Kenapa Sony Tak Pernah Bikin Penerus PS Vita? Ini Alasan yang Sebenarnya

Kenapa Sony Tak Pernah Bikin Penerus PS Vita? Ini Alasan yang Sebenarnya

Bagi para gamer yang tumbuh di era 2000-an hingga awal 2010-an, nama PlayStation Portable (PSP) dan PlayStation Vita tentu memiliki tempat tersendiri di hati. Kedua perangkat tersebut menjadi simbol kejayaan konsol handheld Sony, menawarkan pengalaman bermain game berkualitas konsol dalam perangkat yang bisa dibawa ke mana saja.

PSP bisa dibilang merupakan salah satu konsol genggam tersukses sepanjang sejarah. Dengan jutaan unit terjual di seluruh dunia, perangkat tersebut berhasil menjadi pesaing serius Nintendo DS. Melihat kesuksesan PSP, Sony kemudian merilis penerusnya yang jauh lebih canggih, yaitu PlayStation Vita atau yang lebih dikenal sebagai PS Vita.

Saat pertama kali diperkenalkan pada tahun 2011, PS Vita dianggap sebagai salah satu konsol genggam paling mutakhir di dunia. Perangkat ini memiliki layar OLED yang memukau, dua stik analog, layar sentuh, panel sentuh belakang, kamera, sensor gerak, hingga spesifikasi yang mampu menjalankan game dengan kualitas grafis mendekati PlayStation 3.

Namun, meskipun secara teknologi sangat mengesankan, perjalanan PS Vita tidak berjalan sesuai harapan Sony. Penjualannya tidak mampu menyamai kesuksesan PSP, dan pada akhirnya Sony menghentikan dukungan terhadap perangkat tersebut tanpa pernah menghadirkan penerus resmi.

Kini, ketika Sony mulai menutup layanan digital PS Vita secara bertahap dan fokus pada PlayStation 5, pertanyaan lama kembali muncul: mengapa Sony tidak pernah membuat penerus PS Vita?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana karena “tidak laku”. Ada banyak faktor bisnis, teknologi, hingga perubahan perilaku pasar yang membuat Sony memilih meninggalkan dunia konsol genggam.

PS Vita Terlalu Canggih untuk Zamannya

Salah satu ironi terbesar PS Vita adalah fakta bahwa perangkat ini mungkin terlalu maju untuk kondisi pasar saat itu.

Ketika dirilis, PS Vita membawa berbagai teknologi yang jarang ditemukan pada konsol handheld lain. Sony benar-benar ingin menghadirkan pengalaman bermain game premium dalam bentuk perangkat portabel.

Beberapa keunggulan PS Vita saat itu antara lain:

  • Layar OLED berkualitas tinggi
  • Dua stik analog penuh
  • Layar sentuh kapasitif
  • Touchpad belakang
  • Kamera depan dan belakang
  • Sensor gyroscope
  • Dukungan game digital modern
  • Fitur online multiplayer

Di atas kertas, spesifikasi tersebut membuat PS Vita terlihat seperti masa depan gaming portabel.

Sayangnya, teknologi canggih saja tidak cukup untuk menjamin kesuksesan sebuah produk.

Penjualan yang Tidak Sesuai Harapan

Alasan terbesar mengapa Sony tidak membuat penerus PS Vita adalah karena penjualannya tidak memenuhi target perusahaan.

Sony berharap PS Vita dapat mengulangi kesuksesan PSP yang berhasil terjual lebih dari 80 juta unit secara global.

Namun kenyataannya berbeda.

Sepanjang masa hidupnya, PS Vita diperkirakan hanya terjual sekitar 15 hingga 20 juta unit di seluruh dunia. Angka tersebut jauh di bawah ekspektasi Sony.

Pada saat yang sama, Nintendo 3DS berhasil mendominasi pasar handheld dengan penjualan yang jauh lebih tinggi.

Akibatnya, banyak pengembang game mulai memusatkan perhatian pada platform Nintendo yang memiliki basis pengguna lebih besar.

Semakin sedikit pengguna berarti semakin sedikit game yang dirilis. Semakin sedikit game berarti semakin sedikit orang yang tertarik membeli konsol tersebut.

PS Vita akhirnya terjebak dalam lingkaran yang sulit diputus.

Harga yang Dianggap Terlalu Mahal

Faktor lain yang turut menghambat kesuksesan PS Vita adalah biaya kepemilikan yang cukup tinggi.

Saat pertama kali dirilis, harga perangkat ini tergolong mahal untuk ukuran konsol genggam.

Masalah tidak berhenti di situ.

