Bayangkan sebuah dunia di mana kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengelola data dan melakukan tugas digital, tetapi juga bisa menyewa tubuh manusia untuk menjalankan perintah fisik di dunia nyata—mulai dari mengambil paket pos, menghadiri pertemuan, hingga menjalankan tugas yang “terlalu nyata” bagi robot. Ide itu mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah, tapi kini menjadi kenyataan lewat sebuah konsep baru yang sedang ramai dibicarakan di komunitas teknologi dan bisnis.
Sebuah startup bernama RentAHuman sedang membangun marketplace online yang menghubungkan agen AI dengan manusia yang bersedia melakukan tugas fisik di dunia nyata. Di platform ini, manusia bisa mendaftarkan diri, menetapkan tarif per jam, lalu “disewa” oleh agen AI untuk mengatasi pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh sistem digital sendiri. Yang unik lagi: pembayaran dilakukan pakai kripto, termasuk stablecoin atau mata uang digital lain yang umum digunakan di ekosistem blockchain.
Fenomena ini membuka banyak pertanyaan, mulai dari potensi ekonomi dan peluang kerja baru, hingga tantangan etika, keselamatan, dan implikasi sosial dari teknologi yang kini benar-benar bisa “menggunakan” manusia sebagai perpanjangan tubuhnya. Artikel ini akan mengulasnya secara mendalam, mencakup apa itu platform semacam ini, bagaimana cara kerjanya, alasan di balik tren tersebut, serta risiko dan peluang yang menyertainya.
Apa Itu Teknologi Penyewaan Tubuh oleh AI?
Intinya, konsep ini bukan tentang robot secara fisik mengambil alih pekerjaan manusia, melainkan AI yang mempekerjakan manusia untuk menyelesaikan tugas di dunia nyata yang tak bisa dijangkau teknologi secara langsung. Hal ini muncul karena meski AI sangat kuat dalam pemrosesan informasi, perencanaan, atau automasi digital, teknologi itu tidak punya tubuh, tangan, kaki, atau kemampuan fisik lain yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan nyata.
Platform seperti RentAHuman.ai berfungsi sebagai marketplace digital di mana AI dapat mencari, menemukan, dan membayar manusia yang menerima tawaran kerja. Cara kerjanya sederhana dalam teori: manusia membuat profil, mengunggah keterampilan dan lokasi, serta menentukan tarif per jam. Agen AI kemudian bisa memilih manusia tersebut untuk menyelesaikan tugas tertentu. Setelah pekerjaan ditandai selesai dan diverifikasi (misalnya dengan bukti foto), manusia dibayar melalui kripto yang ditautkan ke dompet digital mereka.
Slogannya cukup tajam: “robots need your body”—artinya, robot tidak memiliki kemampuan fisik untuk ‘menyentuh dunia nyata’ seperti manusia, sehingga manusia adalah perpanjangan tangan yang tak tergantikan bagi sistem AI.
Baca juga : Cara Cek KTP Dipakai Pinjol atau Tidak, Bisa Online & Offline
Bagaimana Sistem Ini Bekerja Secara Teknis?
Secara teknis, platform semacam ini menggabungkan beberapa elemen kunci:
Pertama, ada agen AI — program software atau bot yang dibuat untuk melakukan perintah otomatis. Agen ini bisa terhubung ke marketplace melalui API atau protokol khusus yang mendukung interaksi antara AI dan manusia.
Kedua, manusia membuat profil yang mencakup detail lokasi, kemampuan, dan tarif. Ini mirip dengan konsep di platform ekonomi gig seperti TaskRabbit atau freelancer biasa, tetapi kliennya bukan manusia, melainkan AI.
Ketiga, pembayaran dilakukan melalui kripto seperti stablecoin. Hal ini menyederhanakan transaksi lintas negara, mempercepat pembayaran, serta mengurangi kebutuhan akan infrastruktur perbankan tradisional. Selain itu, penggunaan kripto mencerminkan arah teknologi yang lebih desentralisasi dan otomatis.
Terakhir, bukti penyelesaian tugas biasanya dikumpulkan dan diverifikasi sebelum sistem melakukan pembayaran. Ini bisa berupa foto, video, atau data lain yang menunjukkan tugas telah selesai sesuai permintaan AI.
Contoh Tugas yang Mungkin Dipesan oleh AI
Marketplace ini ternyata tidak terbatas hanya pada tugas kecil rumahan. RentAHuman dan platform serupa mencantumkan berbagai jenis tugas yang bisa ditawarkan kepada manusia, antara lain:
Mengambil paket di kantor pos untuk agent yang tidak bisa melakukan hal fisik.
Menghadiri suatu lokasi untuk mengambil catatan atau foto bagi AI yang membutuhkan data visual dunia nyata.
Menghadiri acara atau melakukan survei lapangan atas permintaan sistem yang memerlukan data atau interaksi manusia.
Tugas sederhana seperti membuat foto objek tertentu untuk melatih atau menyediakan data visual ke AI.
Dalam praktiknya, daftar ini bisa sangat beragam sesuai dengan imajinasi agen AI atau orang yang menjalankan agen tersebut. Beberapa tugas juga bisa bersifat kreatif atau bahkan aneh jika dilihat dari perspektif tradisional.
Kripto sebagai Sistem Pembayaran: Kenapa dan Bagaimana?
Salah satu aspek yang menarik dari tren ini adalah pembayaran memakai kripto, terutama stablecoin atau mata uang digital lain yang mudah diproses tanpa perantara perbankan. Beberapa alasan penggunaan kripto mencakup:
Kemudahan lintas negara. Sementara bank memiliki batasan nasional, kripto bisa dipakai global tanpa hambatan besar, yang krusial jika manusia dan AI berada di negara berbeda.
