Dear Algo: Ketika Kamu Bisa “Bicara” ke Algoritma Threads dan Mengatur Feed Sesuai Selera

Dalam era media sosial, algoritma sering kali jadi misteri yang bikin penggunanya heran sendiri. Kadang kamu buka aplikasi tapi yang muncul bukan konten favorit, malah topik yang bikin scrolling nggak berujung dan cepat bosan. Hal ini juga dialami oleh jutaan pengguna Threads, platform jejaring sosial yang dikembangkan oleh Meta. Setelah banyak kritik dan meme yang beredar soal algoritma bawaannya, Meta akhirnya merespons kebutuhan itu dengan memperkenalkan fitur anyar bernama “Dear Algo” — sebuah cara simpel di mana pengguna bisa secara langsung memberi tahu algoritma apa yang ingin mereka lihat atau tidak ingin lihat di linimasa mereka.

Fitur ini bukan sekadar gimmick. Ia merupakan langkah nyata menuju personalisasi linimasa secara langsung oleh pengguna, bukan hanya lewat preferensi pasif atau interaksi yang tersembunyi di balik layar. Dengan fitur ini, Threads mencoba mengubah algoritma dari “kotak hitam yang misterius” menjadi sesuatu yang bisa dikendalikan bahkan oleh pengguna awam sekalipun. Kalimat sederhana seperti “Dear algo, show me more posts about podcasts” bisa jadi sinyal kuat kepada sistem untuk memprioritaskan konten yang sesuai minat kamu.

Artikel ini akan membahas secara komprehensif apa itu Dear Algo, bagaimana cara kerjanya, alasan fitur ini lahir, implikasinya terhadap pengalaman pengguna, serta dampaknya bagi masa depan personalisasi di media sosial. Yuk kita bahas semua secara mendalam!

Dari Meme ke Fitur Resmi: Kisah Unik “Dear Algo”

Awalnya, fitur ini muncul bukan dari riset pasar atau survei formal, tapi dari komunitas pengguna itu sendiri. Sejak peluncuran Threads beberapa waktu lalu, banyak pengguna yang mengeluhkan algoritma rekomendasi linimasa yang sering kali menampilkan hal yang kurang relevan dengan minat mereka. Keluhan ini lalu berkembang menjadi tren lucu, di mana banyak orang membuat unggahan bercanda yang secara eksplisit berbicara kepada algoritma, layaknya sedang menulis surat: “Dear algorithm…”.

Meme ini jadi viral dan menunjukkan bahwa pengguna sebenarnya punya keinginan untuk punya kendali lebih terhadap apa yang mereka lihat. Meta kemudian mengambil fenomena ini sebagai peluang dengan menjadikannya fitur resmi. Inti dari Dear Algo sangat sederhana: pengguna mengetik postingan publik yang diawali dengan frasa “Dear Algo”, lalu menyusul permintaan atau preferensi konten yang diinginkan. Unggahan ini kemudian akan diproses sistem agar feed pengguna mencerminkan apa yang mereka minta.

Tidak hanya itu, permintaan bisa berkisar dua arah — kamu bisa meminta lebih banyak konten tentang suatu topik, tetapi kamu juga bisa mengatakan bahwa kamu ingin melihat lebih sedikit konten tertentu. Misalnya, “Dear algo, stop showing me political posts”. Cara ini memberikan sinyal berbeda yang memengaruhi algoritma secara sementara. Meta memutuskan semua pengaturan ini berlaku selama tiga hari, sehingga pengguna bisa mendapatkan pengalaman feed yang segar dan reflektif terhadap minat mereka saat itu.

Baca juga  :  Ekstensi Chrome yang Wajib Dipunya Penulis: Bikin Nulis Gak Ribet Lagi

Cara Kerja Dear Algo di Threads

Kalau kita bicara soal fitur algoritma, kebanyakan platform media sosial membatasi pengguna hanya lewat tombol like, follow, atau pilihan not interested. Dengan Dear Algo, Threads mengambil pendekatan yang jauh lebih eksplisit dan intuitif.

