Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) saat ini bukan lagi sekadar tren teknologi. Bagi umat Islam, AI telah memasuki berbagai aspek kehidupan, termasuk cara beribadah, belajar agama, hingga membantu proses ijtihad dan pengambilan keputusan keagamaan yang kompleks. Perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan: bagaimana umat Islam menyikapi AI secara bijak, memanfaatkannya secara etis, serta tetap menjaga nilai-nilai agama yang fundamental?
Dalam kesempatan pengajian di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, menegaskan bahwa AI sudah menjadi bagian dari realitas hidup religius dan tidak boleh diabaikan. Menolak teknologi sepenuhnya justru berisiko membuat umat tertinggal secara peradaban — hal yang pernah terjadi saat dunia Islam terlambat menerima mesin cetak pada masa lalu.
Artikel ini merangkum 7 cara utama AI bisa dimanfaatkan dalam konteks ibadah dan ijtihad, serta bagaimana kita bisa meresponsnya sesuai dengan kerangka etika dan syariat.
1. AI sebagai Pendukung Praktik Ibadah Sehari-hari
AI bisa membantu umat Islam melakukan ritual ibadah dengan lebih mudah dan tepat. Di Masjidil Haram, misalnya, teknologi AI digunakan untuk memberikan informasi praktis seperti arah lokasi, kepadatan jamaah, hingga layanan pengantaran Al-Qur’an dan air minum — sebuah bentuk teknologi nyata yang mendukung kenyamanan ibadah umat.
Selain itu, AI turut digunakan sebagai pendamping dalam belajar dan memantau bacaan Al-Qur’an. Beberapa aplikasi berbasis AI dapat mengoreksi tajwid, melatih tartil, atau membantu menyimak hafalan ketika orang tidak menemukan guru langsung. Fitur tersebut tidak menggantikan guru, tetapi bisa mempercepat proses pembelajaran bagi yang sedang berlatih sendiri.
Jika dimanfaatkan secara tepat, AI dapat jadi asisten digital ibadah yang mendukung disiplin dan ketepatan ritual, terutama di era masyarakat digital yang semakin dinamis.
2. AI sebagai Alat Bantu dalam Proses Ijtihad dan Keputusan Keagamaan
Dalam tradisi Islam, ijtihad adalah usaha sungguh-sungguh untuk memahami hukum syara’ dalam konteks persoalan kontemporer. AI dapat membantu mempercepat proses itu, misalnya dalam mengolah data teks syariat atau menyusun kalender ibadah berdasarkan variabel kompleks.
Sebagai contoh, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah memakai AI dalam pengembangan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) — sebuah sistem penetapan awal bulan yang mempertimbangkan data astronomi dari seluruh dunia. Perhitungan yang rumit ini menjadi lebih efisien dengan bantuan AI, memungkinkan pengumuman ijtihad segera dan terencana jauh hari sebelum hari-hari penting Islam.
Ini menunjukkan bahwa dalam ijtihad kontemporer, teknologi bisa menjadi alat analisis yang akurat, memperkaya kajian lama dengan jumlah data yang jauh lebih besar dan terstruktur.
Baca juga : Aplikasi Terbaik untuk Kucing dan Pemiliknya: 7 Rekomendasi Terlengkap 2026
3. Perluasan Akses Informasi Keagamaan dan Dakwah
AI juga membuka peluang besar dalam penyebaran dakwah dan akses informasi Islam secara global. Teknologi seperti chatbot, sistem rekomendasi konten, atau pencarian berbasis AI dapat menyampaikan materi dakwah, tafsir, dan kajian Islam secara cepat kepada siapa pun yang mencari jawabannya — tanpa harus menunggu lama atau bepergian ke tempat kajian.
Beberapa program AI bahkan bisa menjawab pertanyaan terkait ibadah, fiqh, atau sejarah Islam secara otomatis, sekaligus membantu memahami teks keagamaan yang kompleks lewat natural language processing. Ini membantu umat yang berada di daerah terpencil atau jauh dari akses ulama secara langsung.
Tentu saja, AI tidak menggantikan otoritas ulama, tetapi sebagai alat penyebaran informasi dan pendidikan, AI dapat memperluas jangkauan dakwah ke level yang sebelumnya sulit dicapai.
4. Memperkuat Kemampuan Literasi Digital Umat
AI menghadirkan risiko, mulai dari bias algoritma hingga informasi yang tidak akurat. Itulah sebabnya Muhammadiyah menekankan pentingnya literasi digital dan etika AI, terutama di kalangan umat Islam, agar tidak gagap teknologi dan terjebak dalam disinformasi.
Melalui literasi digital, umat diajak memahami bukan hanya cara menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerja, keterbatasan, dan potensi bahaya etisnya. Ini termasuk kemampuan memverifikasi jawaban AI, mengevaluasi sumber, dan memastikan informasi sesuai dengan prinsip Islam seperti maqasid al-syari’ah (tujuan syariat) dan etika komunikasi.
