintaan laptop tidak sebesar smartphone, produsen pun cenderung mengeluarkan lebih sedikit varian untuk menghindari stok menganggur atau risiko finansial. Ketika pembelian smartphone sering merupakan keputusan impulsif atau gaya hidup, pembelian laptop lebih dipertimbangkan sebagai investasi jangka panjang.
6. Dominasi Merek Internasional di Pasar Laptop
Pasar laptop Indonesia sebagian besar didominasi oleh merek internasional seperti ASUS, Acer, HP, Lenovo, Dell, bahkan Apple. Meskipun ada merek baru seperti Infinix yang menambah variasi, dominasi brand besar membuat variasi model tidak se-fragmentasi smartphone.
Smartphone memiliki banyak merek lokal dan global dari berbagai negara yang bersaing di semua segmen harga — mulai smartphone Rp1 jutaan hingga flagship. Sementara itu, segmentasi laptop cenderung dipenuhi nama-nama besar yang bermain di kategori menengah sampai premium.
Kondisi ini membuat pilihan laptop terasa “kurang banyak”, terutama jika dibandingkan dengan jumlah model smartphone di marketplace yang hampir setiap minggu muncul dengan variasi ciri khas masing-masing.
7. Absennya Subsidi atau Program Massal untuk Laptop Murah
Ketika pandemi COVID-19 terjadi, banyak program bantuan pendidikan di berbagai negara memfokuskan pada smartphone murah atau kuota data bagi pelajar, dan bukan laptop. Permintaan laptop murah massal melalui program pemerintah atau bisnis lainnya relatif sedikit di Indonesia.
Akibatnya, tidak muncul gelombang produksi laptop murah masif di segmen paling bawah seperti yang terjadi pada smartphone. Laptop dengan harga sangat rendah (misalnya Rp1 jutaan) hampir tidak tersedia, karena biaya produksi dan strategi bisnis produsen membuat skenario tersebut tidak menarik secara komersial.
Tanpa tekanan pasar atau dukungan program subsidized mass production, produsen relatif enggan memproduksi banyak varian laptop murah yang benar-benar terjangkau.
8. Tren Pasar Laptop yang Tumbuh, Tetapi Lebih Stabil
Meskipun variasi terasa kurang, bukan berarti pasar laptop Indonesia stagnan. Laporan riset menunjukkan pasar PC dan laptop Indonesia masih tumbuh, bahkan naik sekitar 8,8% dari tahun sebelumnya dengan pengiriman jutaan unit per tahun. ASUS, Lenovo, dan Acer tetap menjadi pemain utama dengan pangsa pasar puluhan persen.
Tren ini menunjukkan bahwa permintaan laptop tetap sehat, tetapi pertumbuhan tidak seagresif smartphone. Siklus upgrade perangkat yang lebih panjang membuat permintaan tidak begitu fluktuatif, yang pada gilirannya membuat produsen tidak terdorong untuk merilis varian terlalu cepat.
Penutup
Variasi pasar laptop Indonesia yang terasa kurang banyak dibanding smartphone memiliki banyak faktor penyebab — mulai dari struktur biaya produksi yang tinggi, perilaku konsumen yang berbeda, dominasi merek internasional, hingga strategi pasar yang lebih stabil dan konservatif. Kondisi ini bukan sekadar masalah persepsi, tetapi mencerminkan dinamika industri elektronik yang berbeda antara dua jenis perangkat ini.
Meskipun begitu, pasar laptop tetap tumbuh secara bertahap dan menunjukkan tren positif. Jika permintaan konsumen semakin beragam dan akses terhadap teknologi makin merata, bukan tidak mungkin ke depan akan muncul lebih banyak varian laptop yang sesuai dengan kebutuhan semua segmen — mulai dari pelajar hingga profesional.