Di tengah gelombang protes besar yang melanda Iran sejak akhir 2025, pemerintah negara tersebut mengambil langkah drastis untuk memutus koneksi digital warganya dari dunia luar — termasuk melalui pemblokiran internet secara nasional dan upaya mematikan layanan satelit Starlink. Langkah ini mirip dengan taktik yang digunakan Rusia terhadap Starlink di Ukraina, yakni mengandalkan peralatan jamming dan gangguan sinyal yang canggih untuk menghambat koneksi satelit.
Starlink sendiri adalah layanan internet satelit milik SpaceX yang dirancang untuk memberikan koneksi global tanpa bergantung pada infrastruktur darat. Di banyak wilayah yang mengalami pemadaman internet atau keterbatasan akses, Starlink sering menjadi satu-satunya jalur komunikasi alternatif bagi warga sipil dan aktivis. Namun di Iran, hak atas akses internet telah berubah menjadi medan konflik yang sensitif secara politik dan teknologi.
Berikut ini kita akan mengulas 8 poin penting untuk memahami taktik Iran dalam menonaktifkan akses Starlink, teknik yang digunakan, dampaknya bagi warga, serta pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini di kancah geopolitik dan teknologi satelit.
1. Internet Blackout di Iran: Kronologi dan Tujuan
Iran sudah mengalami beberapa kali pemadaman internet yang sengaja diterapkan oleh pemerintah untuk meredam protes, termasuk pada 2019 dan 2025. Namun sejak 8 Januari 2026, negara ini memberlakukan pemutusan akses internet hampir total di level nasional sebagai bagian dari upaya menghentikan penyebaran informasi terkait demonstrasi besar yang sedang berlangsung.
Blackout ini tidak hanya mempengaruhi penggunaan media sosial lokal dan global, tetapi juga layanan internet satelit yang selama ini menjadi jalur informasi alternatif bagi aktivis. Pemutusan koneksi ini dilakukan dengan cara memutus rute komunikasi melalui infrastruktur darat dan menghambat koneksi luar seperti Starlink.
Tujuan utama pemerintah Iran adalah mengontrol narasi dan meminimalkan dokumentasi aksi protes yang dapat beredar secara internasional. Dengan menutup akses internet global, pihak berwenang berusaha mengisolasi informasi dan mempermudah pengawasan terhadap komunikasi warga. Langkah ini mirip dengan apa yang dilakukan di negara-negara lain saat mengalami krisis politik atau konflik berskala besar.
2. Starlink: Teknologi Internet Satelit yang Jadi Target
Starlink adalah layanan internet satelit generasi baru dari SpaceX, yang menggunakan konstelasi ribuan satelit di orbit rendah (LEO) untuk menyediakan akses internet ke wilayah mana pun di dunia. Sistem ini tidak bergantung pada infrastruktur kabel atau menara seluler konvensional, sehingga bisa berfungsi di tengah pemadaman jaringan tradisional.
Keunggulan utama Starlink adalah kemampuan untuk tetap terhubung dengan jaringan satelit meskipun jaringan lokal sedang terganggu, sesuatu yang membuatnya populer di kalangan warga yang mengalami pemblokiran internet negara. Ini juga alasan mengapa Starlink dilarang secara resmi di Iran dan menjadi fokus kontrol teknologi dalam situasi ini.
Meskipun ilegal, terminal Starlink tetap banyak digunakan oleh warga Iran — dengan perkiraan puluhan ribu unit yang diselundupkan dan beroperasi tanpa izin resmi. Mereka menjadi harapan terakhir untuk akses informasi di tengah blackout nasional.
Baca juga : Review Lengkap Motor Listrik Adola 2026: Skutik Listrik Canggih untuk Mobilitas Urban Indonesia
3. Taktik Jamming Sinyal Satelit: Cara Iran Mengganggu Starlink
Untuk mengganggu Starlink, Iran menggunakan teknik electronic jamming atau jammer sinyal radio frekuensi (RF) yang mirip dengan taktik yang digunakan Rusia terhadap jaringan ini di Ukraina. Teknik ini memancarkan interferensi kuat di frekuensi yang sama dengan yang digunakan oleh Starlink, sehingga paket data yang dikirim dan diterima menjadi terganggu.
Pada awal blackout, gangguan ini menyebabkan sekitar 30 persen paket data Starlink hilang, dan meningkat hingga lebih dari 80 persen di beberapa wilayah — membuat koneksi internet melalui satelit menjadi tidak stabil dan sangat terbatas.
Selain jamming frekuensi komunikasi, laporan juga menyebut pemerintah Iran menggunakan spoofing GPS untuk mengelabui terminal Starlink yang bergantung pada sinyal GPS untuk mengorientasikan antenanya terhadap satelit. Teknik ini menyebabkan terminal sulit menentukan posisi dan mempertahankan koneksi yang stabil.
4. Russia dan China Sebagai Sumber Teknologi Gangguan
Beberapa analis percaya bahwa Iran mendapatkan bantuan teknologi dari Rusia atau China dalam menciptakan sistem jamming tingkat militer yang diperlukan untuk mengganggu sinyal satelit secara efektif. Rusia sendiri telah menggunakan teknologi jamming semacam ini dalam konteks konflik di Ukraina selama beberapa tahun terakhir.
