7 Fitur Android yang Ternyata Lebih Dulu Dipopulerkan iPhone, Bukan Sekadar Android yang Selalu Jadi Pelopor
Persaingan antara Android dan iPhone sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Kedua sistem operasi ini terus bersaing menghadirkan inovasi baru demi memberikan pengalaman terbaik kepada penggunanya. Namun, di tengah persaingan tersebut muncul anggapan bahwa Apple sering memperkenalkan fitur yang sebenarnya sudah lama tersedia di Android.
Pandangan seperti ini memang tidak sepenuhnya salah. Android memang lebih dulu menghadirkan sejumlah fitur populer seperti widget, layar selalu aktif (Always On Display), split screen, hingga kemampuan mengubah aplikasi bawaan. Ketika Apple menghadirkan fitur serupa beberapa tahun kemudian, tidak sedikit pengguna yang menyebutnya sebagai “fitur Android yang baru masuk iPhone.”
Namun kenyataannya, hubungan Android dan iPhone jauh lebih kompleks. Tidak hanya Apple yang mengadopsi ide dari Android, Google beserta para produsen smartphone Android juga beberapa kali mengadaptasi inovasi yang pertama kali diperkenalkan oleh Apple.
Dalam dunia teknologi, saling mengadopsi fitur merupakan hal yang sangat wajar. Bahkan, persaingan inilah yang membuat kedua platform terus berkembang menjadi semakin canggih.
Berikut beberapa fitur Android yang ternyata lebih dulu diperkenalkan oleh iPhone sebelum akhirnya menjadi fitur umum di ekosistem Android.
1. Navigasi Gestur yang Kini Menjadi Standar Smartphone Modern
Sebelum era smartphone bezel tipis, hampir semua ponsel Android menggunakan tiga tombol navigasi di bagian bawah layar, yaitu Back, Home, dan Recent Apps.
Sistem ini memang sederhana dan mudah dipahami. Namun ketika desain layar penuh mulai populer, tombol virtual mulai dianggap memakan ruang layar.
Apple menjadi salah satu perusahaan pertama yang benar-benar meninggalkan tombol Home melalui iPhone X yang dirilis pada tahun 2017.
Sebagai gantinya, Apple memperkenalkan sistem navigasi berbasis gestur.
Pengguna cukup melakukan berbagai gerakan swipe untuk kembali ke halaman utama, berpindah aplikasi, membuka multitasking, hingga mengakses Control Center.
Awalnya banyak yang merasa sistem tersebut cukup membingungkan.
Namun setelah terbiasa, navigasi gestur ternyata jauh lebih cepat dan natural dibanding tombol virtual.
Melihat keberhasilan tersebut, Google akhirnya menghadirkan navigasi gestur secara penuh melalui Android 10 (Android Q) pada tahun 2019.
Menariknya, Android tetap mempertahankan fleksibilitas dengan memberikan pilihan kepada pengguna untuk tetap menggunakan navigasi tiga tombol jika diinginkan.
2. Mode Malam (Night Mode) yang Membantu Mata Lebih Nyaman
Saat ini hampir semua smartphone memiliki fitur yang mampu mengurangi cahaya biru pada layar.
Fitur tersebut dikenal sebagai Night Mode, Night Light, Eye Comfort, atau Blue Light Filter tergantung mereknya.
Tujuan utamanya adalah membuat tampilan layar menjadi lebih hangat sehingga mata terasa lebih nyaman ketika menggunakan smartphone pada malam hari.
Apple menjadi salah satu perusahaan pertama yang memperkenalkan fitur ini melalui Night Shift pada iOS 9.3 yang dirilis pada tahun 2016.
Night Shift secara otomatis mengubah temperatur warna layar sesuai waktu matahari terbenam.
Beberapa bulan kemudian, Android mulai menghadirkan fitur serupa melalui Android 7.0 Nougat.
Kini hampir semua produsen Android bahkan menambahkan pengaturan yang lebih lengkap, termasuk jadwal otomatis hingga tingkat kehangatan warna yang bisa disesuaikan.
Baca juga : 4 Cara Nonton YouTube di TV dengan WiFi, Praktis Pakai Smart TV, Chromecast, hingga STB Android
3. Badge Notifikasi pada Ikon Aplikasi
Android sejak awal memang unggul dalam urusan notification drawer.