Sony juga menggunakan kartu memori proprietary atau memori khusus buatan mereka sendiri. Pengguna tidak bisa memakai microSD biasa seperti yang digunakan smartphone atau perangkat lain.

Harga kartu memori resmi PS Vita terkenal sangat mahal.

Bahkan kapasitas kecil sekalipun dibanderol dengan harga yang membuat banyak calon pembeli berpikir dua kali.

Padahal game digital semakin populer pada saat itu dan membutuhkan ruang penyimpanan yang besar.

Bagi banyak konsumen, biaya tambahan tersebut menjadi salah satu alasan untuk tidak membeli PS Vita.

Baca juga : Kenapa Skor AnTuTu di HP Bisa Berubah? Begini Penjelasan Lengkapnya

Smartphone Mengubah Industri Gaming

Ketika PS Vita diluncurkan, industri smartphone sedang mengalami ledakan besar.

iPhone dan Android mulai mendominasi kehidupan sehari-hari masyarakat.

Perubahan ini ternyata memberikan dampak yang sangat besar terhadap pasar konsol handheld.

Sebelumnya, orang yang ingin bermain game saat bepergian membutuhkan perangkat seperti PSP atau Nintendo DS.

Namun setelah smartphone berkembang pesat, jutaan orang bisa bermain game kapan saja langsung dari ponsel mereka.

Game seperti:

  • Angry Birds
  • Temple Run
  • Clash of Clans
  • Candy Crush
  • Subway Surfers

menjadi fenomena global.

Banyak pemain kasual yang sebelumnya menjadi target pasar konsol handheld akhirnya beralih ke smartphone.

Mereka tidak perlu membeli perangkat tambahan karena game sudah tersedia di ponsel yang mereka gunakan setiap hari.

Perubahan perilaku inilah yang menjadi salah satu pukulan terbesar bagi PS Vita.

Kurangnya Dukungan Game Eksklusif

Salah satu kekuatan utama PlayStation selalu berasal dari game eksklusifnya.

PS1, PS2, PS3, PS4, hingga PS5 sukses karena memiliki banyak judul eksklusif yang menarik.

Sayangnya, PS Vita tidak mendapatkan dukungan sebesar itu.

Memang ada beberapa game berkualitas seperti:

  • Uncharted: Golden Abyss
  • Killzone Mercenary
  • Gravity Rush
  • Persona 4 Golden
  • Tearaway

Namun jumlahnya tidak cukup untuk menjaga momentum penjualan perangkat dalam jangka panjang.

Seiring waktu, Sony juga mulai mengurangi investasi untuk pengembangan game eksklusif Vita.

Banyak studio internal PlayStation kemudian dialihkan untuk mengerjakan proyek PS4 yang saat itu berkembang sangat pesat.

Akibatnya, katalog game baru PS Vita semakin terbatas.

Sony Melihat Potensi Lebih Besar di PS4 dan PS5

Dari sudut pandang bisnis, keputusan Sony sebenarnya cukup masuk akal.

Saat PS Vita kesulitan mendapatkan perhatian pasar, PlayStation 4 justru menjadi salah satu konsol tersukses dalam sejarah perusahaan.

PS4 berhasil terjual lebih dari 100 juta unit secara global.

Pendapatan dari:

  • Penjualan konsol
  • Penjualan game
  • Langganan PlayStation Plus
  • Pembelian digital

jauh lebih besar dibandingkan bisnis handheld.

Melihat kondisi tersebut, Sony memutuskan memfokuskan sumber daya mereka ke platform yang paling menguntungkan.

Alih-alih mengembangkan penerus PS Vita yang penuh risiko, perusahaan lebih memilih memperkuat ekosistem PlayStation rumahan.

Strategi tersebut terbukti berhasil hingga era PlayStation 5 saat ini.

Biaya Pengembangan Semakin Besar

Jika Sony ingin membuat penerus PS Vita modern, biaya yang diperlukan tidaklah kecil.

Sebuah konsol handheld saat ini harus memiliki:

  • Chipset bertenaga tinggi
  • Sistem pendingin canggih
  • Layar berkualitas premium
  • Baterai besar
  • Sistem operasi modern
  • Dukungan online
  • Toko digital
  • Infrastruktur cloud

Selain itu, Sony juga harus menyediakan game eksklusif yang mampu menarik pembeli.

Semua itu membutuhkan investasi miliaran dolar.

Masalahnya, tidak ada jaminan bahwa perangkat tersebut akan sukses di pasaran.

Sony tampaknya tidak ingin mengulangi risiko yang pernah mereka alami bersama PS Vita.

