5 Sistem Pengecasan Cepat dari Tiap Merek HP dan Teknologi di Baliknya

Ponsel pintar masa kini sudah bukan hanya sekadar alat komunikasi — ia sudah menjadi perangkat utama dalam keseharian kita. Karena itu, baterai jadi salah satu komponen paling krusial. Kapasitas baterai bisa besar, tapi tanpa teknologi fast charging (pengecasan cepat), proses mengisi ulang bisa terasa lambat 🐌. Untungnya, berbagai produsen smartphone kini hadir dengan sistem pengecasan cepat masing-masing, terkadang punya nama dan teknologi yang berbeda. Sistem ini tak hanya soal “lebih cepat”, tapi juga soal bagaimana baterai tetap aman dan tahan lama saat diisi dalam tempo singkat.

Artikel ini akan merinci sistem pengecasan cepat dari berbagai merek HP populer — mulai dari Xiaomi, vivo, OPPO, realme, sampai Samsung — lengkap dengan teknologi, keunggulan, dan perbedaannya. Mari kita bahas satu per satu supaya kamu paham perbedaan dan kelebihan masing-masing!

1. Xiaomi HyperCharge: Ngecas Super Cepat Hingga 120 Watt

Xiaomi termasuk merk yang agresif dalam pengembangan teknologi baterai dan pengecasan. Sistem pengecasan cepat andalannya adalah Xiaomi HyperCharge, yang mampu memberikan daya sangat tinggi, mencapai 120 watt, bahkan pada beberapa purwarupa bisa melampaui itu.

Dengan output sebesar itu, beberapa model HP Xiaomi seperti 11T Pro dan 11i HyperCharge bisa mengisi baterai 5000 mAh dari kosong hingga penuh hanya dalam waktu sekitar 17 menit saja — angka yang dulu dianggap mustahil. Teknologi ini bekerja dengan cara memaksimalkan arus listrik yang masuk, dan biasanya membutuhkan adaptor charger dan kabel khusus yang mendukung watt besar tersebut. Huawei pun sedang bereksperimen dengan sistem serupa pada purwarupa mereka yang bisa sampai 300 W, meskipun belum dipasarkan secara luas.

Keunggulan HyperCharge adalah kecepatan ekstremnya dan kemampuan mengisi sampai 50 % dalam hitungan menit, sementara kekurangannya adalah ketergantungan pada charger/kabel resmi yang mendukung protokol tersebut. Jika memakai charger pihak ketiga yang tidak kompatibel, kecepatan pengecasan bisa turun drastis.

Singkatnya, Xiaomi menawarkan pengalaman pengecasan yang sangat cepat terutama bagi pengguna yang sering butuh “top-up” daya dalam waktu singkat — misalnya tengah bepergian atau memiliki aktivitas padat seharian.

2. vivo FlashCharge: Sistem Fleksibel Sampai 200 Watt

Berbeda dengan Xiaomi, vivo memilih pendekatan sistem pengecasan cepat yang cukup fleksibel lewat teknologi mereka yang dinamakan vivo FlashCharge.

FlashCharge tidak hanya hadir dalam satu varian daya saja, melainkan beragam output: dari 44 W, 80 W, 90 W, hingga beberapa versi yang mendukung sampai 200 W. Yang menarik, teknologi ini sudah diaplikasikan di beberapa model HP vivo dan sub-brand seperti iQOO.

Teknik yang digunakan vivo pada dasarnya sama dengan pendekatan pengecasan cepat modern: pakai arus tinggi dengan pengaturan voltase yang efisien sehingga baterai bisa diisi lebih cepat tanpa menghasilkan panas berlebihan. Ini mirip prinsip yang juga diterapkan pada sistem VOOC/Flash di OPPO, karena kedua merek masih berada di bawah perusahaan induk yang sama, BBK Electronics.

