Riset GSMA: 4 dari 10 Orang Indonesia Belum Gunakan Smartphone, Padahal Jaringan Sudah Menjangkau 98 Persen Populasi
Smartphone kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Perangkat yang dulu hanya digunakan untuk menelepon dan mengirim pesan kini telah berkembang menjadi pintu masuk menuju berbagai layanan digital, mulai dari media sosial, pendidikan, perbankan, transportasi, belanja online, hingga layanan publik.
Karena itu, cukup mengejutkan ketika data terbaru menunjukkan bahwa penggunaan smartphone di Indonesia ternyata belum mencapai seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026 yang diterbitkan oleh Global System for Mobile Communications Association (GSMA), penetrasi smartphone di Indonesia baru berada di angka sekitar 59 persen dari total populasi.
Dengan kata lain, secara sederhana masih ada sekitar empat dari setiap sepuluh orang Indonesia yang belum menggunakan smartphone.
Angka tersebut disampaikan Julian Gorman, Head of Asia Pacific GSMA, dalam sesi pemaparan daring laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026 yang diikuti KompasTekno pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Namun, angka 59 persen ini perlu dibaca secara hati-hati. Sebab, perhitungannya menggunakan total populasi Indonesia sebagai dasar. Artinya, kelompok yang belum menggunakan smartphone tidak semuanya merupakan orang dewasa yang sengaja memilih tidak memakai perangkat tersebut. Anak-anak dan kelompok penduduk lain yang belum memiliki smartphone sendiri juga masuk dalam perhitungan.
Meski demikian, data tersebut tetap menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan penggunaan smartphone di Indonesia masih sangat besar.
Penetrasi smartphone Indonesia baru 59 persen
Dalam laporan GSMA, penetrasi smartphone Indonesia tercatat sekitar 59 persen dari total populasi.
Angka tersebut menggambarkan proporsi masyarakat yang menggunakan smartphone dibandingkan seluruh penduduk. Jika diterjemahkan secara sederhana, dari 100 orang dalam populasi Indonesia, sekitar 59 orang menggunakan smartphone, sementara sekitar 41 orang lainnya belum menggunakan perangkat tersebut.
“Penetrasi smartphone di Indonesia saat ini berada di kisaran 59 persen dari populasi. Jadi, masih ada ruang untuk meningkatkan penggunaannya,” ujar Julian Gorman dalam pemaparannya.
Hal ini menarik karena smartphone sebenarnya sudah menjadi perangkat utama untuk mengakses dunia digital. Banyak aktivitas masyarakat sekarang tidak lagi membutuhkan komputer atau laptop karena semuanya bisa dilakukan melalui layar ponsel.
Misalnya, seseorang dapat melakukan transfer uang melalui aplikasi perbankan, membeli kebutuhan rumah tangga melalui marketplace, mengikuti kelas online, mencari pekerjaan, membaca berita, menonton video, hingga berkomunikasi dengan keluarga yang berada di daerah berbeda.
Ketika seseorang belum memiliki smartphone, akses terhadap berbagai layanan tersebut otomatis menjadi lebih terbatas.
Namun, bukan berarti setiap orang yang belum memiliki smartphone pasti sama sekali tidak memiliki akses digital. Ada kemungkinan mereka menggunakan perangkat milik anggota keluarga, komputer, feature phone, atau fasilitas internet bersama.
Jaringan internet sebenarnya sudah sangat luas
Hal yang lebih menarik dari laporan GSMA adalah adanya perbedaan besar antara cakupan jaringan dan penggunaan smartphone.
GSMA mencatat jaringan internet seluler di Indonesia sebenarnya telah menjangkau sekitar 98 persen populasi.
Artinya, secara teoritis hanya sekitar 2 persen penduduk yang masih tinggal di wilayah yang belum mendapatkan jangkauan internet seluler.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur telekomunikasi Indonesia sudah mencapai tingkat yang cukup luas.
Masyarakat yang tinggal di sebagian besar wilayah Indonesia pada dasarnya sudah berada dalam jangkauan jaringan seluler. Namun, keberadaan jaringan ternyata belum otomatis membuat semua orang menggunakannya.
Di sinilah persoalan yang lebih kompleks mulai terlihat.
Jika jaringan sudah tersedia tetapi masyarakat belum menggunakan smartphone atau internet seluler, berarti hambatannya tidak semata-mata berada pada pembangunan menara telekomunikasi atau perluasan jaringan.
Ada faktor lain yang perlu diperhatikan.
