Mantan Engineer Microsoft Sindir Windows 11? Bikin Notepad Hanya 2,5 KB Tanpa AI dan Tanpa Bloat
Jika mengikuti perkembangan Windows dalam beberapa tahun terakhir, tentu kita sama-sama menyadari bahwa hampir semua aplikasi bawaan Microsoft kini mengalami perubahan besar. Tidak hanya dari sisi tampilan, tetapi juga dari sisi ukuran, kebutuhan memori, hingga jumlah fitur yang terus bertambah.
Notepad menjadi salah satu contoh paling jelas. Aplikasi yang selama puluhan tahun dikenal sebagai editor teks paling sederhana di Windows kini telah mendapatkan berbagai kemampuan baru, mulai dari tab, autosave, dark mode, pemeriksaan ejaan (spell check), autocorrect, hingga integrasi fitur berbasis AI melalui Microsoft Copilot pada versi tertentu.
Bagi sebagian pengguna, perkembangan tersebut merupakan kemajuan yang memang dibutuhkan. Namun bagi pengguna lain, Notepad justru kehilangan identitasnya sebagai aplikasi ringan yang dapat dibuka dalam hitungan milidetik tanpa membebani sistem.
Di tengah perdebatan mengenai software modern yang semakin “gemuk”, muncul sebuah proyek menarik yang seolah menjadi sindiran halus terhadap arah pengembangan aplikasi saat ini.
Proyek tersebut datang dari Dave Plummer, mantan engineer Microsoft yang dikenal pernah ikut mengembangkan berbagai komponen ikonik Windows seperti Task Manager dan game legendaris Space Cadet Pinball.
Kali ini, Dave membuat ulang Notepad dengan ukuran yang benar-benar mengejutkan.
Bukan 2,5 MB.
Bukan pula 250 KB.
Melainkan hanya sekitar 2,5 KB.
Ukuran executable tersebut bahkan lebih kecil dibandingkan banyak ikon aplikasi modern, apalagi jika dibandingkan dengan aplikasi Windows masa kini yang sering kali berukuran puluhan hingga ratusan megabyte.
TinyRetroPad: Notepad Super Kecil dengan Fitur Lengkap
Aplikasi tersebut diberi nama TinyRetroPad.
Meski ukurannya hanya sekitar 2,5 KB, TinyRetroPad ternyata bukan sekadar demo kosong. Aplikasi ini tetap memiliki berbagai fungsi dasar yang selama ini diharapkan dari sebuah editor teks.
Beberapa fitur yang tersedia antara lain:
- Membuka file (Open)
- Menyimpan file (Save dan Save As)
- Find & Replace
- Word Wrap
- Pemilihan jenis font
- Clipboard (Copy, Cut, Paste)
- Dialog Open dan Save bawaan Windows
- Peringatan ketika menutup dokumen yang belum disimpan
Jika dilihat sekilas, pengalaman penggunaannya bahkan terasa sangat mirip dengan Notepad klasik yang hadir pada Windows XP hingga Windows 10 sebelum Microsoft mulai melakukan modernisasi besar-besaran.
Inilah yang membuat proyek tersebut menarik. Dengan ukuran executable yang luar biasa kecil, TinyRetroPad tetap mampu menjalankan hampir semua fungsi penting yang benar-benar dibutuhkan pengguna.
Kok Bisa Hanya 2,5 KB?
Pertanyaan pertama yang muncul tentu saja adalah: bagaimana mungkin sebuah aplikasi Windows memiliki ukuran sekecil itu?
Menurut penjelasan Dave Plummer, jawabannya sebenarnya cukup sederhana.
Windows sejak dulu telah menyediakan hampir seluruh komponen dasar yang diperlukan sebuah aplikasi desktop.
Misalnya:
- Window Manager
- Menu
- Clipboard
- Dialog Open & Save
- Font Picker
- Print Dialog
- Edit Control
- Message Box
- Scroll Bar
- Sistem rendering teks
Seluruh komponen tersebut sudah menjadi bagian dari sistem operasi.
Artinya, developer sebenarnya tidak perlu membawa seluruh library, framework, maupun komponen antarmuka sendiri ke dalam aplikasi.
Cukup memanfaatkan API yang telah disediakan Windows.