Kelebihan FlashCharge adalah kompatibilitasnya yang cukup luas di lini vivo dan iQOO, ditambah variasi watt yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna — baik yang hanya ingin fast charging biasa atau ultra-speed untuk flagship. Kekurangannya, seperti biasa, adalah ketergantungan pada charger resmi vivo agar bisa mencapai output maksimal.

Baca juga  :  Kacamata Pintar Ray-Ban Meta Melejit: Penjualan Melonjak Tiga Kali Lipat di 2025

3. OPPO SUPERVOOC: Evolusi VOOC Menuju 240 W

Siapa yang tidak kenal OPPO? Merek ini jadi salah satu pionir dalam teknologi fast charging karena mereka mengembangkan teknologi VOOC (Voltage Open Loop Multi-step Constant-Current Charging) sejak 2014. Sejak itu, VOOC terus berevolusi menjadi SuperVOOC yang punya kecepatan sangat tinggi.

Awalnya, VOOC hadir dengan kecepatan sekitar 20 W. Namun dalam perkembangannya, OPPO mengembangkan versi SuperVOOC yang bisa mencapai 80 W bahkan sampai 240 W di purwarupa, meskipun unit komersial umum yang bisa dibeli masyarakat biasanya berada di kisaran 45 W hingga 80 W.

Teknologi SuperVOOC menggunakan pendekatan arus tinggi dan tegangan konstan untuk mengurangi panas berlebih dan memasukkan energi ke baterai dengan efisien. Selain itu, SuperVOOC sering dipasangkan dengan baterai dual-cell, sehingga pembagian arus bisa dilakukan secara paralel untuk percepatan pengisian.

Keunggulan utama SuperVOOC adalah kombinasi kecepatan tinggi dan kestabilan suhu saat pengisian. Karena itu, SuperVOOC sering dipilih pada model-model flagship OPPO dan juga perangkat OnePlus (di branding Warp Charge). Walaupun demikian, tetap perlu charger dan kabel resmi agar mendapatkan kecepatan maksimal.

4. realme SuperDART: Fast Charging dari BBK yang Meningkat

realme pada awalnya menggunakan teknologi yang cukup sederhana dibanding saudaranya OPPO atau vivo. Namun dalam beberapa tahun terakhir, realme mengembangkan sistem pengecasan cepat bernama SuperDART.

Sistem ini bisa mencapai output antara 33 W, 45 W sampai 65 W, tergantung model perangkatnya. SuperDART pada dasarnya adalah versi lebih modern dari fast charging konvensional, yang berfokus pada kecepatan pengisian tanpa memaksakan voltase terlalu tinggi.

Mirip dengan teknologi BBK lain, SuperDART menggunakan USB Type-C sebagai media koneksi dan bekerja optimal jika memakai charger dan kabel yang sesuai. realme juga sedang melakukan penelitian untuk mengembangkan sistem hingga 300 W, mirip usaha yang dilakukan OPPO atau Xiaomi.

Kelebihan SuperDART adalah kelebihan keseimbangan antara kecepatan dan harga, membuatnya sering ditemukan di kelas menengah sampai flagship realme. Ini cocok bagi pengguna yang menginginkan fast charging memadai tanpa perlu investasi charger ultra-mahal.

5. Samsung Fast Charging: Sedikit Lebih Sederhana tapi Stabil

Samsung tidak punya nama khusus yang “rame” seperti HyperCharge atau SuperVOOC. Mereka lebih memilih branding sederhana Samsung Fast Charging untuk teknologi pengecasan cepat pada ponsel-ponsel Galaxy mereka.

Sistem ini biasanya hadir dalam dua varian utama: 15 W, 25 W dan 45 W — tergantung modelnya. Beberapa perangkat premium terbaru bahkan mendukung Fast Charging sampai 60 W sebagaimana laporan spekulasi tentang Samsung Galaxy S26 Ultra.

