5 Chipset Mid-Range yang Sebaiknya Dihindari pada 2026

5 Chipset Mid-Range yang Sebaiknya Dihindari pada 2026

Perkembangan teknologi chipset smartphone bergerak sangat cepat, bahkan bisa dibilang agresif. Setiap tahun, produsen seperti Qualcomm, MediaTek, dan Samsung berlomba menghadirkan prosesor baru dengan performa lebih tinggi, efisiensi daya lebih baik, serta dukungan teknologi terkini seperti 5G, AI processing, dan kemampuan grafis yang semakin mumpuni.

Masalahnya, di tengah derasnya inovasi tersebut, banyak chipset lama yang masih beredar di pasaran—terutama di smartphone kelas mid-range dengan harga yang tampak menggoda. Bagi pengguna awam, spesifikasi ini sering terlihat “cukup”, padahal jika ditelaah lebih dalam, performanya sudah tertinggal jauh dibanding generasi terbaru.

Tahun 2026 menjadi titik di mana beberapa chipset mid-range lawas sebaiknya mulai dihindari. Bukan karena tidak bisa digunakan sama sekali, tetapi karena sudah tidak relevan untuk kebutuhan modern seperti multitasking berat, gaming, hingga konsumsi konten berkualitas tinggi. Berikut pembahasan lengkapnya.

Qualcomm Snapdragon 732G: Sudah Terlalu Tua untuk Standar Sekarang

Dirilis pada tahun 2020, Snapdragon 732G dulu sempat menjadi primadona di kelas menengah. Chipset ini menawarkan performa yang cukup stabil untuk gaming ringan hingga menengah, serta efisiensi daya yang lumayan di zamannya.

Namun, memasuki 2026, usianya yang sudah lebih dari lima tahun mulai terasa. Dengan fabrikasi 8 nm, chipset ini kalah efisien dibandingkan prosesor modern yang sudah menggunakan teknologi 6 nm bahkan 4 nm. Dampaknya cukup terasa: konsumsi daya lebih boros dan suhu perangkat lebih mudah naik.

Selain itu, Snapdragon 732G juga tidak mendukung jaringan 5G. Di era sekarang, di mana 5G mulai menjadi standar bahkan di HP kelas menengah, kekurangan ini menjadi poin minus besar.

Jika dibandingkan dengan chipset seperti MediaTek Helio G99 yang lebih baru, performanya memang tidak jauh berbeda. Namun G99 menawarkan efisiensi lebih baik berkat fabrikasi lebih modern. Artinya, memilih 732G di 2026 bukanlah keputusan yang bijak, kecuali kamu benar-benar mencari perangkat super murah.

Baca juga :  Apakah CapCut Pro Worth It untuk Pemula? Ini Jawaban Jujurnya

MediaTek Dimensity 700: 5G Murah, Tapi Sudah Ketinggalan

Dimensity 700 sering dijual sebagai “chipset 5G terjangkau”. Dan memang benar, pada saat rilisnya di tahun 2020, chipset ini menjadi salah satu pintu masuk ke dunia 5G bagi pengguna budget.

Namun, waktu tidak berpihak padanya.

Dengan fabrikasi 7 nm dan clock speed sekitar 2.2GHz, performanya kini sudah terasa biasa saja, bahkan cenderung tertinggal. Untuk penggunaan ringan seperti media sosial dan streaming mungkin masih aman, tetapi untuk multitasking atau gaming modern, performanya mulai kewalahan.

Masalah lain ada di kemampuan multimedia. Perekaman video hanya mentok di 2K 30FPS, yang di 2026 terasa kurang kompetitif. Banyak chipset baru di kelas yang sama sudah mendukung perekaman lebih stabil dan kualitas lebih tinggi.

Sebagai perbandingan, chipset seperti MediaTek Dimensity 1080 atau bahkan seri lebih baru menawarkan performa jauh lebih baik dengan efisiensi yang meningkat. Jadi, meskipun label “5G” masih terlihat menarik, Dimensity 700 sebenarnya sudah tidak worth it lagi.

Qualcomm Snapdragon 695: Potensi Besar yang Tidak Tercapai

Snapdragon 695 sebenarnya punya modal yang cukup bagus di atas kertas. Dengan fabrikasi 6 nm, chipset ini seharusnya mampu menawarkan efisiensi daya yang baik serta performa stabil.

Namun dalam praktiknya, chipset ini sering dianggap “tanggung”.

Clock speed yang hanya sekitar 2.2GHz membuat performanya terasa kurang bertenaga, terutama untuk gaming. Banyak pengguna juga mengeluhkan bahwa chipset ini kurang optimal untuk game berat karena GPU-nya tidak cukup kuat.

Keterbatasan lainnya juga cukup mencolok. Snapdragon 695 tidak mendukung perekaman video 4K, hanya mentok di 1080p 60FPS. Di 2026, ini jelas menjadi kekurangan besar, mengingat banyak pengguna kini mulai mengandalkan smartphone untuk konten kreatif.

