6 Fakta Sustainable Aviation Fuel, Bahan Bakar Masa Depan Pesawat
Industri penerbangan menyumbang sekitar 2–3 persen emisi karbon global, angka yang terlihat kecil tetapi berdampak besar karena emisi terjadi di ketinggian atmosfer. Di tengah tekanan dekarbonisasi dan target net zero 2050, sektor aviasi menghadapi dilema: permintaan terbang terus naik, sementara alternatif teknologi seperti pesawat listrik masih terbatas untuk jarak pendek. Di sinilah Sustainable Aviation Fuel (SAF) hadir sebagai solusi transisi paling realistis.
SAF digadang-gadang sebagai bahan bakar masa depan pesawat karena dapat langsung digunakan pada mesin jet yang ada tanpa perlu desain ulang besar-besaran. Sejumlah maskapai global mulai melakukan uji coba dan penerbangan komersial berbasis campuran SAF. Namun, di balik gaung ramah lingkungannya, masih banyak hal yang perlu dipahami publik. Berikut enam fakta penting tentang Sustainable Aviation Fuel.
1. Apa Itu Sustainable Aviation Fuel dan Mengapa Dianggap Strategis?
Sustainable Aviation Fuel adalah bahan bakar penerbangan yang diproduksi dari sumber non-fosil dan dirancang untuk menurunkan emisi karbon sepanjang siklus hidupnya. Berbeda dengan avtur konvensional yang berasal dari minyak bumi, SAF bisa dibuat dari limbah biomassa, minyak jelantah, residu pertanian, hingga bahan sintetis berbasis hidrogen dan karbon daur ulang.
Keunggulan utama SAF adalah kompatibilitasnya dengan armada pesawat yang sudah beroperasi. Produsen mesin dan pesawat seperti dan telah menyatakan komitmen agar pesawat generasi baru mampu terbang dengan 100 persen SAF dalam beberapa dekade mendatang. Saat ini, regulasi internasional umumnya masih membatasi campuran SAF dengan avtur konvensional hingga persentase tertentu demi menjaga standar keselamatan.
Secara strategis, SAF dianggap sebagai solusi jangka menengah hingga panjang karena tidak memerlukan revolusi infrastruktur total seperti pesawat listrik atau hidrogen. Bandara, tangki penyimpanan, dan sistem distribusi dapat tetap digunakan dengan penyesuaian minimal.
2. Emisi Bisa Turun Signifikan, Tapi Bukan Nol
Salah satu klaim utama SAF adalah kemampuannya menurunkan emisi karbon hingga 80 persen dibanding bahan bakar jet konvensional, tergantung jenis dan metode produksinya. Pengurangan ini dihitung berdasarkan life cycle assessment—mulai dari pengumpulan bahan baku, proses produksi, distribusi, hingga pembakaran di mesin pesawat.
Namun, penting dicatat bahwa SAF bukan bahan bakar tanpa emisi. Saat dibakar, SAF tetap menghasilkan karbon dioksida. Perbedaannya terletak pada siklus karbonnya: bahan baku seperti tanaman atau limbah organik sebelumnya telah menyerap karbon dari atmosfer, sehingga total emisi bersihnya lebih rendah dibanding bahan bakar fosil yang melepaskan karbon “baru” dari dalam bumi.
Selain CO₂, SAF juga berpotensi mengurangi partikel jelaga dan emisi sulfur, yang berkontribusi pada pembentukan contrails dan dampak pemanasan tambahan. Meski demikian, efektivitas lingkungan SAF sangat bergantung pada praktik produksi yang berkelanjutan dan tidak merusak hutan atau lahan pangan.
Baca juga : Taksi Terbang Segera Hadir? 7 Fakta Teknologi eVTOL yang Perlu Kamu Tahu
3. Sumber Bahan Baku Sangat Beragam
SAF tidak berasal dari satu jenis bahan baku. Saat ini, jalur produksi paling umum adalah HEFA (Hydroprocessed Esters and Fatty Acids) yang menggunakan minyak nabati bekas atau lemak hewani. Bahan seperti minyak jelantah restoran menjadi komoditas berharga dalam rantai pasok energi baru ini.
Selain itu, terdapat jalur produksi berbasis limbah pertanian, kayu, hingga sampah kota yang diolah melalui proses gasifikasi dan sintesis menjadi bahan bakar jet. Di masa depan, e-fuel atau power-to-liquid fuel diprediksi menjadi terobosan besar. Metode ini menggunakan hidrogen hijau (hasil elektrolisis air dengan energi terbarukan) dan karbon yang ditangkap dari udara untuk menghasilkan bahan bakar sintetis.
