Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi televisi semakin canggih — dari HD ke Full HD, kemudian 4K UHD, dan akhirnya muncul gagasan tentang 8K. Resolusi 8K sendiri secara teknis merupakan tahap lanjut dari UHD (Ultra High Definition), dengan jumlah piksel total yang empat kali lebih banyak dibanding 4K, dan enam belas kali lebih banyak dari Full HD (1920 × 1080).
Tapi kenyataannya, walaupun dulu sempat dianggap sebagai masa depan televisi, 8K kini justru sedang mengalami masa sulit. Penjualan stagnan, konten native yang minim, sampai mundurnya produsen besar dari pasar ini membuat 8K terlihat “tidak laku sebelum benar-benar berkembang”. Lantas, apa sebenarnya penyebab utama fenomena ini? Simak 3 faktor berikut yang jadi biang kerok banyaknya TV 8K gagal menerobos pasar mainstream 👇
1. Harga yang Terlampau Mahal — Bukan Sekadar Gadget Premium
Bayangkan kamu di toko elektronik dan melihat dua TV berukuran sama — satu 4K, satu lagi 8K. Harga 8K seringkali dua kali lipat atau lebih tinggi dibanding model 4K yang setara. Itu artinya, untuk sekadar mendapatkan lebih banyak piksel, konsumen harus keluar biaya ekstra besar tanpa jaminan pengalaman terbaik.
Penyebabnya kompleks:
Panel 8K lebih mahal diproduksi karena butuh teknologi fabrikasi tingkat lanjut.
Teknologi seperti Mini-LED, AI upscaling, dan backlight canggih sering dipasang untuk membuat 8K terlihat lebih menarik lagi — tetapi lagi-lagi menambah harga akhir.
Produsen juga perlu menutupi biaya R&D, yang belum kembali optimal karena rendahnya permintaan.
Hasilnya? Banyak calon pembeli lebih memilih TV 4K dengan kualitas warna, HDR, dan fitur lain yang lebih terasa manfaatnya dibanding sekadar jumlah piksel ekstra. Bahkan, produsen besar pun mulai menarik diri dari pasar 8K karena penjualan yang tak sepadan dengan investasi mereka.
Analogi sederhananya: membeli TV 8K saat ini seperti membeli supercar untuk pergi belanja mingguan — kelihatan keren, tapi praktikalitasnya minim dibanding mobil biasa yang lebih terjangkau dan tetap nyaman.
2. Minimnya Konten Asli 8K — Siapa yang Mau Nonton?
Mungkin ini yang paling sering dilupakan oleh banyak orang ketika membicarakan TV 8K: apa yang bisa ditonton di TV dengan resolusi tersebut? Jawabannya sampai sekarang tetap: sangat sedikit.
Streaming platform besar seperti Netflix, Disney+, Prime Video, atau TV siaran mayoritas masih berfokus pada 4K atau bahkan HD, karena:
Proses produksi konten 8K jauh lebih mahal dibanding 4K.
Penyimpanan dan bandwidth diperlukan untuk streaming 8K sangat tinggi — tidak semua wilayah punya koneksi internet cepat.
Belum ada format media fisik seperti Blu-ray 8K yang tersedia secara luas untuk konten hiburan mainstream.
Tanpa konten native 8K, hampir semua yang ditonton di TV 8K adalah konten 4K atau HD yang di-upscale oleh TV. Upscaling memang bisa meningkatkan tampilan gambar, tetapi tidak bisa menggantikan detail asli yang direkam pada 8K.
Ini menimbulkan masalah klasik “ayam vs telur” — konten kreator enggan memproduksi konten 8K karena belum banyak orang yang punya TV 8K, dan konsumen enggan membeli TV 8K karena tidak banyak konten yang bisa dinikmati sepenuhnya. Konsekuensinya? Pasar 8K tetap sangat kecil dibanding pasar 4K yang sudah matang.
Bayangkan kamu beli kamera super expensive yang hanya cocok dipakai untuk foto langit malam — keren, tapi keterpakaiannya sangat terbatas jika kamu tak punya banyak momen langit malam untuk direkam.
Baca juga : Kenapa Muncul Garis Hijau di Layar HP? Penyebab, Pencegahan & Cara Mengatasinya
3. Manusia Tidak Dapat “Melihat” Perbedaan Nyata 4K vs 8K di Kebanyakan Situasi
Inilah faktor yang sering jadi “pukulan telak” bagi penjualan TV 8K: walaupun secara angka nyaris 4 kali piksel lebih banyak daripada 4K, perbedaan visual yang dirasakan manusia juga sering terasa minimal — terutama pada jarak nonton normal di rumah.
