Pembangunan Kabel Laut Raksasa di Indonesia: 8 Fakta yang Wajib Kamu Tahu

Perkembangan infrastruktur digital Indonesia terus mengalami percepatan signifikan, salah satunya melalui pembangunan jaringan kabel laut raksasa yang kini tengah digelar. Kabel bawah laut atau submarine cable bukan sekadar kabel optik biasa — ini adalah tulang punggung internet modern yang memastikan konektivitas cepat dan stabil antarnegara serta antarpulau di Indonesia.

Proyek terbaru yang sedang berlangsung adalah SKKL Rising 8, sebuah sistem komunikasi kabel laut berkapasitas ultra tinggi yang digarap oleh perusahaan telekomunikasi nasional bersama mitra strategisnya. Proyek ini bukan hanya soal menyambungkan titik A ke B, tetapi juga tentang menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam peta konektivitas digital regional dan global.

Berikut kami rangkum 8 fakta penting tentang pembangunan kabel laut raksasa di Indonesia yang perlu kamu ketahui.

1. Apa Itu Kabel Laut dan Kenapa Penting?

Kabel laut atau submarine cable adalah kabel fiber optik yang ditanam di dasar laut untuk menghubungkan jaringan internet antarpulau dan antarnegara. Meski internet sering diasosiasikan dengan sinyal nirkabel seperti 4G atau Wi-Fi, faktanya lebih dari 95% trafik data global melewati kabel bawah laut karena kapasitas, kecepatan, dan kestabilannya jauh lebih unggul dibanding satelit.

Tanpa kabel laut, koneksi internasional akan bergantung pada satelit yang memiliki latensi lebih tinggi dan kapasitas terbatas. Itulah kenapa pembangunan kabel laut seperti SKKL Rising 8 menjadi tolok ukur kemajuan infrastruktur digital suatu negara.

2. SKKL Rising 8: Kabel Laut yang Sedang Digelar Sekarang

Salah satu proyek kabel laut yang sedang digeber di awal 2026 adalah SKKL Rising 8, yang dikelola oleh PT Ketrosden Triasmitra Tbk bersama PT Mora Telematika Indonesia Tbk.

Proyek ini difokuskan pada segmen Jakarta–Batam–Singapura, dengan panjang kabel mencapai lebih dari 1.128 kilometer. Tahap awal segmen Jakarta–Batam sendiri sekitar 1.053 kilometer, yang ditargetkan selesai pada kuartal I tahun 2026.

Penggelaran dilakukan menggunakan kapal penggelar kabel laut (Cable Laying Vessel atau CLV) bernama Bentang Bahari, sebuah kapal berbendera Indonesia yang didesain khusus untuk proyek berskala besar semacam ini.

Baca juga  :  Bagaimana NLP Membantu Deteksi Hoaks? Ini 7 Mekanismenya

3. Kapasitas Ultra Tinggi Hingga 400 Tbps

SKKL Rising 8 bukan kabel laut biasa — sistem ini dirancang dengan kapasitas ultra tinggi mencapai 400 Terabit per detik (Tbps).

Untuk konteksnya, angka 400 Tbps setara dengan mampu mengalirkan data dalam jumlah luar biasa besar secara bersamaan. Ini sangat penting mengingat lonjakan permintaan bandwidth akibat pertumbuhan pengguna internet, layanan cloud, streaming, video conference, hingga teknologi kecerdasan buatan yang semakin intensif memerlukan data.

Kapasitas ini diperkuat oleh reaktor (repeater) berteknologi tinggi yang dipasang sepanjang kabel untuk memperkuat sinyal data di kedalaman laut.

4. Teknologi dan Mitra Internasional dalam Kabel Laut

Proyek SKKL Rising 8 memanfaatkan teknologi dan komponen dari perusahaan global. Kabel bawah laut yang dipasang diproduksi oleh Norddeutsche Seekabelwerke GmbH (NSW) dari Jerman, yang merupakan bagian dari grup Prysmian — produsen kabel bawah laut terkenal dengan pengalaman lebih dari satu abad.

Selain itu, sistem ini diperkuat dengan 11 unit repeater buatan Alcatel Submarine Networks (ASN) dari Prancis yang mendukung 16 pasang serat optik (fiber pairs) dengan masing-masing memiliki kapasitas besar hingga 25 Tbps.