Keragaman bahan baku ini menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Di satu sisi, banyak negara bisa memanfaatkan sumber daya lokal. Di sisi lain, ketersediaan bahan baku berkelanjutan dalam skala besar masih menjadi hambatan utama.
4. Produksi Masih Terbatas dan Biaya Tinggi
Meski potensinya besar, produksi SAF global masih jauh di bawah kebutuhan industri penerbangan. Saat ini, SAF hanya menyumbang sebagian kecil dari total konsumsi bahan bakar jet dunia. Permintaan terus meningkat, tetapi kapasitas produksi belum mampu mengejar target dekarbonisasi yang dicanangkan berbagai negara.
Biaya menjadi faktor penghambat utama. Harga SAF bisa dua hingga lima kali lebih mahal dibanding avtur konvensional, tergantung skala produksi dan teknologi yang digunakan. Tanpa insentif pemerintah, subsidi, atau kebijakan kewajiban campuran (blending mandate), maskapai akan kesulitan menanggung selisih biaya tersebut.
Beberapa kawasan mulai bergerak lebih progresif. Uni Eropa menerapkan kebijakan pencampuran wajib SAF secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan. Amerika Serikat juga menawarkan insentif pajak bagi produsen bahan bakar rendah karbon. Kebijakan seperti ini penting untuk menciptakan kepastian pasar dan menarik investasi jangka panjang.
5. Maskapai Dunia Mulai Beralih
Sejumlah maskapai global telah melakukan penerbangan komersial menggunakan campuran SAF. Perusahaan seperti , , dan aktif mengumumkan pembelian SAF dalam jumlah besar sebagai bagian dari strategi keberlanjutan mereka.
Langkah ini bukan hanya soal citra ramah lingkungan, tetapi juga tekanan regulasi dan ekspektasi investor. Konsumen korporasi besar bahkan mulai meminta opsi penerbangan rendah karbon untuk perjalanan bisnis mereka. SAF menjadi solusi paling cepat untuk menurunkan jejak karbon tanpa menunggu teknologi pesawat baru matang.
Beberapa maskapai juga menawarkan program carbon insetting, di mana pelanggan dapat membayar tambahan biaya untuk mendukung penggunaan SAF pada rute tertentu. Model ini membantu mempercepat adopsi sambil membangun kesadaran publik.
6. Bukan Solusi Tunggal, Tapi Bagian dari Transisi Energi Aviasi
Meski menjanjikan, SAF bukan satu-satunya jawaban untuk dekarbonisasi penerbangan. Industri aviasi membutuhkan kombinasi strategi: peningkatan efisiensi mesin, optimalisasi rute penerbangan, pengembangan pesawat listrik dan hidrogen, serta manajemen lalu lintas udara yang lebih cerdas.
SAF berperan sebagai jembatan penting karena dapat diterapkan sekarang, tanpa menunggu revolusi desain pesawat. Dalam jangka panjang, kemungkinan besar sektor penerbangan akan menggunakan campuran berbagai teknologi energi, tergantung jarak dan kapasitas penerbangan.
Tantangan terbesar adalah skala. Untuk benar-benar menurunkan emisi global, produksi SAF harus meningkat berkali lipat tanpa mengorbankan ketahanan pangan atau menyebabkan deforestasi. Transparansi rantai pasok dan sertifikasi keberlanjutan menjadi kunci agar SAF tidak sekadar menjadi label hijau tanpa dampak nyata.
Kesimpulan: Realistis, Tapi Butuh Komitmen Global
Sustainable Aviation Fuel menawarkan solusi konkret bagi industri penerbangan yang sulit dielektrifikasi dalam waktu dekat. Dengan kompatibilitas tinggi terhadap armada yang ada dan potensi pengurangan emisi signifikan, SAF menjadi bahan bakar transisi paling realistis saat ini.
Namun, realisasinya membutuhkan investasi besar, dukungan kebijakan, serta kolaborasi global antara produsen energi, maskapai, pemerintah, dan lembaga riset. Tanpa dorongan regulasi dan skala produksi yang memadai, SAF akan tetap menjadi produk niche berbiaya tinggi.
Jika target net zero 2050 ingin tercapai, SAF bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan strategis. Masa depan penerbangan rendah karbon tidak akan hadir dari satu inovasi tunggal, tetapi dari kombinasi teknologi—dan SAF adalah salah satu pilar terpenting di dalamnya.