Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) melaju sangat cepat dan nyaris tak terbendung. Dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga kehidupan keagamaan, AI mulai menjadi “mitra” manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan. Namun di balik kecanggihan itu, muncul kegelisahan serius: apakah manusia masih menjadi subjek, atau justru perlahan berubah menjadi objek teknologi?
Kegelisahan inilah yang disuarakan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah di Jakarta pada 24 Januari 2026. Di hadapan jamaah dan publik yang menyaksikan secara daring, Mu’ti menyampaikan pesan penting: umat Islam—termasuk Muhammadiyah—tidak boleh tertinggal dari perkembangan teknologi, tetapi juga tidak boleh tercerabut dari akar tradisi, nilai, dan spiritualitas.
Menurut Mu’ti, AI adalah alat yang luar biasa canggih. Namun bila digunakan tanpa kesadaran etis dan kedalaman nilai, AI justru berpotensi melahirkan manusia yang pintar secara intelektual, tetapi kosong secara batin. “Cerdas di kepala, tapi kosong di hati,” itulah frasa yang menjadi penanda kegelisahannya.
AI dan Tantangan Zaman: Antara Kebutuhan dan Ketergantungan
Abdul Mu’ti tidak menolak teknologi. Justru sebaliknya, ia menegaskan bahwa Muhammadiyah harus aktif merespons perkembangan teknologi informasi, termasuk AI. Di era digital, menutup diri dari teknologi sama saja dengan mengasingkan diri dari realitas zaman.
Namun, Mu’ti mengingatkan bahwa keterbukaan terhadap teknologi harus disertai kesadaran filosofis dan spiritual. Teknologi tidak boleh berdiri di ruang hampa nilai. Jika AI diposisikan sebagai sumber kebenaran mutlak, maka manusia berisiko kehilangan daya refleksi, daya kritis, dan kedalaman makna hidup.
Dalam konteks ini, Mu’ti menekankan pentingnya mengontekstualkan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan modern. Bukan menjadikan AI sebagai pengganti wahyu, tetapi sebagai alat bantu untuk memahami realitas secara lebih luas. Tradisi keilmuan Islam, menurutnya, selalu membuka dialog antara teks dan konteks, antara wahyu dan akal.
Masalah muncul ketika teknologi tidak lagi menjadi alat, melainkan menjadi penentu. Saat manusia mulai bergantung sepenuhnya pada AI untuk berpikir, merasakan, bahkan mengambil keputusan moral, di situlah bahaya sebenarnya mengintai.
Kecanggihan AI dan Batas-Batasnya
Dalam pemaparannya, Abdul Mu’ti mengakui bahwa AI memiliki kemampuan luar biasa dalam menjelaskan banyak aspek kehidupan manusia. AI mampu memproses data dalam jumlah masif, menganalisis pola kompleks, dan memberikan jawaban cepat atas berbagai persoalan.
Ia mencontohkan bagaimana AI dapat menjelaskan penyebab penyakit seperti kanker dengan sangat detail dan cepat. Dari faktor genetik, lingkungan, hingga gaya hidup, AI bisa menyusun penjelasan ilmiah yang komprehensif. Namun, menurut Mu’ti, ada batas yang tidak bisa dilampaui oleh AI.
“AI tidak akan bisa melakukan riset tentang bagaimana menyembuhkan kanker,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan berarti AI tidak berguna dalam dunia medis, melainkan menegaskan bahwa pengetahuan berbasis data tidak selalu identik dengan kebijaksanaan, kreativitas, dan empati manusia. Proses penyembuhan tidak hanya soal data dan algoritma, tetapi juga soal nilai kemanusiaan, kepekaan etis, dan keberanian mengambil risiko ilmiah.
AI, pada akhirnya, bekerja berdasarkan pola masa lalu. Ia tidak memiliki intuisi, nurani, dan pengalaman eksistensial seperti manusia. Di sinilah batas fundamental antara kecerdasan buatan dan kecerdasan manusia.
Baca juga : Cara Pakai Workout Buddy pada Apple Watch dan iOS 26: Asisten AI yang Bikin Olahraga Lebih Hidup
Head, Hand, dan Heart: Kerangka Pendidikan Abad ke-21
Salah satu gagasan penting yang disampaikan Abdul Mu’ti adalah konsep head, hand, and heart dalam pendidikan abad ke-21. Menurutnya, manusia ideal bukan hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga terampil dan memiliki kedalaman moral.
