5 Fakta Mengejutkan Chery Jual Robot Humanoid Seharga Rp 700 Jutaan
Pendahuluan
Dunia otomotif kembali dikejutkan dengan langkah tak biasa dari pabrikan asal Tiongkok, Chery. Jika selama ini produsen mobil identik dengan kendaraan bermotor, kini mereka mulai merambah ranah yang jauh lebih futuristik: robot humanoid. Langkah ini bukan sekadar inovasi biasa, melainkan sinyal kuat bahwa industri otomotif sedang bergerak menuju era teknologi yang jauh lebih kompleks dan terintegrasi.
Robot humanoid buatan Chery ini bukan sekadar konsep atau pajangan di pameran teknologi. Produk tersebut benar-benar dijual ke publik dengan harga yang tidak main-main, yakni sekitar Rp 600–700 jutaan. Kehadirannya memunculkan pertanyaan besar: apakah ini hanya tren sesaat, atau justru awal dari revolusi besar dalam kehidupan manusia sehari-hari?
1. Chery Resmi Jual Robot Humanoid ke Publik
Langkah Chery menjual robot humanoid secara langsung ke konsumen merupakan gebrakan besar dalam dunia teknologi. Robot bernama Mojia atau Morine M1 ini tidak lagi terbatas pada penelitian atau industri, tetapi sudah masuk ke pasar umum melalui platform e-commerce seperti JD.com.
Hal ini menunjukkan bahwa robot humanoid mulai diposisikan sebagai produk komersial, bukan sekadar eksperimen teknologi. Bahkan, Chery sudah menyiapkan strategi distribusi yang serius, termasuk ekspansi ke penjualan offline dengan menggandeng dealer.
Dengan kata lain, robot ini bukan sekadar “gimmick” untuk menarik perhatian, tetapi bagian dari rencana bisnis jangka panjang. Chery bahkan menargetkan robot sebagai sumber pendapatan baru di masa depan, di luar kendaraan.
Fenomena ini menandai pergeseran besar: perusahaan otomotif kini tidak hanya bersaing dalam hal mesin dan desain mobil, tetapi juga kecerdasan buatan dan robotika.
Baca juga : Baterai Laptop Cepat Habis? Ini 7 Penyebab Utama yang Sering Diabaikan Pengguna
2. Harga Fantastis, Setara Mobil Baru
Robot humanoid Chery dibanderol sekitar 285.800 yuan atau setara Rp 600–700 jutaan. Harga ini membuatnya sejajar dengan mobil baru di kelas menengah di Indonesia.
Tentu saja, harga tersebut memunculkan pertanyaan: apa yang sebenarnya ditawarkan robot ini sehingga begitu mahal? Jawabannya ada pada teknologi yang diusungnya. Robot ini dilengkapi berbagai sensor canggih seperti LiDAR 3D, kamera depth, hingga radar ultrasonik yang memungkinkannya memahami lingkungan sekitar secara kompleks.
Selain itu, robot ini juga memiliki kemampuan interaksi berbasis kecerdasan buatan, bahkan didukung model bahasa besar (AI) yang memungkinkan komunikasi lebih natural dengan manusia.
Jika dibandingkan dengan mobil, nilai jual robot ini bukan pada transportasi, melainkan pada fungsi sebagai asisten cerdas. Inilah yang membuat harga tinggi tersebut masih dianggap “masuk akal” dalam konteks teknologi masa depan.
3. Spesifikasi Canggih Setara Teknologi Masa Depan
Robot humanoid Chery memiliki spesifikasi yang sangat mengesankan. Tingginya mencapai sekitar 167 cm dengan berat sekitar 65–70 kg, membuatnya hampir setara dengan manusia dewasa.
Robot ini memiliki lebih dari 40 derajat kebebasan gerak, yang memungkinkan pergerakan tubuh dan tangan yang sangat fleksibel. Bahkan, kedua tangannya dapat digunakan secara bersamaan untuk melakukan tugas kompleks.