Berbeda dari sistem proprietary buatan pabrikan lain, Samsung lebih banyak mengandalkan USB Power Delivery (PD) atau adaptasi dari Quick Charge untuk mendukung kecepatan pengisian. PD adalah standar universal yang dipakai di banyak merk karena kompatibilitasnya yang luas.

Kekuatan Samsung adalah kestabilan dan kompatibilitas. Charger yang mendukung USB PD bisa digunakan pada berbagai perangkat lain — misalnya tablet atau laptop yang juga mendukung PD — meskipun tentu saja dengan tingkat kecepatan yang menyesuaikan masing-masing perangkat.

Mengapa Setiap Merek Punya Standar Berbeda?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: “Kenapa tidak ada satu standar fast charging yang berlaku di semua HP?”. Jawabannya sederhana: masing-masing produsen ingin mengoptimalkan teknologi pengisian sesuai karakter baterai, desain perangkat, dan strategi produk mereka.

Misalnya, standar universal seperti USB Power Delivery (USB-PD) memang bisa memberi daya tinggi sampai ratusan watt, tetapi teknologi proprietary seperti VOOC atau HyperCharge menawarkan keuntungan berupa pengaturan arus yang lebih agresif dan optimasi suhu yang sesuai dengan desain baterai serta casing perangkat tertentu.

Namun, hal ini juga berarti kompatibilitas antar merek tidak selalu sempurna. Charger dari Samsung yang mendukung PD mungkin hanya bisa ngecas HP OPPO dengan kecepatan standar USB-PD, tanpa memicu SuperVOOC. Begitu juga charger Xiaomi HyperCharge mungkin hanya optimal pada perangkat Xiaomi yang mendukung protokol tersebut.

Tips Memilih Charger Cepat yang Tepat

Karena banyaknya standar yang berbeda, memilih charger yang tepat perlu perhatian khusus agar kamu benar-benar mendapatkan fast charging sesuai kemampuan HPmu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Cek standar yang didukung HPmu — lihat buku manual atau situs resmi pabrikan apakah HPmu mendukung HyperCharge, SuperVOOC, FlashCharge, USB PD, atau lainnya.

Gunakan charger resmi atau yang bersertifikat — charger pihak ketiga bisa bekerja, tetapi agar aman dan optimal sebaiknya cari yang kompatibel dengan protokol HPmu.

Perhatikan kabelnya — kabel USB-C yang berkualitas baik bisa memengaruhi stabilitas arus dan tegangan saat ngecas.

Hindari charger terlalu besar bila tidak dibutuhkan — kalau HPmu hanya mendukung 25 W, memakai charger 120 W tidak akan serta-merta membuatnya lebih cepat — malah bisa mengakibatkan penurunan usia baterai bila tidak kompatibel.

Penutup: Fast Charging Bukan Sekadar Cepat, Tapi Juga Aman

Teknologi pengecasan cepat sekarang sudah menjadi salah satu fitur wajib pada ponsel masa kini — terutama bila kamu memiliki mobilitas tinggi dan sering membutuhkan pengisian ulang daya dengan cepat. Mulai dari Xiaomi HyperCharge yang ekstrem, vivo FlashCharge yang fleksibel, OPPO SuperVOOC yang stabil, hingga Samsung Fast Charging yang sederhana namun kompatibel, masing-masing membawa pendekatan berbeda untuk kebutuhan pengisian cepat.

Intinya sebelum membeli charger atau HP baru, pastikan kamu memahami standar pengecasan cepat yang didukung perangkatmu. Bukan hanya soal angka watt saja, tetapi juga protokol yang digunakan, kabel yang kompatibel, dan keamanan baterai jangka panjang — karena pengecasan cepat yang salah bukan hanya tidak efektif, tetapi bisa menurunkan kesehatan baterai lebih cepat.

Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan pengalaman fast charging yang tidak hanya cepat, tetapi juga aman dan efisien untuk penggunaan sehari-hari.