Baca juga : 5 HP Keluaran 2026 dengan Baterai 10.000 mAh, Performa Kencang dan Tahan Lama
Ada usage gap sebesar 21 persen
GSMA menggunakan istilah usage gap untuk menggambarkan kelompok masyarakat yang sebenarnya tinggal di wilayah dengan jangkauan internet seluler, tetapi belum menggunakan layanan internet seluler.
Di Indonesia, usage gap tersebut masih berada di angka sekitar 21 persen di kalangan penduduk dewasa.
Data ini cukup penting karena menunjukkan adanya kesenjangan antara availability dan adoption.
Bayangkan sebuah daerah sudah memiliki jaringan internet seluler yang tersedia. Menara telekomunikasi sudah berdiri, sinyal sudah masuk, dan perangkat jaringan sudah bekerja.
Namun, sebagian masyarakat di daerah tersebut tetap tidak menggunakan internet.
Penyebabnya bisa sangat beragam. Harga perangkat, biaya paket data, kemampuan menggunakan teknologi, kebutuhan sehari-hari, hingga tingkat literasi digital dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk menggunakan internet atau tidak.
Dengan demikian, memperluas jaringan saja belum tentu menyelesaikan persoalan kesenjangan digital.
Sekitar 77 persen penduduk dewasa sudah menggunakan internet
Jika fokus perhitungan dialihkan kepada penduduk dewasa, GSMA mencatat sekitar 77 persen penduduk dewasa Indonesia telah menggunakan internet.
Angka ini memberikan gambaran yang sedikit berbeda dibandingkan penetrasi smartphone 59 persen terhadap total populasi.
Perbedaan tersebut salah satunya terjadi karena basis perhitungannya tidak sama. Penetrasi smartphone menggunakan total populasi, sedangkan penggunaan internet yang disebutkan GSMA berkaitan dengan penduduk dewasa.
Karena itu, angka-angka tersebut tidak bisa dibandingkan secara langsung seolah-olah menggunakan denominator yang sama.
Namun, keduanya tetap menunjukkan satu hal penting: penggunaan teknologi digital di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar.
Sebagian masyarakat sudah sangat bergantung pada internet dalam kehidupan sehari-hari, sementara sebagian lainnya belum terhubung atau belum memanfaatkannya secara optimal.
Mengapa orang belum menggunakan smartphone?
Ada beberapa kemungkinan faktor yang dapat menjelaskan mengapa penetrasi smartphone belum mencapai seluruh populasi.
Pertama adalah harga perangkat.
Meskipun smartphone semakin murah, membeli perangkat baru tetap membutuhkan biaya yang tidak sedikit bagi sebagian masyarakat. Apalagi smartphone bukan satu-satunya kebutuhan. Pengguna juga harus mempertimbangkan biaya pulsa atau paket data, listrik untuk mengisi baterai, serta biaya perawatan jika perangkat mengalami kerusakan.
Kedua adalah literasi digital.
Memiliki smartphone tidak otomatis berarti seseorang mampu menggunakan semua fitur yang tersedia. Bagi pengguna yang belum terbiasa dengan teknologi, aktivitas sederhana seperti membuat akun, menggunakan aplikasi perbankan, mengatur keamanan akun, atau menghindari penipuan online bisa menjadi tantangan.
Ketiga adalah kebutuhan.
Tidak semua orang memiliki kebutuhan yang sama terhadap internet. Seseorang yang tinggal di daerah dengan aktivitas sehari-hari yang sebagian besar dilakukan secara offline mungkin merasa belum membutuhkan smartphone dengan fitur lengkap.
Keempat adalah usia.
Karena data penetrasi smartphone menggunakan total populasi sebagai dasar, anak-anak turut memengaruhi angka tersebut. Tidak semua anak memiliki smartphone sendiri karena perangkat mungkin masih digunakan bersama orang tua atau anggota keluarga lainnya.
Kelima adalah kesenjangan ekonomi.
Masyarakat dengan pendapatan lebih rendah kemungkinan harus memprioritaskan kebutuhan pokok sebelum membeli perangkat digital. Smartphone bisa saja dianggap sebagai kebutuhan penting, tetapi belum tentu menjadi kebutuhan paling mendesak.
Tantangannya bukan sekadar membangun jaringan
Temuan GSMA menunjukkan perubahan penting dalam tantangan digital Indonesia.
