Mendikdasmen Tegaskan AI Tak Akan Gantikan Peran Guru: Mengapa Pendidikan Butuh Sentuhan Manusia

Pendidikan adalah fondasi peradaban. Di tengah cepatnya kemajuan teknologi—terutama kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI)—banyak pihak mulai bertanya: Apakah AI akan menggantikan guru di sekolah? Isu ini menjadi perhatian global karena menyentuh masa depan sistem pendidikan, peran tenaga pendidik, dan kesiapan generasi muda dalam menghadapi era digital.

Baru‑baru ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa AI tidak akan menggantikan peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah. Pernyataan ini menggemakan bagaimana pemerintah memandang hubungan antara teknologi dan manusia dalam pendidikan modern.

Dalam artikel ini, kita akan mengupas alasan pernyataan tersebut, konteks AI dalam pendidikan Indonesia, tantangan yang dihadapi guru di era digital, hingga peran AI sebagai alat bantu — bukan pengganti — dan bagaimana berbagai program pemerintah mendukung kesiapan pendidik masa depan.

 1. Mengapa AI Tidak Bisa Menggantikan Guru ?

Ketika berbicara soal penggunaan AI dalam pendidikan, banyak orang berpikir bahwa kecerdasan mesin mampu melakukan tugas manusia secara penuh. Namun menurut Mendikdasmen, meskipun AI berkembang pesat, peran guru tetap tak tergantikan karena terdapat aspek‑aspek pembelajaran yang hanya bisa dilakukan oleh manusia.

Menurutnya, guru memiliki pengalaman, nilai moral, serta dimensi kemanusiaan yang tidak bisa dihadirkan oleh teknologi. Ini mencakup kemampuan untuk memahami kondisi psikologis siswa, menanamkan karakter, memberikan motivasi emosional, dan membentuk hubungan sosial yang meningkatkan efektivitas belajar—hal yang jauh melampaui sekadar transfer pengetahuan.

AI mungkin bisa menyajikan konten edukasi atau menjawab pertanyaan faktual, namun ia tidak memiliki nilai moral, etika, serta pengalaman hidup yang menjadi bagian penting dari proses pendidikan. Itulah sebabnya peran guru tetap utama dalam membimbing siswa secara holistik.

 2. AI Sebagai Alat Bantu — Bukan Pengganti

Meskipun AI tidak menggantikan guru, teknologi ini tetap memiliki peran penting sebagai alat bantu dalam pembelajaran. AI dapat digunakan untuk mengakses sumber belajar secara cepat, membantu guru dalam menyusun materi, atau mengelola penilaian. Ini berarti teknologi membantu efisiensi proses belajar mengajar, bukan mengambil alih peran manusia.

Contohnya, AI bisa memberikan latihan soal adaptif berdasarkan kemampuan siswa, membantu mendeteksi minat belajar individu, atau menjadi tutor virtual saat guru tidak hadir. Namun, keputusan akhir tentang bagaimana materi disampaikan, bagaimana suasana kelas dikendalikan, serta bagaimana hubungan guru‑siswa dibangun tetap berada di tangan pendidik.

Penggunaan AI sebagai asisten pendidik bisa memperkaya pengalaman belajar siswa dan membantu guru lebih fokus pada aspek‑aspek yang berhubungan dengan perkembangan karakter dan pemikiran kritis siswa.

Baca juga  :  Motorola Moto G86 Power 5G: Smartphone Mid-Range yang Lengkap dan Tahan Lama

3. Pendidikan Indonesia dan Integrasi AI di Kurikulum

Tidak berarti pemerintah atau Kemendikdasmen anti‑teknologi. Bahkan, pemerintah tengah mempersiapkan integrasi AI dan coding dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Menurut pernyataan sebelumnya, kurikulum coding dan AI tengah menunggu penerbitan peraturan menteri untuk diimplementasikan di sekolah, khususnya sebagai bagian mata pelajaran pilihan.

Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah menyadari kebutuhan pendidikan yang relevan dengan tantangan global. Namun, meskipun materi terkait AI diajarkan di sekolah, hal itu bukan untuk menjadikan AI sebagai pengganti guru, melainkan agar siswa dan guru siap menghadapi era digital yang semakin canggih.

4. Kompetensi Guru di Era Digital: Kunci Transformasi Pembelajaran

Sejalan dengan pernyataan tersebut, kemampuan guru sendiri menjadi aspek penting dalam memanfaatkan teknologi secara efektif. Kemendikdasmen menekankan bahwa kompetensi guru—terutama dalam penggunaan teknologi dan bahasa asing—menjadi kunci dalam transformasi pembelajaran di era digital.