Untuk menggunakan fitur ini, pengguna hanya perlu membuat posting publik di Threads yang diawali dengan frasa:

Dear Algo, …

Lalu setelahnya dijelaskan preferensi konten mereka. Misalnya:

Dear Algo, show me more posts about indie games and less about TV spoilers.

Unggahan seperti ini akan langsung menjadi sinyal bagi sistem rekomendasi Threads untuk menyesuaikan konten yang muncul di feed kamu. Sesederhana itu. Prosesnya mirip berbicara langsung ke “otak” algoritma.

Ketika permintaan sudah dikirim, Threads akan memberitahukan pengguna bahwa feed mereka akan berubah sesuai permintaan itu, dan perubahan ini akan bertahan selama tiga hari. Setelah tiga hari, preferensi tersebut akan hilang dan feed akan kembali ke standar rekomendasi algoritmik biasa, kecuali jika pengguna membuat permintaan baru. Waktu tiga hari sengaja dipilih Meta sebagai durasi yang cukup untuk mencerminkan minat pengguna, sekaligus menjaga feed tetap dinamis dan tidak mentok pada satu pola saja.

Meta juga mengizinkan pengguna untuk memantau semua permintaan Dear Algo mereka melalui menu pengaturan aplikasi. Ini berarti kamu bisa melihat permintaan mana yang aktif, meninjaunya, atau bahkan menghapusnya jika sudah tidak relevan lagi. Selain itu, pengguna juga dapat mengunggah ulang (repost) permintaan Dear Algo milik pengguna lain. Hal ini menjadi cara tak langsung untuk adopsi preferensi serupa tanpa harus mengetik ulang sendiri.

Kenapa Fitur Ini Penting: Balik Kontrol ke Pengguna

Dalam banyak platform media sosial, kontrol terhadap pengalaman pengguna sering kali ditentukan oleh algoritma secara otomatis. Algoritma itu sendiri didesain untuk memaksimalkan waktu yang dihabiskan di aplikasi, bukan selalu untuk menunjukkan konten yang benar-benar paling relevan sesuai preferensi setiap individu. Kebanyakan pendekatan tradisional menggunakan sinyal seperti interaksi, klik, dan waktu menonton, yang artinya sistem menyimpulkan minat pengguna dari perilaku mereka, bukan dari pernyataan langsung.

Dengan hadirnya Dear Algo, Threads mengambil pendekatan berbeda: memberi pengguna suara eksplisit dalam menentukan isi linimasa mereka. Ini memberikan rasa kontrol yang sering kali hilang dalam pengalaman media sosial modern. Ketika kamu bisa secara langsung bilang apa yang ingin kamu lihat lebih atau kurang, kamu punya pengalaman yang jauh lebih personal dan sesuai dengan keinginanmu saat itu, bukan hanya interpretasi mesin dari tindakanmu sebelumnya.

Pendekatan seperti ini berpotensi membuat pengalaman pengguna jadi lebih relevan dan menyenangkan. Misalnya, saat ada event besar seperti pertandingan olahraga, konser, atau konferensi teknologi, kamu bisa sementara memberi tahu algoritma agar lebih banyak memunculkan konten terkait event itu. Begitu event selesai, permintaan itu kadaluarsa dan feed kembali segar. Itu jauh lebih fleksibel dibandingkan algoritma yang hanya belajar dari interaksi lama.

Kelebihan Dear Algo Dibandingkan Kontrol Algoritma Lainnya

Sebelum fitur ini, pengguna biasanya hanya punya beberapa cara terbatas untuk memberi sinyal preferensi mereka: mengikuti akun tertentu, suka atau komentar pada konten tertentu, atau klik tombol not interested. Sementara itu, pendekatan algoritma tetap sebagian besar otomatis dan tidak transparan, membuat banyak pengguna merasa seperti penumpang tanpa kendali di dalam sistem.