Jika jaringan internet seluler telah menjangkau sekitar 98 persen populasi, persoalan utama tidak lagi hanya soal bagaimana membawa sinyal ke daerah yang belum terjangkau.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat masyarakat yang sudah berada dalam jangkauan tersebut benar-benar mampu dan mau menggunakan internet.
Inilah alasan mengapa isu usage gap menjadi penting.
Pembangunan infrastruktur tetap diperlukan, terutama untuk meningkatkan kualitas jaringan, kapasitas, dan pemerataan akses. Namun, pembangunan tersebut perlu berjalan bersama dengan upaya lain.
Misalnya, masyarakat perlu mendapatkan edukasi mengenai penggunaan internet yang aman. Mereka perlu memahami cara membuat kata sandi yang kuat, mengenali phishing, menjaga data pribadi, menggunakan layanan keuangan digital, dan membedakan informasi yang benar dengan informasi palsu.
Dengan begitu, masyarakat tidak hanya terhubung ke internet, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara produktif.
Smartphone semakin penting dalam kehidupan digital
Peran smartphone juga membuat isu penetrasi perangkat menjadi semakin relevan.
Bagi banyak orang, smartphone merupakan perangkat digital pertama yang mereka gunakan. Tidak semua orang memiliki laptop atau komputer pribadi, tetapi sebuah ponsel dapat digunakan untuk mengakses hampir seluruh layanan digital.
Dalam konteks pendidikan, misalnya, smartphone dapat digunakan untuk mencari materi pelajaran, mengikuti komunikasi sekolah, menonton video pembelajaran, dan mengakses berbagai platform edukasi.
Dalam konteks ekonomi, perangkat yang sama dapat digunakan untuk berjualan online, menerima pembayaran digital, mencari pekerjaan, hingga mengelola usaha kecil.
Karena itu, meningkatkan penggunaan smartphone bukan hanya persoalan memperbanyak jumlah perangkat yang beredar. Yang lebih penting adalah memastikan perangkat tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi penggunanya.
Ada peluang besar bagi industri digital
Penetrasi smartphone sebesar 59 persen juga menunjukkan adanya peluang pasar yang besar.
Jika semakin banyak masyarakat beralih ke smartphone, kebutuhan terhadap perangkat, jaringan, aplikasi, layanan digital, dan konten online juga berpotensi meningkat.
Produsen smartphone dapat melihat kelompok masyarakat yang belum memiliki perangkat sebagai pasar potensial. Operator seluler juga dapat mengembangkan paket yang lebih terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan pengguna baru.
Di sisi lain, perusahaan teknologi dapat membuat aplikasi dengan antarmuka yang lebih sederhana sehingga mudah digunakan oleh masyarakat yang baru mengenal layanan digital.
Namun, pertumbuhan tersebut tetap harus mempertimbangkan keterjangkauan.
Smartphone yang murah tetapi membutuhkan biaya internet tinggi mungkin tetap sulit digunakan oleh kelompok berpenghasilan rendah. Begitu pula jaringan yang luas tetapi tidak diikuti edukasi digital tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah.
Kesimpulan
Riset GSMA dalam Mobile Economy Asia Pacific 2026 memberikan gambaran menarik mengenai kondisi digital Indonesia.
Penetrasi smartphone Indonesia tercatat sekitar 59 persen dari total populasi, sehingga secara sederhana masih ada sekitar empat dari sepuluh orang yang belum menggunakan smartphone. Namun, angka ini mencakup seluruh populasi, termasuk anak-anak dan kelompok yang belum memiliki perangkat sendiri.
Di sisi lain, jaringan internet seluler sebenarnya sudah menjangkau sekitar 98 persen populasi Indonesia. Sementara itu, sekitar 77 persen penduduk dewasa telah menggunakan internet, tetapi masih terdapat usage gap sekitar 21 persen di kalangan penduduk dewasa.
Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan digital Indonesia semakin bergeser. Persoalannya bukan lagi sekadar menyediakan jaringan, tetapi juga memastikan masyarakat mampu mengakses dan memanfaatkan teknologi tersebut.
Harga perangkat, biaya internet, literasi digital, kebutuhan, usia, dan kondisi ekonomi menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
Dengan kata lain, membangun ekosistem digital Indonesia tidak cukup hanya dengan memperluas sinyal. Masyarakat juga harus dibuat mampu, terjangkau, aman, dan percaya diri dalam menggunakan teknologi.
Jika berbagai hambatan tersebut dapat dikurangi, angka penetrasi smartphone dan penggunaan internet di Indonesia masih memiliki peluang untuk terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.