Head berkaitan dengan kemampuan kognitif dan metakognitif—berpikir, menganalisis, dan merefleksikan. Hand berkaitan dengan keterampilan, baik yang bersifat konvensional maupun dinamis. Sementara heart berkaitan dengan empati, nilai, spiritualitas, dan kepekaan sosial.
Masalahnya, menurut Mu’ti, AI hanya beroperasi pada wilayah head. AI mungkin bisa meniru sebagian keterampilan (hand), tetapi ia sama sekali tidak memiliki heart. Ia tidak bisa merasakan penderitaan, empati, cinta, atau makna hidup.
Ketika pendidikan terlalu bergantung pada AI, ada risiko besar bahwa aspek heart justru terpinggirkan. Peserta didik mungkin menjadi sangat pintar secara teknis, tetapi miskin empati dan kehilangan arah moral. Pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia justru berpotensi melahirkan generasi yang teralienasi dari dirinya sendiri.
Ketergantungan AI dan Risiko Kemanusiaan
Abdul Mu’ti secara tegas memperingatkan bahaya kecanduan dan ketergantungan terhadap AI. Ketika AI selalu menjadi rujukan utama, manusia bisa kehilangan kepercayaan pada kemampuan berpikir dan merasakan dirinya sendiri.
Ketergantungan ini tidak hanya terjadi pada aspek akademik atau pekerjaan, tetapi juga merambah ranah psikologis dan emosional. Mu’ti menyinggung sebuah kasus tragis di Amerika Serikat sebagai contoh ekstrem dari dampak ketergantungan ini.
Ia menceritakan tentang seorang remaja berusia 15 tahun yang jatuh cinta pada AI, dalam hal ini ChatGPT. Ketika AI tersebut mengatakan tidak bisa membalas cintanya, sang remaja mengalami keputusasaan mendalam hingga akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.
Kisah ini, meskipun terdengar ekstrem, menjadi alarm keras tentang bagaimana teknologi bisa memengaruhi kondisi psikologis manusia, terutama generasi muda. AI yang seharusnya menjadi alat bantu justru berubah menjadi objek relasi emosional yang semu dan rapuh.
Krisis Relasi di Era Digital
Kasus yang disampaikan Abdul Mu’ti mencerminkan krisis relasi di era digital. Banyak manusia modern mengalami kesepian, keterasingan, dan kekosongan makna. Dalam kondisi seperti ini, teknologi—termasuk AI—sering kali menjadi pelarian.
Namun relasi dengan AI adalah relasi satu arah. AI tidak benar-benar hadir sebagai subjek yang merasakan. Ketika manusia menggantungkan harapan emosional pada sesuatu yang tidak memiliki hati, kekecewaan menjadi tak terhindarkan.
Di sinilah pentingnya membangun literasi digital yang tidak hanya teknis, tetapi juga etis dan spiritual. Manusia perlu diajarkan untuk memahami batas antara alat dan relasi, antara teknologi dan kemanusiaan.
Muhammadiyah dan Tanggung Jawab Moral Menghadapi AI
Sebagai organisasi Islam modern, Muhammadiyah memiliki posisi strategis dalam merespons perkembangan AI. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa penguasaan teknologi adalah keharusan, tetapi harus disertai tanggung jawab moral.
Muhammadiyah, dengan tradisi tajdid dan ijtihadnya, diharapkan mampu merumuskan pendekatan keislaman yang kritis terhadap teknologi. AI bisa dimanfaatkan untuk dakwah, pendidikan, riset, dan pelayanan sosial, tetapi tetap harus berada dalam kerangka nilai Islam yang menempatkan manusia sebagai pusat.
Penguasaan teknologi tanpa nilai hanya akan melahirkan peradaban yang kering secara spiritual. Sebaliknya, nilai tanpa pemahaman teknologi akan membuat umat tertinggal dan terpinggirkan.
Penutup: Menguasai Teknologi Tanpa Kehilangan Kemanusiaan
Pesan Abdul Mu’ti tentang AI sejatinya bukan sekadar kritik terhadap teknologi, melainkan seruan untuk kembali meneguhkan jati diri manusia. AI boleh canggih, cepat, dan pintar, tetapi ia tetap tidak memiliki hati.
Manusia harus tetap menjadi makhluk yang berpikir, bekerja, dan merasa. Head, hand, dan heart harus berjalan seimbang. Teknologi harus dikuasai, bukan disembah. Digunakan, bukan menggantikan.
Di tengah gelombang AI yang semakin kuat, peringatan ini menjadi sangat relevan. Jika tidak berhati-hati, manusia bisa menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin makna dan empati. Dan pada titik itulah, kemajuan teknologi justru berubah menjadi kemunduran kemanusiaan.