Pengguna cukup mengusap layar dari atas untuk melihat seluruh notifikasi secara rapi.
Namun ada satu fitur kecil yang justru lebih dulu dimiliki iPhone, yaitu badge notifikasi.
Badge merupakan angka kecil berwarna merah yang muncul di pojok ikon aplikasi untuk menunjukkan jumlah notifikasi yang belum dibuka.
Fitur sederhana ini sangat membantu pengguna mengetahui aplikasi mana yang membutuhkan perhatian tanpa harus membuka pusat notifikasi.
Apple memperkenalkan badge sejak awal perkembangan iPhone.
Sementara Android baru mulai menerapkan konsep serupa secara resmi pada Android 8.0 Oreo yang dirilis tahun 2017.
Kini badge notifikasi telah menjadi fitur standar di hampir semua smartphone Android.
4. Berbagi File Cepat ala AirDrop yang Menginspirasi Quick Share
Salah satu fitur yang paling disukai pengguna Apple adalah AirDrop.
Teknologi ini memungkinkan pengguna mengirim foto, video, dokumen, maupun file lain dengan sangat cepat tanpa kabel.
AirDrop memanfaatkan kombinasi Bluetooth dan WiFi Direct sehingga proses transfer berlangsung jauh lebih cepat dibanding Bluetooth biasa.
Apple memperkenalkan AirDrop lebih dari satu dekade lalu dan menjadikannya salah satu keunggulan utama ekosistem mereka.
Di sisi lain, Android sempat memiliki berbagai solusi berbeda dari masing-masing produsen.
Google kemudian memperkenalkan Nearby Share pada tahun 2020.
Meski cukup baik, fitur tersebut masih belum semulus AirDrop.
Perubahan besar terjadi ketika Google dan Samsung menyatukan teknologi mereka menjadi Quick Share.
Kini Quick Share menawarkan proses berbagi file yang lebih cepat, lebih stabil, dan kompatibel dengan lebih banyak perangkat Android.
Bahkan perkembangan terbaru membuat transfer file lintas platform menjadi semakin mudah dibanding beberapa tahun lalu.
5. Face Unlock Berbasis Pemindaian Wajah 3D
Android sebenarnya telah mengenalkan fitur Face Unlock jauh sebelum Apple.
Sayangnya, teknologi yang digunakan saat itu masih mengandalkan kamera depan biasa.
Akibatnya, sistem keamanan tersebut mudah dikelabui menggunakan foto pemilik perangkat.
Apple kemudian menghadirkan Face ID melalui iPhone X pada tahun 2017.
Teknologi ini menggunakan sistem TrueDepth Camera yang memproyeksikan ribuan titik inframerah ke wajah pengguna.
Hasilnya adalah pemetaan wajah tiga dimensi yang jauh lebih akurat.
Sistem tersebut mampu mengenali perubahan kecil pada wajah, seperti penggunaan kacamata atau pertumbuhan janggut.
Keamanan Face ID bahkan dianggap cukup tinggi untuk digunakan sebagai autentikasi pembayaran digital maupun aplikasi perbankan.
Melihat keberhasilannya, beberapa produsen Android mulai mengembangkan sistem face unlock berbasis sensor 3D yang jauh lebih aman dibanding generasi sebelumnya.
6. Perekam Layar Bawaan Tanpa Aplikasi Tambahan
Beberapa tahun lalu, merekam layar smartphone bukanlah hal yang mudah.
Pengguna Android harus mengunduh aplikasi tambahan yang sering kali dipenuhi iklan.
Belum lagi masalah kualitas rekaman yang kurang baik.
Apple menjadi salah satu perusahaan pertama yang menghadirkan fitur Screen Recording bawaan melalui iOS 11 pada tahun 2017.
Fitur ini memungkinkan pengguna merekam layar hanya dengan satu sentuhan melalui Control Center.
Google kemudian menghadirkan fitur serupa secara resmi melalui Android 11 pada tahun 2020.
Kini hampir semua smartphone Android memiliki fitur perekam layar bawaan.
Bahkan banyak produsen menambahkan kemampuan merekam suara internal, kamera depan (facecam), hingga pilihan resolusi dan frame rate yang lebih tinggi.
Fitur ini sangat berguna untuk membuat tutorial, merekam permainan, menyimpan siaran langsung, atau mendokumentasikan bug aplikasi.