Kolaborasi global ini menunjukkan bahwa meskipun proyek dijalankan oleh entitas nasional, kualitas teknologi kabel laut masih bergantung pada standar internasional demi performa yang kompetitif.

5. Target Penyelesaian dan Tahapan Proyek

Tahap awal pembangunan Rising 8, yang menghubungkan Jakarta dan Batam, ditargetkan rampung pada akhir kuartal I tahun 2026.

Setelah tahap ini, proyek akan terus dikembangkan untuk mencakup wilayah lain, termasuk pengembangan kabel laut sepanjang ribuan kilometer yang menghubungkan kawasan Indonesia tengah. Target komersialisasi tahap lanjutan diperkirakan terjadi pada tahun 2027.

Dengan tahapan jelas dan dukungan pemerintah, proyek ini menunjukkan komitmen jangka panjang untuk membangun kapasitas infrastruktur digital nasional yang makin kuat.

6. Dukungan Pemerintah dan Regulasi Lingkungan

Proyek kabel laut seperti SKKL Rising 8 bukan hanya soal teknologi dan bisnis, tetapi juga soal regulasi dan kepatuhan lingkungan. SKKL telah mengantongi semua izin yang dibutuhkan, termasuk Izin Lingkungan (AMDAL), yang memastikan dampak ekologis terhadap laut dan pesisir sudah diperhitungkan dengan matang.

Tak hanya itu, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital memberikan dukungan penuh karena proyek ini dianggap sebagai bagian penting dari kedaulatan digital nasional dan penguatan posisi Indonesia dalam jaringan konektivitas global.

Dengan pengawasan ketat di setiap tahap penggelaran kabel, proyek ini berupaya meminimalkan risiko terhadap biota laut, jalur pelayaran, dan habitat pesisir, sekaligus mematuhi standar lingkungan internasional.

7. Dampak Langsung bagi Kecepatan dan Stabilitas Internet

Salah satu manfaat paling nyata dari pembangunan kabel laut berkapasitas tinggi adalah peningkatan kecepatan dan stabilitas internet bagi masyarakat, pelaku bisnis, lembaga pendidikan, hingga layanan publik.

Dengan terhubung langsung ke jaringan internasional seperti Singapura yang menjadi salah satu simpul utama internet Asia Tenggara, akses data ke berbagai konten global akan menjadi lebih cepat dan latensi (delay) semakin rendah dibanding jalur satelit.

Hal ini penting bukan hanya untuk pengalaman pengguna biasa seperti streaming dan gaming, tetapi juga untuk layanan yang lebih kompleks seperti konferensi video lintas negara, layanan cloud, dan aplikasi internet berbasis real-time yang semakin umum digunakan.

8. Peran Kabel Laut dalam Kemandirian Digital Indonesia

Lebih jauh, kabel laut berkapasitas tinggi bukan sekadar menguatkan jaringan internet, tetapi juga merupakan fondasi kemandirian digital Indonesia.

Dengan infrastruktur yang kuat dan terhubung langsung ke pusat-pusat jaringan global, Indonesia tidak lagi sepenuhnya tergantung pada rute kabel internasional melalui negara lain. Ini artinya kontrol jaringan dan data semakin kuat di tangan nasional, serta membuka peluang komersial baru bagi penyedia layanan digital dalam negeri.

Selain itu, Indonesia bisa menempatkan dirinya sebagai titik penting di jaringan konektivitas regional, menarik investasi teknologi, serta memperkuat potensi ekonomi digital di era industri 4.0.

Penutup: Era Baru Konektivitas Digital Indonesia

Pembangunan kabel laut raksasa seperti SKKL Rising 8 menandai babak baru dalam sejarah konektivitas digital Indonesia. Proyek ini tidak hanya soal kabel dan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana sebuah negara mempersiapkan dirinya menghadapi masa depan digital yang kompetitif dan terkoneksi.

Dengan kapasitas ultra tinggi, dukungan teknologi global, serta komitmen terhadap regulasi dan lingkungan, kabel bawah laut ini berpotensi menjadi pengubah wajah internet Indonesia — dari pengalaman individu sehari-hari hingga pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Internet bukan lagi barang mewah atau sekadar kemudahan akses. Dengan infrastruktur seperti ini, Indonesia bergerak menuju era di mana koneksi cepat, stabil, dan merata menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di seluruh Nusantara.