Dengan literasi yang kuat, AI yang digunakan dalam konteks keagamaan bisa mendukung pemikiran kritis sehingga umat tetap menjadi subjek aktif dalam interpretasi dan bukan sekadar konsumen pasif teknologi.
5. Kolaborasi antara Ulama dan Developer AI
Untuk memastikan AI menghasilkan konten yang sesuai dengan nilai Islam, perlu adanya kolaborasi antara ulama dan pengembang teknologi. AI tidak punya moral atau kesadaran sendiri — ia hanya memproses data dan memberikan keluaran berdasarkan algoritma. Keputusan moral tetap berada pada manusia yang mengarahkannya.
Kolaborasi ini bisa berarti melatih model AI dengan data yang dirumuskan oleh ahli fiqh dan bahasa Arab yang kompeten, sehingga output yang dihasilkan lebih relevan dan kontekstual. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa AI bisa membantu ijtihad kolektif jika digunakan sebagai partner analisis, bukan pengganti ijtihad manusia.
Dengan demikian, dialog antara teologi dan teknologi menjadi kunci untuk memastikan AI *memperkuat — bukan merusak — proses keagamaan.
6. AI untuk Memperkuat Penelitian Islam dan Digital Humanities
Tidak hanya untuk ibadah dan dakwah, AI juga berperan dalam penelitian ilmu Islam dan digital humanities. Misalnya, teknologi pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing/NLP) dapat digunakan untuk mengelompokkan, menganalisis, dan menstrukturkan teks-teks klasik Islam seperti hadith atau kitab fiqh.
Model AI dapat menangani jutaan data teks, mengidentifikasi pola, dan menyajikan ringkasan yang mempermudah peneliti untuk menjelajahi literatur Islam lebih cepat dan akurat. Ini membantu para cendekiawan memahami hubungan tema, perubahan terminologi, atau tren interpretatif dalam sejarah teks Islam.
Pendekatan semacam ini menunjukan bahwa AI bukan sekedar alat bantu administratif, tetapi juga partner strategi dalam pengembangan ilmu Islam modern.
7. Etika AI: Tujuan, Penggunaan, dan Batasan Syariat
Salah satu pesan penting dalam respons Muhammadiyah terhadap AI adalah bahwa teknologi harus ditempatkan dalam kerangka etika dan syariat. AI bersifat netral, dan yang menentukan baik-buruknya adalah tujuan serta cara penggunaannya.
Dalam Islam ada prinsip-prinsip dasar, seperti al-ashlu fil manafi’ al-ibahah (hukum asal adalah mubah atau diperbolehkan jika tidak ada dalil yang melarang), lil wasail ahkamul maqasid (aturan sarana mengikuti tujuan akhir), serta ad-dhararu yuzal (kemudaratan harus dihilangkan), yang bisa dijadikan landasan menyikapi AI.
Hal ini berarti umat Islam tidak hanya sekadar menggunakan AI, tetapi juga menetapkan garis etika, meminimalkan bahaya, dan memaksimalkan manfaatnya sesuai dengan prinsip Islam. Misalnya, menghindari penyalahgunaan seperti penyebaran informasi palsu, ketergantungan berlebihan, atau penyimpangan nilai moral.
Tips Praktis untuk Umat dalam Memanfaatkan AI
Agar AI efektif dan selaras dengan nilai keagamaan, berikut tips yang bisa diadopsi oleh individu dan komunitas Islam:
✅ Pelajari fitur AI secara mendalam
Jangan hanya menggunakan AI secara pasif; pahami cara kerjanya, sumber data yang digunakan, serta batasannya.
✅ Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti manusia
AI boleh mempercepat pekerjaan, tetapi tidak menggantikan peran ulama, pendamping, atau guru dalam urusan agama dan keputusan penting.
✅ Terus tingkatkan literasi digital berbasis syariah
Kegiatan belajar tentang etika teknologi dan syariat digital akan membantu menghindari dampak negatif seperti bias algoritma dan disinformasi.
✅ Kolaborasi antara ulama, ahli teknologi, dan masyarakat
Bangun dialog antara para ahli agama dan teknologi untuk menciptakan solusi AI yang etis, akurat, dan bermanfaat bagi umat.
Kesimpulan
AI merupakan kenyataan teknologi yang tidak bisa dihindari dan justru dapat menjadi alat penting dalam mendukung praktik ibadah, proses ijtihad, dakwah, pendidikan, dan penelitian Islam — selama digunakan secara bijak dan etis. Pandangan Muhammadiyah menggambarkan bahwa umat Islam perlu merespons dengan sikap progresif namun kritis, menggabungkan kemampuan teknis AI dengan nilai-nilai Islam yang kuat.
AI seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman semata, tetapi sebagai mitra teknologi yang dapat memperluas peluang umat Islam di era digital — dengan pengawasan syariat, literasi etika, dan kolaborasi cerdas antara ulama dan pengembang.