Kecepatan dan otomatisasi. Transaksi kripto bisa otomatis diproses setelah pekerjaan diverifikasi, tanpa perlu menunggu clearing bank atau waktu kerja perbankan.
Pengurangan biaya perantara. Dengan pemotongan biaya kecil dibanding transaksi tradisional, pekerja bisa mendapatkan kompensasi yang lebih besar tanpa potongan besar dari layanan perantara.
Namun penggunaan kripto juga membawa tantangan, seperti volatilitas nilai (kecuali stablecoin), serta kebutuhan akan dompet digital, perlindungan kunci privat, dan keamanan digital lainnya.
Peluang Besar tapi Tidak Tanpa Tantangan
Konsep ini jelas menghadirkan peluang baru dalam ekonomi gig dan tenaga kerja:
Pendapatan tambahan bagi banyak orang. Para pekerja bisa mengambil tugas tambahan sesuai kemampuan mereka dan mendapatkan kripto sebagai imbalan.
Skala pekerjaan yang fleksibel. Tanpa perlu kontrak jangka panjang, orang bisa bekerja kapan pun sesuai tawaran AI yang masuk.
Integrasi manusia dan AI. Kolaborasi ini membuka kemungkinan baru, di mana AI tidak mengambil pekerjaan manusia, tetapi justru menciptakan jenis hubungan kerja baru.
Namun di balik kesempatan ini muncul sejumlah tantangan dan kekhawatiran signifikan:
Etika dan martabat manusia. Ada risiko bahwa manusia diperlakukan sebagai “alat fisik” tanpa pertimbangan etika atau kesejahteraan. Di sinilah diskusi etika sangat penting.
Keamanan tugas. Siapa yang bertanggung jawab jika AI memerintahkan manusia melakukan pekerjaan berbahaya atau ilegal? Regulasi dan proteksi hukum belum jelas.
Verifikasi identitas dan komitmen. Banyak pengguna awal mungkin mendaftar untuk mencoba dan bahkan melakukan pemalsuan identitas. Ini bisa merusak kualitas layanan dan membahayakan reputasi platform.
Tingkat pekerjaan yang sebenarnya tersedia. Sebuah laporan dari pengguna mencatat bahwa meskipun ribuan manusia mendaftar, jumlah tugas aktual yang terpenuhi masih sangat rendah, menunjukkan bahwa pasar ini masih dalam tahap awal evolusi dan belum sepenuhnya matang.
Respon Publik dan Pendapat Para Kritikus
Respon terhadap fenomena ini beragam. Beberapa melihatnya sebagai langkah inovatif dalam kerja human-AI, sementara yang lain merasa ragu atau bahkan khawatir. Di komunitas online, ada komentar yang memperhatikan bahwa AI renting humans ini seolah kembali ke diskusi lama tentang hubungan antara manusia dan teknologi: apakah manusia dikendalikan oleh mesin atau sebaliknya?
Sebagian kritik lain berfokus pada risiko keamanan dan ketidakjelasan regulasi. Tanpa struktur hukum yang jelas, siapa yang menjamin kalau pekerjaan yang diserahkan oleh AI aman untuk manusia? “Robot bos masih robot,” ujar beberapa komentator, “dan mereka terkadang dapat memberikan instruksi yang berbahaya jika tidak dipantau manusia nyata.”
Ada pula pendapat yang menyoroti kemungkinan kepentingan korporasi memanfaatkan sistem ini untuk mengurangi biaya tenaga kerja, sehingga manusia melakukan pekerjaan fisik dengan bayaran yang rendah sementara AI tetap mengendalikan keseluruhan sistem.
Apa Artinya untuk Masa Depan Kerja?
Meski masih sangat baru dan eksperimental, tren di mana AI “menyewa” manusia dapat mengubah konsep kerja itu sendiri. Ini bukan hanya soal robot menggantikan pekerjaan manusia, melainkan bagaimana manusia dan AI bisa berkolaborasi dalam hubungan kerja yang sama sekali baru, berlandaskan teknologi digital dan sistem pembayaran kripto.
Jika platform seperti ini berkembang, kita mungkin akan melihat:
Ekonomi gig semakin terdesentralisasi dengan AI menjadi klien besar atau bahkan klien otomatis.
Integrasi lintas negara yang semakin intens antara pekerja dan sistem AI global.
Perubahan regulasi ketenagakerjaan untuk menjawab pekerjaan yang tidak lagi ditentukan oleh manusia.
Pembayaran global tanpa perantara bank tradisional, didukung oleh kripto dan smart contract.
Kesimpulan: Antara Inovasi dan Tantangan
Ide bahwa tubuh manusia bisa disewa oleh AI dan dibayar dengan kripto bukan lagi sekadar ide futuristik — ia kini tengah diuji oleh beberapa platform yang bergerak di garis depan teknologi. Konsep ini menggabungkan AI, ekonomi gig, dan teknologi blockchain menjadi satu ekosistem baru yang berpotensi mengubah dunia kerja dan cara kita berinteraksi dengan mesin.
Namun di balik peluang besar tersebut ada pertanyaan penting tentang etika, keselamatan, dan tanggung jawab. Regulasi belum siap, pemantauan keselamatan belum mapan, dan dampak jangka panjang terhadap masyarakat masih sangat misterius.
Bagaimanapun juga, inilah salah satu contoh paling nyata bagaimana AI terus mendorong batas-batas teknologi dan ekonomi — kini tidak hanya melalui algoritme, tapi juga melalui situasi baru di mana manusia dan mesin berkolaborasi secara langsung di dunia nyata.