Kecepatan jalannya mencapai 1 meter per detik, cukup untuk aktivitas normal seperti berjalan di dalam ruangan atau mendampingi manusia.
Dari sisi energi, robot ini menggunakan baterai 0,7 kWh dengan waktu operasi sekitar dua jam setelah pengisian penuh.
Yang paling menarik adalah kemampuannya dalam navigasi dan interaksi. Dengan kombinasi sensor dan AI, robot ini dapat mengenali lingkungan, merencanakan jalur, serta merespons manusia secara real-time. Ini menjadikannya lebih dari sekadar mesin—melainkan entitas semi-otonom yang bisa “berpikir”.
4. Dirancang untuk Jadi Asisten Manusia
Robot humanoid Chery tidak dibuat untuk menggantikan manusia sepenuhnya, melainkan untuk membantu berbagai aktivitas sehari-hari. Salah satu fungsi utamanya adalah sebagai asisten layanan, seperti di showroom mobil atau pusat perbelanjaan.
Robot ini bahkan mampu membuka pintu mobil secara otomatis, melakukan tugas dengan dua tangan, serta dikendalikan jarak jauh menggunakan teknologi VR.
Dalam konteks bisnis, robot ini bisa digunakan sebagai resepsionis, pemandu pelanggan, atau bahkan tenaga penjualan yang tidak agresif. Hal ini dianggap lebih nyaman bagi konsumen, karena interaksi dengan robot terasa lebih santai dibandingkan dengan sales manusia.
Ke depan, Chery juga menargetkan penggunaan robot ini di sektor pemerintahan, retail, hingga rumah tangga. Artinya, potensi penggunaannya sangat luas dan tidak terbatas pada industri otomotif saja.
Ini membuka peluang besar bahwa suatu hari nanti, robot humanoid bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, layaknya smartphone saat ini.
5. Awal Era Baru: Ketika Robot Jadi Bagian Kehidupan Sehari-hari
Kehadiran robot humanoid yang mulai dijual bebas seperti produk Chery menandai babak baru dalam kehidupan manusia modern. Jika dulu robot hanya bisa dilihat di film fiksi ilmiah, kini perlahan mulai masuk ke dunia nyata dan bahkan bisa dimiliki secara personal. Perubahan ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga perubahan cara manusia hidup, bekerja, dan berinteraksi.
Dalam beberapa tahun ke depan, robot humanoid berpotensi menjadi “asisten pribadi” yang membantu aktivitas sehari-hari, mulai dari pekerjaan ringan di rumah hingga tugas administratif di kantor. Dengan kemampuan AI yang terus berkembang, robot tidak hanya menjalankan perintah, tetapi juga bisa belajar dari kebiasaan pengguna dan menyesuaikan diri secara otomatis.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru seperti isu etika, privasi, hingga potensi penggantian tenaga kerja manusia. Oleh karena itu, perkembangan robot humanoid harus diimbangi dengan regulasi yang jelas agar teknologi ini benar-benar membawa manfaat, bukan justru menimbulkan masalah baru di masyarakat.
Penutup
Langkah Chery menjual robot humanoid dengan harga ratusan juta rupiah bukan sekadar inovasi teknologi biasa, melainkan sinyal perubahan besar dalam arah industri global. Ketika perusahaan otomotif mulai serius mengembangkan robot, itu berarti batas antara industri kendaraan dan teknologi AI semakin kabur. Masa depan tidak lagi hanya tentang mobil listrik atau otonom, tetapi juga tentang mesin yang bisa berjalan, berbicara, dan berinteraksi layaknya manusia.
Meski saat ini harganya masih tergolong mahal dan penggunaannya terbatas, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan robot humanoid akan menjadi lebih terjangkau dan umum digunakan. Seperti halnya smartphone yang dulu dianggap mewah, teknologi ini bisa saja menjadi kebutuhan sehari-hari. Pertanyaannya bukan lagi “apakah robot akan hadir dalam hidup kita?”, melainkan “kapan kita mulai hidup berdampingan dengan mereka?”