Dear Algo mengubah cara ini secara radikal. Alih-alih sekadar bereaksi terhadap apa yang sudah kamu lihat, kamu bisa secara proaktif meminta apa yang kamu mau lihat, layaknya memberi instruksi kepada asisten digital yang mendengarkan dan merespons secara langsung. Ini bukan sekadar sinyal tak terlihat di balik tindakan, tapi pernyataan eksplisit yang mudah dipahami sistem AI sebagai aturan sementara.

Selain itu, keterbukaan permintaan — karena berupa posting publik — juga membawa dimensi sosial yang menarik. Kamu bisa melihat apa yang diminta oleh pengguna lain, dan kalau dirasa cocok, kamu tinggal repost saja agar preferensi itu bekerja untuk akunmu. Ini mengubah sesinya dari sesuatu yang sangat pribadi menjadi pengalaman yang lebih sosial dan kolaboratif.

Keterbatasan dan Catatan Penting

Meskipun fitur ini sangat menarik, ada beberapa keterbatasan yang perlu dipahami pengguna:

Pertama, permintaan Dear Algo bersifat sementara, berlaku tiga hari saja. Ini dibuat sengaja agar feed tetap dinamis dan tidak terjebak di dalam satu pola minat yang konstan. Jika kamu ingin permintaan yang lebih panjang, kamu perlu memperbaruinya secara berkala.

Kedua, karena permintaan bersifat publik, detail preferensi kamu bisa terlihat oleh orang lain. Bagi sebagian pengguna yang mementingkan privasi, ini bisa jadi pertimbangan penting sebelum menulis permintaan Dear Algo mereka sendiri.

Ketiga, fitur ini baru tersedia di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Meta berencana untuk memperluas jangkauan ini ke lebih banyak wilayah secara bertahap, tapi untuk saat ini belum semua pengguna global bisa mengaksesnya.

Implikasi Bagi Media Sosial dan Personalization

Dear Algo bukan hanya sekadar fitur tambahan di Threads. Ia mencerminkan tren yang lebih luas dalam industri media sosial — yaitu pergeseran menuju transparansi dan kustomisasi yang lebih baik. Banyak pengguna kini mulai menyadari bahwa pengalaman mereka di media sosial bukan hanya soal jumlah konten, tapi soal kualitas relevansi konten yang ditampilkan.

Pendekatan semacam ini bisa menjadi tonggak penting bagi masa depan algoritma media sosial. Alih-alih hanya menunggu sistem otomatis membaca preferensi dari data tak terlihat, pengguna diberi suara langsung dalam menentukan apa yang mereka ingin lihat. Ini bisa meningkatkan rasa kepemilikan dan keterlibatan, sekaligus mengurangi friksi yang terjadi ketika algoritma “salah menebak” minat pengguna.

Kesimpulan: Fitur yang Membawa Ruang Bicara bagi Pengguna

Fitur Dear Algo adalah salah satu contoh nyata bagaimana sebuah tren komunitas bisa berkembang menjadi alat utama dalam platform. Ia bergerak dari sekadar meme dan kritik lucu menjadi fungsi yang secara resmi diintegrasikan oleh Meta untuk meningkatkan pengalaman pengguna dan personalisasi konten. Dengan kemampuan memberi tahu algoritma apa yang ingin kamu lihat atau tidak lihat, pengalaman media sosial jadi terasa lebih personal, responsif dan relevan.

Walaupun fitur ini punya keterbatasan, seperti durasi tiga hari dan sifatnya yang publik, Dear Algo tetap memberikan suara kepada pengguna di tengah dominasi algoritma otomatis. Ini membuka kemungkinan lebih luas bahwa di masa depan, pengguna media sosial tidak hanya menjadi penonton algoritma, tetapi juga memiliki peran aktif dalam merancang pengalaman digital mereka sendiri.

Kalau tren ini terus berkembang, bukan tidak mungkin kita akan melihat fitur serupa hadir di platform lain juga, di mana algoritma bukan lagi misteri yang harus ditafsirkan, tapi sesuatu yang bisa dibicarakan secara langsung oleh pengguna.