Ciri-Ciri Orang yang Mudah Terkena Penipuan Online (Plus Cara Menghindarinya)

 

Penipuan online semakin canggih dan merajalela di era digital saat ini. Dari tawaran hadiah palsu, SMS phising, hingga akun palsu yang meniru layanan resmi — semuanya didesain untuk memancing emosi, rasa penasaran, atau ketidaktahuan pengguna. Tapi tahukah kamu? Ada pola tertentu yang membuat sebagian orang menjadi lebih rentan terhadap penipuan online dibandingkan yang lain.

Artikel ini mengulas ciri-ciri utama yang sering muncul pada orang yang mudah terkena penipuan online. Lebih jauh, setiap ciri akan dikaitkan dengan contoh kasus nyata dan tips praktis untuk menghindarinya. Dengan membaca ini sampai akhir, kamu akan lebih waspada terhadap taktik penipu dan bisa melindungi dirimu serta orang-orang di sekitarmu.

1. Mudah Percaya Pada Informasi yang Belum Diverifikasi

Salah satu ciri paling umum dari korban penipuan online adalah terlalu mudah percaya pada informasi yang belum diperiksa kebenarannya. Mereka sering langsung menanggapi pesan, tautan, atau permintaan informasi tanpa mengecek siapa pengirimnya atau asal informasi tersebut.

Contohnya: mendapatkan pesan WhatsApp atau SMS yang mengatakan bahwa kamu memenangkan hadiah besar, lalu diminta klik tautan untuk mengklaimnya. Tanpa mengecek sumbernya, banyak orang langsung mengeklik karena tergiur.

Bahaya: Penipu bisa mencuri data pribadi, mengakses akun, atau memasang malware di perangkatmu hanya dari satu klik.

Tips Menghindari:

Sebelum mengambil tindakan, selalu periksa sumber informasi. Cek apakah alamat pengirim resmi, bagaimana tanda domain email yang digunakan, dan apakah sudah ada pemberitahuan serupa dari sumber yang tepercaya. Jika ragu, cari tahu melalui mesin pencari atau langsung kunjungi situs resmi layanan tersebut tanpa menggunakan tautan dari pesan.

2. Sering Mengabaikan Tanda Bahaya pada Pesan atau Situs

Ada ciri lain yang sering ditemui: mengabaikan tanda-tanda mencurigakan pada pesan, email, atau situs web. Misalnya:

Ejaan yang salah atau tata bahasa yang aneh

Nama domain yang mirip tetapi tidak tepat

Permintaan data pribadi lewat formulir yang mencurigakan

Logo yang tampak “berbeda” dari versi resmi

Banyak orang merasa “terlalu sibuk” atau yakin bahwa mereka bisa menilai nanti setelah klik, padahal jumlah detail kecil tersebut adalah tanda bahaya utama.

Bahaya: Mengabaikan ini bisa membuat kamu terlena masuk ke phishing site yang memanen data login atau bahkan password bank.

Tips Menghindari:

Biasakan mengecek URL secara seksama sebelum memasukkan kredensial. Situs resmi layanan besar biasanya menggunakan HTTPS dengan gembok hijau yang valid. Hati-hati jika nama domain terlihat mirip tetapi berbeda sedikit huruf atau menggunakan subdomain yang aneh.

Baca juga  :  Green Computing: Bagaimana Arsitektur Teknologi Mengurangi Jejak Karbon

3. Mudah Tergiur dengan Iming-Iming Keuntungan yang Terlalu Besar

Iming-iming hadiah besar, bonus fantastis, atau keuntungan instan meningkatkan risiko seseorang terjebak dalam penipuan online. Contohnya, tautan yang mengklaim kamu mendapat iPhone gratis, atau bonus miliaran rupiah hanya dengan mengisi data.

Taktik ini memanfaatkan psikologi manusia: rasa ingin cepat kaya atau tidak mau ketinggalan sesuatu yang seolah-olah terbatas. Padahal, tawaran seperti itu hampir tidak pernah nyata.