Sayangnya, tren pengembangan software modern justru bergerak ke arah berbeda. Banyak aplikasi kini menggunakan framework tambahan seperti Electron, Chromium Embedded Framework, .NET dengan dependency besar, hingga berbagai runtime lain yang membuat ukuran aplikasi melonjak berkali-kali lipat.
Padahal, untuk aplikasi sederhana seperti editor teks, sebagian besar kebutuhan sebenarnya sudah tersedia langsung di dalam Windows.
TinyRetroPad menjadi demonstrasi nyata bahwa pendekatan lama tersebut masih sangat mungkin dilakukan.
Baca juga : 5 Alasan Under Display Camera Jarang Dipakai oleh Smartphone
Dibuat Menggunakan Assembly
Hal menarik lainnya adalah bahasa pemrograman yang digunakan.
TinyRetroPad tidak ditulis menggunakan C#, C++, Rust, ataupun bahasa modern lainnya.
Sebaliknya, Dave memilih menggunakan Assembly Language, salah satu bahasa pemrograman tingkat rendah yang terkenal sangat efisien sekaligus sangat sulit dipelajari.
Assembly memungkinkan programmer mengendalikan hampir seluruh instruksi yang dijalankan prosesor secara langsung.
Karena tidak banyak lapisan abstraksi, hasil kompilasinya bisa dibuat jauh lebih kecil dibandingkan bahasa tingkat tinggi.
Namun tentu saja ada konsekuensinya.
Menulis program menggunakan Assembly jauh lebih rumit dibandingkan bahasa modern. Untuk membuat fungsi sederhana saja sering kali diperlukan puluhan hingga ratusan instruksi yang harus ditulis secara manual.
Karena itulah bahasa ini kini lebih sering digunakan untuk kebutuhan khusus seperti embedded system, bootloader, reverse engineering, ataupun kompetisi ukuran executable.
Selain menggunakan Assembly, Dave juga memanfaatkan tool bernama Crinkler.
Crinkler merupakan linker sekaligus compressor yang memang dirancang khusus untuk menghasilkan executable Windows sekecil mungkin.
Tool ini cukup populer di kalangan komunitas demoscene, yaitu komunitas programmer yang berlomba membuat program dengan ukuran sekecil mungkin namun tetap menghasilkan fungsi atau visual yang mengesankan.
Gabungan Assembly dan Crinkler inilah yang membuat TinyRetroPad berhasil memiliki ukuran hanya sekitar 2,5 KB.
Hasil Uji Coba
Setelah mengunduh source code dari GitHub dan menjalankan file build.bat, executable bernama trpad.exe berhasil dibuat tanpa kendala.
Di Windows Explorer, ukurannya memang dibulatkan menjadi sekitar 3 KB.
Namun ketika diperiksa melalui menu Properties, ukuran sebenarnya berada di kisaran 2,72 KB, sangat dekat dengan klaim Dave Plummer.
Dari sisi penggunaan, seluruh fitur utama berjalan normal.
Menu dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Dialog Open dan Save muncul menggunakan komponen bawaan Windows.
Clipboard bekerja dengan baik.
Word Wrap juga berjalan tanpa masalah.
Fitur Find & Replace hingga pemilihan font pun tersedia seperti Notepad klasik.
Secara keseluruhan, pengalaman penggunaannya terasa ringan dan responsif.
Tapi Kenapa RAM yang Dipakai Malah Besar?
Di sinilah muncul hal yang cukup membingungkan.
Saat TinyRetroPad dijalankan, penggunaan RAM yang terlihat melalui Task Manager ternyata jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
Dalam pengujian, penggunaan memori bahkan bisa mendekati 500 MB.
Angka tersebut tentu terasa aneh.
Bagaimana mungkin aplikasi berukuran hanya 2,5 KB justru menggunakan RAM ratusan megabyte?
Ternyata jawabannya berkaitan dengan cara kerja Windows sendiri.
Executable TinyRetroPad memang hanya berisi kode minimum.
Namun ketika dijalankan, aplikasi tersebut memanggil berbagai komponen bawaan Windows seperti:
- RICHEDIT50W
- Common Dialog
- Font Dialog
- Printer Dialog
- User32.dll
- GDI32.dll
- Comdlg32.dll
- Berbagai DLL sistem lainnya
Seluruh library tersebut kemudian dimuat oleh Windows ke dalam proses aplikasi.
