Industri smartphone global kini menghadapi tantangan besar yang bisa berdampak langsung pada harga dan spesifikasi perangkat yang akan dirilis di 2026. Salah satu isu yang paling mencuat adalah lonjakan harga chip memori, khususnya RAM (DRAM) dan penyimpanan (NAND). Kenaikan biaya ini tidak hanya memengaruhi produsen secara internal, tetapi juga bakal berdampak pada kemampuan mereka menyematkan spesifikasi tinggi di perangkat terbaru yang dijual ke konsumen.
Kenaikan harga RAM dipicu oleh kombinasi permintaan yang jauh melebihi pasokan, pergeseran produksi ke kebutuhan AI, dan hambatan pasokan komponen global. Dalam konteks yang lebih luas, strategi produksi ini menggambarkan perubahan arah industri elektronik — dari smartphone konsumen ke server AI dan pusat data — dengan konsekuensi yang sering tidak terlihat oleh pengguna akhir.
Karena RAM adalah komponen penting dalam menentukan kemampuan multitasking, performa aplikasi, dan pengalaman pengguna secara keseluruhan, perubahan harga dan pasokannya membawa implikasi besar — termasuk kemungkinan penurunan kapasitas RAM di ponsel yang lebih murah atau penyesuaian fitur lain untuk menjaga harga tetap kompetitif.
Di dalam artikel ini, kita bahas delapan alasan yang menjelaskan fenomena ini serta bagaimana dampaknya terhadap smartphone di 2026 — baik dari segi teknologi maupun harga jual.
1. Penyebab Utama Kenaikan Harga RAM
Salah satu faktor utama di balik lonjakan harga RAM adalah kekurangan pasokan global yang makin dalam. Permintaan untuk DRAM dan NAND tidak hanya datang dari smartphone, tetapi juga dari sektor lain seperti AI, server cloud, dan pusat data yang membutuhkan memori berkapasitas tinggi.
Permintaan ini membuat produsen memori — seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron — mengalihkan sebagian besar produksi ke jenis memori yang lebih menguntungkan dan banyak dibutuhkan oleh aplikasi AI dan data center. Alhasil, pasokan untuk memori konvensional yang dipakai di ponsel dan laptop menjadi semakin terbatas.
Menurut laporan penelitian, harga DRAM telah naik puluhan persen dalam beberapa bulan terakhir, dan diperkirakan akan terus meningkat di paruh pertama 2026. Ini terjadi karena ketidakseimbangan antara permintaan yang cepat tumbuh dan suplai yang belum dapat mengikuti.
Karena RAM merupakan salah satu komponen utama yang menentukan biaya produksi perangkat, kenaikan harga ini secara otomatis menekan margin keuntungan pabrikan — yang kemudian kerap dibebankan kepada konsumen melalui harga jual yang lebih tinggi.
2. Permintaan AI yang Menyebabkan Kekurangan Chip Memori
Permintaan RAM dan memori lain yang kuat tidak terjadi dalam isolasi. Salah satu pendorong terbesar adalah peralihan industri ke kecerdasan buatan (AI). AI memerlukan memori berkinerja tinggi dengan kapasitas besar, seperti HBM untuk pelatihan machine learning serta DRAM kelas atas untuk pusat data.
Kebutuhan memori yang meningkat drastis di sektor AI membuat memori konvensional yang digunakan di smartphone menjadi produk “second-class priority” dalam rantai pasokan. Produsen yang menyuplai memori ke AI sering menawarkan harga lebih tinggi, sehingga pemasok memori lebih fokus memenuhi permintaan tersebut.
Akibatnya, pabrik-pabrik memori yang dulu memproduksi DRAM untuk ponsel kini memprioritaskan produksi untuk AI dan pusat data. Dampak jangka pendeknya adalah terbatasnya jumlah chip DRAM yang tersedia untuk pabrikan smartphone — yang mengakibatkan kenaikan harga komponen tersebut.
Permintaan AI yang masih kuat diperkirakan akan terus menjadi tren utama pada 2026 dan bahkan beberapa tahun berikutnya, sehingga tekanan ini diperkirakan berlangsung cukup lama dan makin memengaruhi pasar perangkat konsumen.
Baca juga : Sejarah Terciptanya Teknologi Mesin Cuci: Dari Tenaga Otot hingga Otomatis Pintar
3. Dampak Kenaikan Harga pada Bill of Materials Smartphone
“Bill of Materials” (BoM) adalah istilah yang menggambarkan total biaya komponen yang diperlukan untuk membuat sebuah perangkat, termasuk RAM, prosesor, layar, baterai, dan lain-lain. Kenaikan harga RAM membuat BOm smartphone meningkat secara signifikan.
Sebagai contoh, memori kini dapat menyumbang lebih dari 10–20 persen dari total BoM dalam ponsel flagship 2026, jauh naik dari beberapa tahun lalu ketika hanya sekitar 8–10 persen di beberapa model.
Kondisi ini memaksa pabrikan untuk memilih: apakah akan menaikkan harga jual akhir perangkat, atau mengerem peningkatan spesifikasi (seperti kapasitas RAM atau penyimpanan) agar harga tetap kompetitif. Banyak perusahaan kini mulai mempertimbangkan kedua pilihan ini.
Terutama pada segmen smartphone entry-level dan mid-range dengan margin tipis, produsen kini sering memilih untuk mengurangi kapasitas RAM atau fitur lain untuk menekan biaya produksi sambil menjaga harga jual tetap di pasar yang sensitif terhadap harga.