Bahaya: Memberikan data pribadi atau bahkan pembayaran sederhana bisa membuat saldo kamu lenyap atau data dipakai ilegal.

Tips Menghindari:

Ingat rumus sederhana: Jika terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan, kemungkinan besar itu penipuan. Periksa terlebih dulu reputasi situs, cari review, atau tanyakan kepada teman/keluarga sebelum tergerak melakukan tindakan apa pun.

4. Tidak Mengaktifkan Verifikasi Dua Langkah (2FA)

Salah satu teknik dasar keamanan digital adalah verifikasi dua langkah (2FA). Ini fitur yang meminta kode tambahan selain password ketika login — biasanya dikirim lewat SMS atau aplikasi autentikator.

Namun banyak orang menyepelekan fitur ini dan hanya mengandalkan password yang rentan diretas.

Bahaya: Akun yang hanya terlindungi password mudah dibobol melalui teknik phising atau pencurian data.

Tips Menghindari:

Aktifkan 2FA di semua akun penting — terutama email, akun bank/dompet digital, media sosial, dan aplikasi kerja. Dengan 2FA, penjahat siber tidak bisa masuk hanya dengan tahu password.

5. Tidak Memperbarui Perangkat Lunak Secara Rutin

Sering kali orang menunda update sistem operasi, aplikasi, atau browser karena merasa tidak penting atau ingin cepat menggunakan perangkat. Padahal pembaruan software tidak hanya soal fitur, tetapi juga patch keamanan untuk menutup celah yang dieksploitasi penipu dan malware.

Perangkat yang tidak diperbarui secara berkala menjadi target favorit peretas dan penipu karena celah keamanannya mudah dimanfaatkan.

Bahaya: Malware atau exploit bisa masuk tanpa disadari, mencuri informasi penting, atau memata-mati aktivitas pengguna.

Tips Menghindari:

Terapkan kebiasaan memperbarui semua perangkat lunak segera setelah update tersedia. Ini akan menutup lubang keamanan yang sudah diketahui hacker dan meningkatkan proteksi data kamu.

6. Menggunakan Password yang Sama untuk Banyak Akun

Ini bukan hanya soal penipuan online, tetapi kebiasaan ini membuat orang sangat rentan terhadap credential stuffing — yaitu teknik peretas mencoba kombinasi email dan password yang bocor dari satu situs ke situs lainnya.

Orang yang mudah terkena penipuan sering menganggap satu password aman digunakan di semua layanan, padahal begitu satu akun bocor, semua akun lain bisa ikut diretas.

Bahaya: Sekali satu layanan diretas, peretas bisa masuk ke akun lain seperti email, dompet digital, atau akun pekerjaanmu.

Tips Menghindari:

Gunakan password manager untuk menyimpan password unik di setiap layanan. Password yang kompleks dan berbeda setiap akun dapat meminimalkan risiko sekaligus membantu kamu mengelola kredensial secara aman.

7. Tidak Waspada dengan Permintaan Data Pribadi lewat Chat atau Telepon

Penipu kini tidak hanya memanfaatkan email dan SMS, tetapi juga telepon, chat WhatsApp, atau pesan media sosial. Mereka sering berpura-pura menjadi customer service resmi, operator bank, atau bahkan teman yang nomornya diretas.

Tanda bahaya bisa berupa permintaan untuk:

Menyebutkan kode OTP

Memberikan password/nomor rekening

Mengakses tautan yang dikirimkan secara tiba-tiba

Sering kali orang merasa “percaya karena terdengar meyakinkan” tanpa memeriksa autentikasi sebenarnya.

Bahaya: Begitu data ini diberikan, akun kamu bisa diambil alih serta-merta dan saldo bisa dicuri dalam hitungan menit.

Tips Menghindari:

Jangan pernah memberikan kode OTP, password, atau informasi pribadi lainnya lewat pesan/call. Jika benar itu dari layanan resmi, mereka akan memberikan opsi verifikasi lain seperti email resmi atau kamu bisa memanggil mereka kembali melalui saluran resmi.