Sistem peperangan elektronik yang dikembangkan di Rusia seperti Krasukha-4, yang bisa mengganggu komunikasi satelit dalam radius besar, diyakini menjadi inspirasi atau sumber teknologi bagi sistem serupa yang kini digunakan di Iran.
Keterlibatan teknologi semacam ini menunjukkan bahwa kontrol internet modern dan pelumpuhan layanan satelit kini bukan hanya soal perangkat lunak — tetapi juga perangkat keras dan teknik peperangan elektronik canggih yang melibatkan banyak aktor global.
5. Dampak pada Akses Warga: Risiko, Penangkapan, dan Hukuman
Penggunaan Starlink di tengah pemadaman internet tidak tanpa risiko bagi warga Iran. Pemerintah telah memberlakukan larangan tegas terhadap penggunaan teknologi ini, termasuk ancaman hukuman penjara selama enam bulan hingga dua tahun bahkan sanksi yang lebih berat jika terminal lebih dari satu dibawa oleh individu atau organisasi yang sama.
Beberapa laporan dan pengakuan warga menunjukkan bahwa aparat keamanan melakukan penyisiran rumah dan atap bangunan untuk mencari perangkat Starlink yang dipasang secara sembunyi-sembunyi. Ini menunjukkan seberapa serius pemerintah berupaya mengekang penggunaan layanan yang dianggap “berbahaya bagi narasi resmi”.
Keamanan digital dan fisik bagi pengguna Starlink menjadi masalah besar — karena tidak hanya data komunikasi yang terancam diblokir, tetapi juga risiko ancaman hukum dan pengawasan langsung terhadap pemilik perangkat.
6. Starlink Sebagai Penopang Komunikasi Saat Blackout
Meskipun gangguan jamming signifikan, layanan Starlink tetap menjadi salah satu sumber koneksi paling stabil bagi warga Iran dan aktivis untuk mengirim pesan teks atau update singkat, terutama setelah jaringan tradisional terputus.
Beberapa organisasi internasional dan pengamat menyatakan bahwa akses ini sangat penting untuk mengirimkan bukti pelanggaran HAM, menyebarkan informasi protes, dan menghubungkan dunia luar dengan apa yang terjadi di lapangan.
Laporan juga menyebut bahwa Starlink tetap “defies shutdown” hingga titik tertentu meskipun terus mengalami gangguan dari aparat — menjadi contoh bagaimana teknologi satelit dapat membantu rakyat di tengah kontrol informasi ketat oleh pemerintah.
7. Pelajaran dari Rusia–Ukraina: Teknologi vs Kontrol Negara
Taktik yang digunakan Iran memiliki banyak persamaan dengan cara Rusia berusaha mematikan atau mengganggu layanan Starlink di Ukraina: penggunaan jammer frekuensi, spoofing sinyal, dan perangkat peperangan elektronik untuk menonaktifkan konektivitas alternatif.
Kasus ini menunjukkan bahwa seiring berkembangnya teknologi satelit global, negara-negara yang merasa terancam oleh informasi bebas mencoba menerapkan langkah kontrol yang serupa — bahkan jika itu berarti menonaktifkan sistem komunikasi yang lebih tahan sensor daripada internet darat.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa dalam konflik modern, internet bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi bagian dari medan informasi yang strategis — di mana teknologi dan geopolitik saling bertabrakan.
8. Apa Artinya bagi Dunia: Ancaman dan Peluang Teknologi Satelit
Kasus Iran dan Starlink menunjukkan bahwa internet satelit bisa sangat kuat sebagai alat kebebasan informasi, tapi juga bisa menjadi target kontrol negara. Ketika satelit digunakan untuk bypass sensor pemerintah, negara yang berkuasa akan mencari cara untuk menutupnya kembali — melalui hukum, penindakan fisik, atau teknologi gangguan.
Ini membuka diskusi lebih luas tentang masa depan kebebasan digital, di mana akses global terhadap informasi selalu menjadi permainan antara kekuatan teknologi dan kekuatan politik yang mencoba mengendalikannya.
Bagi pengguna di seluruh dunia, pengalaman ini adalah pengingat bahwa teknologi komunikasi canggih seperti Starlink bukan hanya soal koneksi cepat, tetapi juga tentang hak atas informasi, privasi, dan kebebasan ekspresi di era digital.
Kesimpulan
Upaya Iran dalam mematikan internet Starlink dengan meniru taktik Rusia di Ukraina menunjukkan bahwa kontrol atas komunikasi digital kini menjadi bagian penting dari konflik modern. Strategi ini melibatkan teknologi jamming sinyal, GPS spoofing, serta pengawasan ketat terhadap perangkat, yang semuanya menciptakan hambatan besar bagi akses internet bebas di tengah krisis politik.
Namun sekaligus, Starlink tetap menjadi simbol bahwa teknologi satelit bisa menjadi alat kuat untuk mengatasi sensor dan blackout, membantu masyarakat tetap terhubung ketika jaringan tradisional gagal — walau risikonya sangat tinggi bagi pengguna di wilayah yang otoritasnya membatasi kebebasan informasi.
Kisah ini memperlihatkan konflik antara teknologi dan negara, di mana kebebasan informasi dan kontrol pemerintahan saling beradu di era digital yang semakin kompleks.