4. Smartphone Budget Paling Terpengaruh
Dampak terbesar dari kenaikan harga RAM bukan hanya pada flagship mahal, tetapi justru pada smartphone budget dan mid-range. Perangkat dengan harga rendah biasanya memiliki margin keuntungan sangat tipis, sehingga peningkatan biaya komponen membuat perusahaan sulit menahan harga.
TrendForce dan analis lain memperkirakan bahwa pada 2026, beberapa model entry-level yang dulu dibekali RAM 6–8 GB mungkin akan kembali menggunakan konfigurasi 4 GB RAM untuk tetap menjaga harga jual mereka.
Selain RAM, storage onboard juga mungkin terdampak. Penyerapan biaya yang tinggi bisa membuat beberapa model menurunkan pilihan kapasitas penyimpanan bawaan — atau meninggalkan konfigurasi besar seperti 512 GB demi opsi lebih terjangkau.
Konsumen yang berharap peningkatan spesifikasi tahunan mungkin harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa dalam beberapa pasar, fitur bisa stagnan atau melambat berkembang dibanding tren sebelumnya.
5. Harga Smartphone Diperkirakan Naik di 2026
Tidak hanya penurunan spesifikasi, kenaikan biaya komponen juga diprediksi akan mendorong harga jual smartphone secara umum. Counterpoint Research memperkirakan bahwa harga rata-rata smartphone di 2026 bisa meningkat hampir 7 % akibat kenaikan biaya RAM dan komponen lain.
Beberapa laporan menyebut bahwa perangkat seperti Galaxy S26 dan seri lain dari merek besar kemungkinan akan mengalami kenaikan harga karena meningkatnya biaya memori.
Pabrikan juga tidak punya banyak pilihan selain meneruskan sebagian dari biaya tambahan ini kepada konsumen jika ingin tetap mempertahankan margin keuntungan, karena pemasok memori telah menaikkan harga kontrak secara signifikan.
Kenaikan harga smartphone bisa berdampak pada permintaan konsumen, khususnya di segmen yang sensitif terhadap harga, sehingga beberapa pembeli mungkin menunda upgrade atau memilih model yang lebih murah.
6. Potensi Penurunan Spesifikasi RAM & Fitur Lainnya
Selain kemungkinan ponsel budget kembali ke 4 GB RAM, tren ini juga bisa merambat ke segmen menengah. Banyak produsen mungkin menjaga harga tetap kompetitif dengan mempertahankan upgrade RAM di level yang lebih konservatif, misalnya tetap pada 8 GB daripada pindah ke 12 GB pada model tertentu.
Spesifikasi seperti kapasitas penyimpanan internal, jumlah kamera, dan fitur konektivitas premium juga bisa dikaji ulang agar total BoM tetap terjaga di rentang aman.
Some analysts even suggest that the pace of spec upgrades overall might slow down, as OEMs prioritize cost control over incremental performance gains.
Hal ini berarti tren “tekhnologi meningkat setiap tahun” bisa sedikit melambat atau dipadatkan sesuai dengan strategi produksi yang lebih hati-hati di tengah tekanan biaya.
7. Dampak pada Pasar & Permintaan Global
Efek dari kenaikan harga RAM tidak berhenti pada spesifikasi dan harga perangkat saja. Beberapa analis memproyeksikan bahwa pengiriman smartphone global bisa sedikit menurun di 2026, karena konsumen menunda upgrade atau memilih model yang lebih murah.
Kondisi ini diprediksi paling terasa di pasar negara dengan tingkat pendapatan lebih rendah — tempat perangkat budget mendominasi penjualan global.
Perubahan permintaan ini juga bisa berdampak pada strategi pasokan pabrikan — yang mungkin akan menyesuaikan jumlah produksi, fokus model tertentu, atau memperluas strategi pemasaran ke segmen yang masih tumbuh.
Dalam jangka panjang, pergeseran fokus ke kualitas memori dan teknologi lain bisa memperkuat posisi pemain besar yang mampu mengamankan pasokan lebih baik, sementara merek kecil atau baru bisa kesulitan bersaing.
8. Bagaimana Produsen Mengatasi Tantangan Ini
Untuk menghadapi masalah kenaikan harga RAM, beberapa produsen smartphone sudah menjalankan strategi diversifikasi rantai pasok dan pemesanan chip lebih awal guna memastikan ketersediaan komponen stabil.
Beberapa juga menegosiasikan kontrak jangka panjang dengan pemasok memori agar mendapatkan harga yang lebih bersaing dan pasokan yang lebih terjamin meskipun situasi pasar tidak stabil.
Selain itu, brand besar sering kali memanfaatkan skala ekonomi mereka dan pasar premium yang kurang terpengaruh oleh kenaikan harga, sementara menyesuaikan model budget agar tetap menarik bagi konsumen tanpa mengorbankan margin keuntungan secara drastis.
Beberapa merek bahkan mempertimbangkan peningkatan fitur storage hybrid, slot microSD atau optimisasi perangkat lunak untuk memberikan nilai lebih tanpa harus meningkatkan RAM fisik secara signifikan lagi.
Penutup
Kenaikan harga RAM pada 2025–2026 bukan sekadar fenomena sementara, tetapi sebuah tren struktural yang dipengaruhi oleh pergeseran prioritas produksi memori ke sektor AI dan kebutuhan pusat data.
Dampaknya terhadap smartphone consumer mulai terlihat dalam bentuk penyesuaian harga jual, potensi penurunan spesifikasi, dan strategi produksi yang lebih hati-hati. Bagi konsumen, ini berarti bahwa harapan akan peningkatan spesifikasi setiap tahunnya mungkin perlu disesuaikan dengan realitas pasar dan strategi industri yang makin kompleks di era teknologi modern.