8. Kurangnya Pendidikan Digital dan Literasi Keamanan

Salah satu akar dari rentannya seseorang terhadap penipuan online adalah kurangnya pendidikan tentang keamanan digital. Bukan hanya soal teknologi, tetapi soal memahami psikologi penipuan, tanda bahaya sosial media, serta cara membaca tautan dan domain secara benar.

Perilaku yang kurang waspada sering kali diperparah oleh salah paham seperti:

Menganggap semua link yang dikirim teman aman

Mengira aplikasi yang muncul di Play Store/App Store selalu aman

Tidak tahu bedanya domain resmi dengan domain tiruan

Bahaya: Orang yang kurang literasi digital cenderung melakukan klik tanpa berpikir dan memberikan akses kepada penipu tanpa realize.

Tips Menghindari:

Tingkatkan pengetahuan digitalmu dengan sumber kredibel seperti:

Portal berita teknologi

Kursus online tentang keamanan siber

Workshop literasi digital komunitas

Pelatihan dari lembaga resmi

Dengan pemahaman yang lebih baik, kamu bisa menjadi lebih kritis terhadap berbagai trik yang digunakan penipu.

9. Perilaku Terburu-buru dan Emosional

Penipu online sering memanfaatkan psikologi basis daya seperti ketakutan (fear of missing out / FOMO), urgensi, atau ancaman. Contohnya:

“Registrasi bonus akan berakhir dalam 10 menit!”

“Akun kamu akan ditutup jika tidak diverifikasi sekarang!”

“Kamu memenangkan hadiah terbatas!”

Perilaku ini menciptakan tekanan emosional, sehingga banyak orang bereaksi tanpa berpikir logis.

Bahaya: Keputusan yang diambil saat terburu-buru cenderung merugikan karena dipengaruhi emosi bukan alasan.

Tips Menghindari:

Jika mendapat pesan yang membuat kamu panik atau tergesa-gesa, berhenti dulu dan pikirkan logikanya. Lega kecil memberi waktu untuk cek ulang bisa mencegah keputusan yang sangat merugikan.

10. Tidak Memeriksa Kebijakan Privasi dan Izin Aplikasi

Sering kali aplikasi atau layanan meminta izin yang sebenarnya tidak relevan dengan fungsinya. Misalnya:

Aplikasi pemutar video meminta akses kontak dan SMS

Formulir unduhan meminta data kartu identitas lengkap

Situs minta nomor telepon untuk “verifikasi” padahal tidak pernah kamu kenal

Orang yang tidak terbiasa membaca izin sering kali memberikan akses tanpa mengecek apakah itu wajar atau tidak.

Bahaya: Data yang tak perlu bisa disalahgunakan untuk profiling, penipuan, atau dijual di pasar gelap.

Tips Menghindari:

Selalu periksa izin aplikasi dan kebijakan privasi sebelum menyetujui. Jika sesuatu terasa tidak perlu, jangan langsung klik “terima” — cari tahu dulu apakah izin itu memang relevan.

Penutup: Menjadi Lebih Waspada adalah Kunci Utama

Penipuan online bukan hanya soal teknologi atau alat yang digunakan penipu. Sebaliknya, banyak kasus terjadi karena pola perilaku manusia yang bisa dimanipulasi. Orang yang mudah percaya, terburu-buru, atau kurang literasi digital — bukan sekedar “naif” — tetapi mereka tidak memiliki pola pikir kritis yang dilatih.

Dengan memahami ciri-ciri di atas, kamu tidak hanya melindungi dirimu, tetapi juga orang-orang di sekitar kamu — keluarga, teman, rekan kerja — dari ancaman digital yang semakin kompleks.

Ingat:

📌 Waspada bukan berarti paranoid.

📌 Verifikasi bukan berarti tidak sopan.

📌 Melindungi data adalah melindungi masa depanmu.