Penelitian menunjukkan bahwa resolusi yang bisa dipersepsikan oleh mata manusia tergantung pada jarak tontonan, ukuran layar, dan ukuran ruangan. Dalam kondisi umum, banyak orang duduk cukup jauh dari layar — sehingga mata mereka tidak benar-benar “memanfaatkan” setiap piksel ekstra yang ditawarkan 8K.
Alhasil:
Untuk ukuran TV di bawah 75 inci — yang paling umum di rumah — perbedaan antara 4K dan 8K hampir tidak dapat dilihat dari jarak nonton normal.
TV dengan ukuran sangat besar (>80 inci) memang bisa memaksimalkan resolusi 8K, tetapi harganya jauh lebih tinggi sehingga pasar semakin sempit.
Ada ungkapan dalam komunitas teknologi bahwa TV 8K sering menjadi bentuk “pemasaran piksel”, alih-alih inovasi yang benar-benar dirasakan pengguna. Tidak sedikit yang menjulukinya sebagai teknologi yang memaksa konsumen membeli angka besar, tapi tanpa peningkatan pengalaman nyata untuk kebanyakan orang.
Dampak Industri — Merek Besar Mundur dari Pasar 8K
Sekarang kita sudah memahami penyebabnya satu per satu — biaya mahal, konten minim, dan perbedaan visual yang tidak signifikan — mari kita lihat bagaimana ini memengaruhi keputusan industri TV sendiri.
Beberapa brand besar telah berhenti mengembangkan atau memproduksi model TV 8K mereka:
LG ceased production of 8K OLED models dan menghentikan pengembangan 8K panel karena kondisi pasar yang tidak mendukung.
Sony juga telah menarik diri dari segment 8K untuk lini TV konsumen mereka.
TCL, Hisense, dan merek lain mengurangi fokus pada 8K, sementara hanya Samsung yang masih menjual 8K TV secara aktif meskipun dalam jumlah model yang sangat terbatas.
Sekarang, pangsa pasar TV 8K masih hanya sebagian kecil dari total penjualan TV global — bahkan kurang dari 1% di beberapa laporan.
Kenapa Ini Terjadi Sekarang ?
Inti dari kegagalan 8K berkembang menjadi mainstream bukan karena teknologinya “buruk”, tetapi lebih karena kesenjangan antara HARAPAN teknologi dan REALITAS kebutuhan konsumen.
Ketimbang berfokus pada jumlah piksel, kebanyakan pembeli saat ini lebih menghargai:
Kualitas warna melalui HDR yang baik.
Refresh rate tinggi untuk gaming.
Panel yang lebih cerah dan kontras tinggi.
Smart TV dengan fitur dan layanan streaming yang kaya.
Fitur-fitur tersebut sering ada di TV 4K modern — dan orang pun merasa cukup puas dengannya. TV 4K kini menjadi standar yang matang, dengan ekosistem konten yang berkembang pesat serta harga yang kian terjangkau.
Kesimpulan: 8K Bukan Mati, Tapi Tidak Cocok Jadi Arus Utama
Teknologi 8K pada dasarnya luar biasa dari sisi teknologi murni — memiliki jumlah piksel yang sangat tinggi dan mampu menghasilkan gambar teoretis paling tajam. Tetapi dalam praktik konsumen umum, teknologi tersebut belum menawarkan manfaat nyata jika dibandingkan dengan harga yang harus dibayar dan ketersediaan konten yang minim.
Dengan mayoritas merek besar menarik diri dari pasar 8K dan fokus mereka berpindah ke peningkatan pengalaman 4K (misalnya HDR yang lebih cerah, warna lebih kaya, refresh rate lebih tinggi, atau sistem cerdas yang lebih intuitif), 8K kini lebih terlihat sebagai niche market atau solusi di sektor profesional tertentu (misalnya bioskop rumah super besar atau penggunaan komersial).
Ini mengingatkan kita pada sejarah teknologi lain yang sempat hype seperti 3D TV dulu — menarik di awal, tetapi pada akhirnya tidak bisa mengatasi kebutuhan riil pengguna layar biasa.
📌 Intinya: 8K TV layu sebelum berkembang karena:
Harga sangat mahal sehingga sulit dijangkau konsumen biasa.
Konten native 8K sangat terbatas, membuat fitur itu hampir tidak dipakai.
Perbedaan visual 8K vs 4K sulit dilihat kecuali dalam kondisi sangat spesifik.
Kalau tren industri terus seperti ini, bukan tidak mungkin teknologi masa depan TV akan lebih fokus pada pengalaman visual keseluruhan — seperti HDR lebih maju, warna lebih nyata, refresh rate tinggi, atau teknologi canggih lain — bukan sekadar menambah jumlah piksel semata.