7. Mode Do Not Disturb untuk Mengurangi Gangguan Notifikasi
Notifikasi memang sangat membantu agar pengguna tidak melewatkan pesan penting.
Namun dalam kondisi tertentu, notifikasi justru menjadi sumber gangguan.
Misalnya ketika sedang rapat, belajar, bekerja, atau tidur.
Apple memahami kebutuhan tersebut lebih awal melalui fitur Do Not Disturb (DND) yang diperkenalkan pada iOS 6 tahun 2012.
Fitur ini memungkinkan pengguna membisukan panggilan maupun notifikasi dalam periode tertentu.
Google baru menghadirkan fitur serupa secara resmi melalui Android 5.0 Lollipop pada tahun 2014.
Seiring berkembangnya sistem operasi, fitur DND kini jauh lebih pintar.
Pengguna dapat membuat berbagai profil sesuai aktivitas.
Misalnya:
- Mode Tidur
- Mode Kerja
- Mode Mengemudi
- Mode Bermain Game
- Mode Belajar
Bahkan pengguna dapat menentukan aplikasi atau kontak tertentu yang tetap diperbolehkan mengirim notifikasi meski mode DND sedang aktif.
Mengapa Android dan iPhone Sering Memiliki Fitur yang Mirip?
Banyak orang menganggap kemiripan fitur sebagai bentuk saling meniru.
Padahal dalam industri teknologi, hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat lumrah.
Sebuah inovasi yang terbukti efektif biasanya akan diadopsi oleh kompetitor agar pengguna juga mendapatkan pengalaman serupa.
Selain itu, kebutuhan pengguna smartphone di seluruh dunia juga relatif sama.
Semua orang menginginkan perangkat yang lebih cepat, lebih aman, lebih hemat baterai, dan lebih nyaman digunakan.
Karena itulah tidak mengherankan apabila Android maupun iPhone akhirnya menghadirkan fitur yang mirip meskipun berasal dari pendekatan yang berbeda.
Perbedaannya justru terletak pada bagaimana masing-masing perusahaan mengembangkan fitur tersebut agar lebih matang.
Sebagai contoh, Android dikenal unggul dalam fleksibilitas dan kustomisasi, sedangkan Apple lebih fokus pada integrasi perangkat keras dan perangkat lunak sehingga fitur yang dihadirkan terasa lebih konsisten.
Persaingan yang Menguntungkan Pengguna
Persaingan antara Apple dan Google sebenarnya memberikan keuntungan besar bagi konsumen.
Ketika salah satu perusahaan meluncurkan inovasi baru, perusahaan lain akan berusaha menghadirkan solusi yang tidak kalah menarik.
Akibatnya, pengguna memperoleh fitur-fitur baru lebih cepat dibanding sebelumnya.
Tidak hanya itu, kualitas implementasi juga terus meningkat karena masing-masing perusahaan berlomba menyempurnakan teknologi yang mereka miliki.
Kini, baik pengguna Android maupun iPhone sama-sama dapat menikmati berbagai fitur canggih yang dahulu mungkin hanya tersedia di salah satu platform.
Kesimpulan
Selama bertahun-tahun, perdebatan mengenai siapa yang lebih inovatif antara Android dan iPhone tampaknya tidak akan pernah selesai. Namun jika melihat sejarah perkembangan smartphone, jelas bahwa kedua platform saling menginspirasi dan belajar satu sama lain.
Fitur seperti navigasi gestur, mode malam, badge notifikasi, berbagi file cepat, face unlock berbasis pemindaian wajah 3D, perekam layar bawaan, hingga Do Not Disturb menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu datang dari satu pihak saja. Android memang lebih dulu memperkenalkan beberapa fitur populer, tetapi Apple juga menjadi pelopor berbagai teknologi yang kemudian diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut oleh ekosistem Android.
Pada akhirnya, persaingan sehat antara Apple dan Google justru menjadi pendorong utama lahirnya berbagai inovasi yang kini dinikmati oleh miliaran pengguna smartphone di seluruh dunia. Semakin ketat persaingan keduanya, semakin besar pula peluang hadirnya fitur-fitur baru yang membuat pengalaman menggunakan smartphone menjadi lebih aman, nyaman, dan produktif.