Dalam konferensi internasional pendidikan Bahasa Inggris, Mendikdasmen menjelaskan bahwa kemampuan guru dalam menguasai bahasa serta keterampilan digital perlu ditingkatkan. AI dapat mendukung, tetapi kemahiran manusia dalam konteks pendidikan tetap fundamental.

Program pelatihan bagi guru sedang disiapkan untuk membantu mereka memanfaatkan teknologi dan AI secara efektif dalam mengajar, tanpa mengorbankan peran utama mereka sebagai pengasuh pendidikan.

5. Pendidikan dan Literasi Digital: Membangun Kepercayaan dalam Era AI

Selain pelatihan guru, pemerintah juga fokus pada literasi digital untuk seluruh masyarakat, termasuk siswa. Kemendikdasmen telah menyiapkan panduan tentang literasi digital, pelajaran informatika, dan pemanfaatan AI agar teknologi dipahami dan digunakan secara etis dan bertanggung jawab.

Pendidikan literasi digital tidak hanya penting bagi guru atau siswa, tetapi juga bagi orang tua, pendidik nonformal, serta masyarakat luas, guna menciptakan lingkungan yang aman dan produktif di era teknologi canggih.

6. AI, Pendidikan Mendalam, dan Pembelajaran Kreatif

Penerapan AI dalam pendidikan bukan sekadar otomatisasi pengajaran. Kemendikdasmen menargetkan ribuan sekolah untuk mengimplementasikan pembelajaran mendalam dan penggunaan AI secara terintegrasi sebagai bagian dari model pendidikan yang lebih kreatif dan bermakna.

Program pembelajaran mendalam ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas belajar siswa dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan relevan dengan tantangan abad 21, di mana penggunaan teknologi semestinya menjadi bagian dari proses belajar mengajar yang dinamis.

7. Tantangan Guru di Era AI: Mengajar dengan Sentuhan Kemanusiaan

Walaupun teknologi semakin maju, aspek kemanusiaan tetap tidak tergantikan. Guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, nilai moral, dan empati — sesuatu yang tidak dimiliki AI. Para ahli pendidikan menekankan bahwa kemampuan seperti memperhatikan ekspresi siswa, membaca dinamika kelas, serta memberikan dorongan motivasi adalah hal‑hal yang menjadi inti pekerjaan guru.

Dalam diskusi dan workshop di berbagai lembaga pendidikan, pendidik sering menegaskan bahwa AI hanyalah tools yang membantu tugas mengajar, sementara peran utama guru adalah membimbing secara holistik, baik secara akademik maupun emosional.

8. Contoh Kegiatan Penguatan Kompetensi Guru

Untuk mendukung guru menghadapi era digital, berbagai kegiatan seperti webinar tentang penggunaan AI dalam pembelajaran, pelatihan inovatif, dan penggunaan teknologi digital dalam kelas telah digelar. Ini semua bertujuan agar guru tidak hanya paham teknologi, tetapi juga mampu mengintegrasikannya secara kreatif dalam pembelajaran.

Kegiatan semacam ini memberi ruang bagi guru untuk saling berbagi praktik baik, belajar cara membuat materi pembelajaran berbasis AI, dan menemukan cara baru untuk membuat proses belajar lebih menarik dan efektif bagi siswa.

9. Peran Pemerintah dalam Mendukung Guru

Selain pelatihan dan literasi, pemerintah juga memastikan dukungan struktural bagi tenaga pendidik. Komitmen menjaga keberlangsungan guru honorer dan memperbaiki sistem karier bagi pendidik adalah bagian dari upaya menjaga kualitas pendidikan nasional secara menyeluruh.

Kebijakan semacam ini menunjukkan bahwa posisi guru tidak hanya dihargai dalam konteks profesional, tetapi juga dijaga keberlanjutannya sebagai pilar utama pendidikan.

Penutup: Sinergi AI dan Guru — Kunci Pendidikan Masa Depan

Pernyataan Mendikdasmen bahwa AI tidak akan menggantikan guru sejalan dengan pandangan global bahwa teknologi seharusnya menjadi mitra, bukan pengganti manusia dalam pendidikan. AI bisa membantu mempercepat proses belajar, menyediakan sumber daya tambahan, dan meningkatkan kreativitas dalam penyampaian materi. Namun, nilai kemanusiaan, pengalaman, moral, dan sentuhan personal guru tetap tak tergantikan.

Masa depan pendidikan yang ideal bukanlah dengan meniadakan peran manusia di ruang kelas, tetapi dengan sinergi yang bijak antara kemampuan teknologi dan kepakaran guru. Dengan keterampilan digital dan etika yang kuat, guru masa depan akan mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih optimal, tanpa kehilangan esensi pendidikan sebagai kegiatan kemanusiaan.