Ketika Mainboard Smartphone Android Dijadikan Mini PC: Bisa Dipakai Layaknya PC Sungguhan ?
Pada akhir Februari 2026, sebuah eksperimen menarik muncul dari komunitas teknologi: seorang kreator berhasil memodifikasi sebuah smartphone yang sudah rusak menjadi sebuah mini-PC Android rakitan, yang mampu menampilkan antarmuka “PC-like” di layar eksternal dan menjalankan sejumlah aplikasi serta emulator game. Modifikasi ini dilakukan dengan menggabungkan mainboard smartphone bekas — dalam kasus ini dari Samsung Galaxy S20 FE — bersama beberapa komponen perangkat keras lain seperti casing Raspberry Pi, adaptor USB-C ke HDMI, dan sistem pendingin sederhana.
Mengapa Android Bisa Dijadikan Mini PC?
Android pada dasarnya adalah sistem operasi yang sangat fleksibel: meskipun kebanyakan kita kenal Android sebagai sistem pada smartphone dan tablet, Android sebenarnya memiliki dukungan terhadap antarmuka grafis, multitasking, serta banyak arsitektur perangkat keras. Selama ada layar, input (keyboard & mouse), dan akses ke aplikasi-aplikasi Android, sebuah sistem berbasis Android bisa bertindak hampir seperti komputer tradisional. Ini bukan konsep baru: sejak awal 2010-an sudah banyak Android Mini PC kecil yang dijual ke publik, yang cukup plug-and-play:
Contoh paling sederhana adalah dongle Android seukuran flashdisk yang bisa dicolok ke port HDMI TV atau monitor lalu memberikan antarmuka Android penuh.
Di lain sisi, perangkat seperti Remix Mini berusaha menyuguhkan pengalaman Android yang lebih dekat dengan PC, lengkap dengan taskbar, jendela multitasking, dan dukungan keyboard plus mouse.
Namun eksperimen terbaru ini jauh lebih radikal: bukan sekadar membeli perangkat jadi, tetapi memanfaatkan mainboard smartphone lama sebagai inti komputer baru.
Bagaimana Mini PC Android Rakitan Ini Dibangun ?
Proyek mini-PC Android yang dilaporkan Jagat Review memanfaatkan mainboard dari Galaxy S20 FE — smartphone flagship dengan prosesor Snapdragon 865, RAM 6 GB, dan kemampuan grafis yang masih relevan untuk berbagai tugas.
Komponen Utama Rakitan
Beberapa elemen utama yang diperlukan dalam rakitan seperti ini meliputi:
Mainboard Smartphone
Ini adalah “otak” dari mini-PC. Semua komponen inti seperti CPU, GPU, RAM, Wi-Fi, modul Bluetooth, dan jalur I/O sudah tertanam di sini. Smartphone modern biasanya memiliki spesifikasi yang jauh melebihi kebutuhan dasar komputasi — seperti aplikasi office atau browsing internet.
Baca juga : Bagaimana Website Tahu Lokasi Kamu ?
Adaptor USB-C ke HDMI / Pengubah Display Output
Untuk menampilkan antarmuka PC di layar eksternal, diperlukan adaptor yang mampu mengeluarkan sinyal video dari port USB-C smartphone ke monitor atau TV dengan HDMI.
Casing dan Dudukan
Rakitan ini memanfaatkan casing Raspberry Pi sebagai rumah bagi mainboard smartphone dengan pendinginan sederhana.
Pendingin
Walaupun smartphone memiliki sistem pendingin bawaan, saat dipakai terus-menerus sebagai mini-PC, aliran udara / heatsink tambahan akan membantu menjaga performa agar lebih stabil.
Input Eksternal
Keyboard, mouse, atau bahkan joystick bisa dikoneksikan melalui USB atau Bluetooth.
Sistem Operasi dan Antarmuka
Android dapat berjalan seperti biasa dengan dukungan Samsung DeX, fitur yang memungkinkan antarmuka Android tampil seperti desktop lengkap.
Proses pemasangan dan konfigurasi komponen-komponen ini memerlukan keterampilan teknis, terutama pada bagian adaptor dan pengaturan boot ke mode DeX atau serupa.
Kemampuan dan Pengujian Mini PC Android Rakitan
Dalam uji praktisnya, mini-PC Android rakitan ini tidak hanya berhasil menampilkan desktop di monitor eksternal, tetapi juga mampu menjalankan aplikasi dan emulator game:
Game Emulator
Game seperti Hollow Knight: Silksong berhasil dijalankan melalui emulator dengan frame rate sekitar 60 FPS yang mulus — ini menunjukkan bahwa kemampuan GPU dari Snapdragon 865 masih memadai untuk beberapa jenis aktivitas grafis intensif meskipun bukan untuk game berat AAA
Multitasking Dasar
Pengguna dapat membuka beberapa aplikasi sekaligus layaknya komputer desktop, misalnya membuka browser sambil menjalankan aplikasi Office atau menonton video.
Hal ini menarik karena menunjukkan Android bisa berfungsi jauh lebih fleksibel daripada sekadar OS smartphone jika ditempatkan dalam konteks yang tepat.