Nintendo Switch Mengubah Aturan Permainan

Ketika Nintendo merilis Switch pada tahun 2017, pasar handheld berubah total.

Switch bukan sekadar konsol genggam biasa.

Perangkat tersebut menggabungkan konsep handheld dan konsol rumahan dalam satu produk.

Pengguna bisa bermain di televisi maupun secara portabel.

Konsep hybrid tersebut terbukti sangat sukses.

Penjualan Nintendo Switch bahkan melampaui banyak ekspektasi dan menjadikannya salah satu konsol terlaris sepanjang masa.

Keberhasilan Switch menunjukkan bahwa pasar handheld sebenarnya belum mati.

Namun pasar tersebut telah berubah.

Konsumen kini menginginkan perangkat yang fleksibel dan mampu menjalankan game besar dengan kualitas tinggi.

Bersaing langsung melawan Nintendo Switch tentu bukan tugas mudah, bahkan bagi Sony.

Munculnya Steam Deck dan Handheld PC

Beberapa tahun terakhir, pasar handheld kembali berkembang berkat hadirnya perangkat seperti:

  • Steam Deck
  • ASUS ROG Ally
  • Lenovo Legion Go
  • MSI Claw

Perangkat-perangkat ini menawarkan pengalaman bermain game PC dalam bentuk portabel.

Menariknya, Sony tetap tidak menunjukkan minat untuk kembali ke pasar handheld tradisional.

Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan masih melihat risiko yang lebih besar dibanding potensi keuntungan.

Sony Memilih PlayStation Portal

Alih-alih membuat penerus PS Vita, Sony justru meluncurkan PlayStation Portal.

Perangkat ini sekilas memang terlihat seperti konsol genggam.

Namun sebenarnya PlayStation Portal bukan handheld mandiri.

Perangkat tersebut hanya berfungsi sebagai alat streaming yang terhubung ke PlayStation 5 melalui jaringan internet atau Wi-Fi.

Pendekatan ini menunjukkan arah strategi Sony saat ini.

Mereka tidak ingin membuat ekosistem handheld baru dari nol.

Sebaliknya, mereka ingin memperluas pengalaman bermain PlayStation yang sudah ada.

Dengan kata lain, Sony lebih tertarik memperkuat ekosistem PS5 daripada menciptakan penerus langsung PS Vita.

Apakah Masih Ada Harapan untuk Penerus PS Vita?

Meski Sony belum mengumumkan apa pun secara resmi, rumor mengenai konsol handheld PlayStation baru sebenarnya terus bermunculan.

Beberapa analis percaya bahwa perkembangan teknologi chipset modern memungkinkan Sony kembali ke pasar handheld di masa depan.

Apalagi tren gaming portabel sedang bangkit berkat kesuksesan Nintendo Switch dan Steam Deck.

Namun jika Sony benar-benar kembali, kemungkinan besar perangkat tersebut tidak akan menjadi “PS Vita 2” seperti yang dibayangkan banyak orang.

Sebaliknya, perangkat tersebut mungkin akan menjadi bagian dari ekosistem PlayStation modern yang terhubung dengan cloud gaming, PlayStation Plus, dan layanan digital lainnya.

PS Vita Tetap Menjadi Konsol yang Dicintai

Meski dianggap gagal secara komersial, PS Vita tetap memiliki tempat istimewa di hati para penggemarnya.

Banyak gamer masih mengingat perangkat ini sebagai salah satu handheld paling ambisius yang pernah dibuat.

Komunitas PS Vita bahkan masih aktif hingga sekarang.

Mereka terus mengembangkan proyek independen, menerjemahkan game, membuat modifikasi perangkat lunak, hingga menjaga agar koleksi game Vita tetap bisa dimainkan oleh generasi berikutnya.

Bagi banyak orang, PS Vita bukan sekadar konsol yang gagal. Ia adalah simbol dari sebuah era ketika Sony berani menghadirkan teknologi yang jauh melampaui zamannya.

Pada akhirnya, alasan Sony tidak pernah membuat penerus PS Vita bukan karena mereka tidak mampu melakukannya. Keputusan tersebut lebih berkaitan dengan realitas bisnis, perubahan industri gaming, dominasi smartphone, serta fokus perusahaan pada PlayStation 4 dan PlayStation 5 yang jauh lebih menguntungkan.

Meski begitu, warisan PS Vita masih hidup hingga hari ini. Dan bagi para penggemarnya, konsol kecil itu akan selalu dikenang sebagai salah satu handheld terbaik yang pernah hadir di dunia gaming.