Selain itu, dukungan konektivitasnya juga belum maksimal karena masih terbatas pada WiFi 5/6 tanpa WiFi 6E. Hal ini membuatnya kalah bersaing dengan chipset yang lebih baru.

Singkatnya, Snapdragon 695 bukanlah pilihan buruk di masa lalu, tetapi di 2026, ada terlalu banyak alternatif yang lebih baik.

MediaTek Helio G96: Masih Terjebak di Teknologi Lama

Jika ada satu chipset yang paling terasa “jadul” di daftar ini, Helio G96 mungkin menjadi jawabannya.

Dirilis sebagai chipset gaming 4G, Helio G96 masih menggunakan fabrikasi 12 nm—angka yang sudah sangat tertinggal dibandingkan standar saat ini. Dampaknya langsung terasa pada efisiensi daya dan suhu perangkat.

Dalam penggunaan sehari-hari, HP dengan Helio G96 cenderung lebih cepat panas dan boros baterai. Untuk gaming, performanya juga tidak terlalu stabil, terutama saat digunakan dalam waktu lama.

Clock speed yang hanya menyentuh 2.0GHz serta kemampuan multimedia yang terbatas membuat chipset ini sulit bersaing. Bahkan dibandingkan dengan chipset entry-level modern, performanya sudah mulai tertinggal.

Di tahun 2026, memilih HP dengan Helio G96 berarti kamu harus siap dengan kompromi besar, terutama dalam hal performa dan efisiensi.

Exynos 1280: Kencang di Atas Kertas, Bermasalah di Lapangan

Berbeda dengan chipset lain di daftar ini, Exynos 1280 sebenarnya cukup menjanjikan secara spesifikasi. Dengan fabrikasi 5 nm, GPU Mali-G68, dan clock speed hingga 2.4GHz, performanya di atas kertas terlihat kompetitif.

Bahkan skor benchmark-nya bisa mencapai 600 ribuan di AnTuTu Benchmark, yang secara teori cukup kuat untuk kebutuhan mid-range.

Namun, masalah utama chipset ini ada pada stabilitas.

Banyak pengguna melaporkan bahwa Exynos 1280 mudah mengalami overheat, bahkan dalam penggunaan ringan sekalipun. Suhu yang tidak stabil ini tentu berdampak pada performa, karena sistem akan menurunkan kecepatan (throttling) untuk menjaga suhu tetap aman.

Akibatnya, performa nyata sering kali tidak sebanding dengan spesifikasi di atas kertas. Dalam beberapa kasus, performanya bahkan terasa setara dengan Snapdragon 695 yang secara teori lebih rendah.

Masalah seperti ini membuat pengalaman pengguna menjadi kurang konsisten, terutama untuk gaming atau penggunaan intensif.

Kenapa Chipset Lama Harus Dihindari di 2026?

Mungkin muncul pertanyaan: apakah chipset lama benar-benar tidak bisa digunakan?

Jawabannya: masih bisa, tapi tidak ideal.

Di 2026, kebutuhan pengguna sudah berubah. Aplikasi semakin berat, game semakin kompleks, dan standar konten semakin tinggi. Chipset lama sering kali tidak mampu mengikuti perkembangan ini dengan baik.

Selain itu, faktor efisiensi juga sangat penting. Chipset dengan fabrikasi lama cenderung lebih boros baterai dan mudah panas. Dalam jangka panjang, ini akan mengurangi kenyamanan penggunaan.

Apa yang Harus Dicari dari Chipset Mid-Range Modern?

Daripada fokus pada apa yang harus dihindari, lebih baik juga memahami apa yang seharusnya dicari.

Beberapa kriteria chipset mid-range yang layak di 2026 antara lain:

Fabrikasi minimal 6 nm atau lebih kecil

Dukungan 5G yang stabil

Kemampuan perekaman minimal 4K

GPU yang cukup kuat untuk gaming modern

Efisiensi daya yang baik

Dengan standar ini, pengalaman penggunaan akan jauh lebih optimal dan tahan lama untuk beberapa tahun ke depan.

Kesimpulan

Memilih smartphone di 2026 tidak bisa hanya melihat harga atau label “mid-range”. Chipset menjadi salah satu faktor paling krusial yang menentukan performa jangka panjang.

Chipset seperti Snapdragon 732G, Dimensity 700, Snapdragon 695, Helio G96, dan Exynos 1280 sebenarnya masih bisa digunakan, tetapi sudah tidak relevan untuk standar saat ini. Terlalu banyak kompromi yang harus diterima, mulai dari performa, efisiensi, hingga fitur.

Jika ingin membeli HP baru, sebaiknya pilih perangkat dengan chipset yang lebih modern. Dengan begitu, kamu tidak hanya mendapatkan performa yang lebih baik, tetapi juga pengalaman penggunaan yang lebih nyaman dan tahan lama.