Manfaat Mengubah Smartphone Menjadi Mini PC
Mengapa seseorang tertarik melakukan ini padahal ada banyak mini-PC siap pakai di pasar? Ada beberapa alasan kuat:
1. Pemanfaatan Limbah Elektronik
Smartphone yang rusak atau sudah usang seringkali hanya berakhir di tempat pembuangan. Dengan pendekatan ini, mainboard smartphone bisa “diselamatkan” dan diberi fungsi baru sebagai komputer.
2. Proyek DIY yang Memuaskan
Bagi para hobiis teknologi, proyek seperti ini menantang dan memberi kesenangan tersendiri karena memungkinkan eksplorasi sistem Android di luar batasan standar.
3. Biaya Efektif
Daripada membeli mini-PC baru, menggunakan mainboard smartphone lama bisa jadi pilihan yang lebih murah, terutama jika Anda sudah memiliki komponen pendukung seperti adaptor, casing, dan monitor.
4. Portabilitas dan Efisiensi Energi
Smartphone dirancang untuk efisiensi daya, jadi sebuah mini-PC berbasis smartphone akan relatif hemat listrik dibandingkan komputer desktop biasa.
Bandingkan dengan Mini PC Android Komersial
Perangkat mini-PC Android telah ada di pasaran sejak lama. Model-model kecil dan terjangkau, seperti dongle Android atau sistem kecil berukuran compact, cukup populer sebagai media player atau unit hiburan rumah.
Beberapa dari perangkat ini hadir dengan pengalaman Android yang lebih “PC-like” dan mendukung antarmuka yang lebih produktif dibanding smartphone standar. Misalnya Remix Mini dengan antarmuka Remix OS yang mirip desktop Windows, multitasking seperti PC, serta dukungan penuh Play Store.
Namun, rakitan DIY ini punya nilai tambah:
Fleksibilitas Hardware
Karena menggunakan mainboard smartphone, performa bisa lebih tinggi dibanding banyak mini-PC Android murah yang menggunakan chipset sangat lemah.
Kontrol Penuh
Anda bisa memilih komponen tambahan sendiri seperti pendingin ekstra, adaptor pilihan, atau melakukan modifikasi lebih lanjut.
Eksperimen Sistem
Hanya dengan servo-level perakitan, orang bisa mencoba OS Android dengan dukungan GUI desktop seperti DeX, atau bahkan menjalankan Linux melalui dual-boot pada hardware yang sama.
Tantangan dan Batasannya
Meski menarik, konsep ini tidak tanpa hambatan:
💡 1. Kompleksitas Rakitan
Tidak semua orang memiliki pengetahuan teknis untuk menyolder, mengonfigurasi port USB-C/HDMI, atau memodifikasi casing dengan rapi.
💡 2. Limitasi Kompatibilitas
Tidak semua smartphone mendukung output video melalui USB-C, dan fitur seperti Samsung DeX hanya tersedia pada beberapa model tertentu.
💡 3. Performa Terbatas
Meskipun Snapdragon dan chipset smartphone lainnya cukup kuat, mereka tidak dirancang untuk beban kerja berat seperti rendering video profesional atau game AAA modern. Ini lebih cocok untuk tugas ringan hingga menengah.
💡 4. Dukungan Perangkat Lunak
Android pada dasarnya bukan OS desktop; aplikasi Android bisa berjalan, tetapi beberapa aplikasi produktivitas atau profesional mungkin tidak ideal dalam antarmuka Android.
Tren DIY dan Maker Culture
Proyek mini-PC Android semacam ini sejalan dengan tren DIY (Do-It-Yourself) dan maker culture yang semakin populer di kalangan penggemar teknologi. Komunitas online sering membagikan ide-ide seperti:
Menggunakan Raspberry Pi untuk berbagai proyek mini-PC, server NAS, atau sistem otomasi rumah.
Menggunakan smartphone sebagai server kecil, atau koneksi remote melalui SSH untuk menjalankan perintah komputer dari ponsel.
Membangun mini-PC dari kit barebone atau motherboard kecil, seperti yang dilakukan pada PC-mini ITX atau NUC.
Selain itu, internet dipenuhi video pembuatan mini PC dari awal hingga selesai, yang memukau banyak orang karena memperlihatkan proses fabrikasi mekanik dan elektronik secara rinci.
Kesimpulan: Antara Kreativitas dan Fungsionalitas
Mini-PC Android rakitan adalah contoh sempurna bagaimana kreativitas bisa memperluas kegunaan perangkat yang dianggap usang. Dengan sedikit keterampilan serta komponen tambahan yang tepat, Anda bisa mengubah mainboard smartphone menjadi komputer fungsional yang menjalankan Android dengan antarmuka desktop-like.
Proyek ini bukan hanya menunjukkan kecanggihan teknologi saat ini, tetapi juga memberikan inspirasi bagi siapa pun yang ingin bereksperimen di luar penggunaan normal perangkat. Meskipun ada batasan teknis dan performa, diesel-level pengetahuan dan keterampilan yang didapatkan dari proyek semacam ini bisa membuka jalan bagi eksperimen teknologi lain yang lebih menantang di masa depan.