Akibatnya, Task Manager menampilkan penggunaan memori yang merupakan gabungan executable TinyRetroPad dengan berbagai library sistem yang ikut dimuat.
Dengan kata lain, ukuran file executable tidak secara langsung menentukan jumlah RAM yang digunakan aplikasi.
Selain itu, Windows modern juga memiliki mekanisme cache, memory mapping, shared memory, dan berbagai optimasi lain yang membuat angka penggunaan RAM di Task Manager tidak selalu mencerminkan memori yang benar-benar dikonsumsi secara eksklusif oleh aplikasi tersebut.
Fakta inilah yang juga sempat dibahas oleh sejumlah pengguna di halaman GitHub proyek TinyRetroPad.
Bukan Pengganti Notepad Windows 11
Meski menarik, Dave Plummer tidak pernah mengatakan bahwa TinyRetroPad dibuat untuk menggantikan Notepad bawaan Windows 11.
Sebaliknya, proyek ini lebih bersifat eksperimen teknis.
Tujuannya adalah menunjukkan bahwa Windows sebenarnya masih memiliki fondasi API desktop yang sangat kuat.
Selama developer mau memanfaatkannya, aplikasi desktop dapat dibuat sangat kecil, cepat, dan efisien tanpa harus membawa dependency yang besar.
Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ukuran software modern tidak selalu disebabkan oleh bertambahnya fitur.
Dalam banyak kasus, ukuran aplikasi justru membengkak karena penggunaan framework tambahan yang sebenarnya tidak selalu diperlukan.
Kritik Halus untuk Software Modern
Sulit untuk tidak melihat TinyRetroPad sebagai bentuk kritik terhadap tren software saat ini.
Saat ini kita hidup di era ketika aplikasi sederhana seperti kalkulator, editor teks, bahkan aplikasi catatan sekalipun dapat memiliki ukuran ratusan megabyte.
Sebagian aplikasi bahkan berjalan menggunakan Chromium sehingga pada dasarnya membuka sebuah browser mini setiap kali dijalankan.
Memang pendekatan tersebut memberikan keuntungan.
Developer dapat mengembangkan aplikasi lebih cepat, lebih mudah dipelihara, serta memiliki tampilan yang konsisten di berbagai platform.
Namun konsekuensinya adalah kebutuhan resource yang terus meningkat.
Dave Plummer tampaknya ingin mengingatkan bahwa pendekatan lama sebenarnya masih memiliki tempat.
Windows telah menyediakan begitu banyak komponen yang dapat dimanfaatkan secara langsung.
Jika digunakan dengan optimal, developer dapat menghasilkan aplikasi yang ringan, cepat, dan tetap kaya fitur.
Tentu saja bukan berarti semua aplikasi modern harus kembali menggunakan Assembly.
Namun proyek seperti TinyRetroPad memperlihatkan bahwa efisiensi masih mungkin dicapai apabila pengembang benar-benar memahami platform yang mereka gunakan.
Kesimpulan
TinyRetroPad mungkin hanyalah proyek kecil, tetapi pesan yang dibawanya cukup besar.
Di tengah era AI, Copilot, framework modern, dan aplikasi yang terus bertambah besar, proyek ini menunjukkan bahwa Windows sebenarnya telah menyediakan hampir semua fondasi yang dibutuhkan untuk membangun aplikasi desktop sejak puluhan tahun lalu.
Dengan memanfaatkan API bawaan Windows serta ditulis menggunakan Assembly dan Crinkler, Dave Plummer berhasil membuat editor teks berukuran hanya sekitar 2,5 KB yang tetap mampu membuka, mengedit, menyimpan, mencetak, hingga mencari teks layaknya Notepad klasik.
Memang penggunaan RAM yang terlihat di Task Manager masih menjadi bahan diskusi karena berbagai library Windows tetap harus dimuat ketika aplikasi berjalan. Namun hal tersebut tidak mengurangi tujuan utama proyek ini, yakni memperlihatkan betapa efisiennya aplikasi desktop jika benar-benar memanfaatkan kemampuan bawaan sistem operasi.
Pada akhirnya, TinyRetroPad bukan sekadar editor teks super kecil. Ia menjadi pengingat bahwa dalam dunia software, ukuran yang besar tidak selalu berarti lebih baik. Terkadang, solusi paling elegan justru datang dari pendekatan yang sederhana, efisien, dan memanfaatkan apa yang sudah tersedia.