Studi Degradasi Baterai EV: Hasil Setelah 100.000 KM di Swedia, Ternyata Tidak Separah yang Dibayangkan

Studi Degradasi Baterai EV: Hasil Setelah 100.000 KM di Swedia, Ternyata Tidak Separah yang Dibayangkan

Mobil listrik atau Electric Vehicle (EV) semakin populer di berbagai negara, termasuk Indonesia. Harga kendaraan yang mulai kompetitif, jaringan pengisian daya yang terus berkembang, serta meningkatnya kesadaran akan lingkungan membuat banyak orang mulai melirik kendaraan tanpa emisi ini sebagai alternatif kendaraan konvensional.

Namun di balik berbagai keunggulan tersebut, masih ada satu kekhawatiran yang sering muncul di kalangan calon pembeli: umur baterai.

Pertanyaan seperti “Bagaimana kondisi baterai setelah bertahun-tahun digunakan?”, “Apakah kapasitasnya akan turun drastis?”, atau “Berapa biaya mengganti baterai jika sudah rusak?” menjadi topik yang paling sering dibahas ketika seseorang mempertimbangkan membeli mobil listrik.

Kekhawatiran tersebut sebenarnya cukup wajar. Pasalnya, baterai merupakan komponen paling mahal dalam sebuah mobil listrik. Bahkan pada beberapa model, biaya baterai dapat menyumbang hingga 30-40 persen dari total harga kendaraan.

Namun sebuah penelitian besar yang dilakukan di Swedia baru-baru ini memberikan gambaran yang cukup menenangkan. Hasilnya menunjukkan bahwa degradasi baterai mobil listrik ternyata jauh lebih kecil daripada yang selama ini banyak dibayangkan masyarakat.

Studi Besar terhadap Ribuan Mobil Listrik

Penelitian tersebut dilakukan oleh Carla, sebuah platform jual beli kendaraan yang cukup populer di Swedia.

Untuk mendapatkan hasil yang akurat, Carla tidak hanya mengandalkan data pabrikan atau klaim pengguna. Mereka melakukan analisis terhadap 9.954 pengujian baterai kendaraan listrik yang dijual di Swedia selama periode 2022 hingga 2026.

Jumlah sampel yang mendekati 10.000 unit ini membuat hasil penelitian menjadi sangat menarik karena mampu merepresentasikan kondisi penggunaan kendaraan listrik dalam dunia nyata.

Penelitian dilakukan menggunakan perangkat diagnostik khusus bernama AVILOO.

Teknologi ini dirancang untuk mengukur kondisi kesehatan baterai atau yang biasa disebut sebagai State of Health (SoH).

Berbeda dengan indikator kesehatan baterai yang muncul di layar kendaraan, perangkat AVILOO melakukan pengukuran secara langsung terhadap performa dan kapasitas aktual baterai.

Menurut para peneliti, metode ini dianggap lebih akurat karena beberapa kendaraan terkadang menampilkan angka kesehatan baterai yang lebih optimistis dibandingkan kondisi sebenarnya.

Dengan kata lain, hasil penelitian ini memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai bagaimana kondisi baterai setelah digunakan dalam jangka panjang.

Apa Itu Degradasi Baterai?

Sebelum membahas hasil penelitian lebih jauh, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan degradasi baterai.

Degradasi baterai adalah penurunan kemampuan baterai untuk menyimpan energi dibandingkan saat masih baru.

Sebagai contoh, sebuah mobil listrik yang ketika baru mampu menempuh jarak 500 kilometer dalam sekali pengisian mungkin hanya mampu menempuh 470 kilometer setelah digunakan selama beberapa tahun.

Penurunan kemampuan inilah yang disebut degradasi.

Fenomena tersebut sebenarnya normal dan terjadi pada semua jenis baterai, termasuk baterai smartphone, laptop, maupun kendaraan listrik.

Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa besar penurunan tersebut terjadi setelah penggunaan yang cukup panjang.

Baca juga : Mengenal Teknologi NAND Flash: Bagaimana SSD Menyimpan Data Tanpa Bergerak

Kia e-Niro Menjadi Juara

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kia e-Niro menjadi kendaraan dengan performa baterai terbaik di antara hampir 10.000 kendaraan yang diuji.

Mobil listrik asal Korea Selatan ini menggunakan baterai berkapasitas 64 kWh.

Setelah menempuh jarak hingga 100.000 kilometer, baterainya masih mempertahankan 97,25 persen kapasitas awal.

Artinya, degradasi yang terjadi hanya sekitar 2,75 persen.

Angka tersebut tergolong sangat kecil.

Jika pada kondisi baru kendaraan mampu menempuh jarak 450 kilometer, maka setelah 100.000 kilometer penggunaan, jaraknya masih berada di kisaran 438 kilometer.

Perbedaannya hampir tidak terasa dalam penggunaan sehari-hari.

Hyundai Kona Electric Menempel Ketat

Posisi kedua ditempati Hyundai Kona Electric.

Menariknya, kendaraan ini menggunakan paket baterai yang hampir identik dengan Kia e-Niro karena keduanya berasal dari grup otomotif yang sama.

Setelah digunakan sejauh 100.000 kilometer, Hyundai Kona Electric masih memiliki kapasitas baterai sebesar 97,18 persen.

Perbedaan dengan Kia e-Niro hanya 0,07 persen.

Hasil ini menunjukkan bahwa teknologi baterai yang digunakan Hyundai dan Kia memiliki daya tahan yang sangat baik.

Tak heran jika kedua model tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu mobil listrik paling efisien di pasar global.

Kia EV6 Juga Tampil Mengesankan

Posisi ketiga ditempati Kia EV6.

Mobil listrik yang memiliki desain futuristis ini menggunakan baterai yang lebih besar, yakni 77,4 kWh.

Meski kapasitas baterainya lebih besar dan performanya jauh lebih tinggi dibanding e-Niro, tingkat degradasinya tetap rendah.

Setelah menempuh jarak 100.000 kilometer, baterainya masih mempertahankan 95,95 persen kapasitas awal.

Ini berarti hanya terjadi penurunan sekitar 4 persen.

Angka tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan kekhawatiran banyak orang yang mengira baterai mobil listrik bisa kehilangan 20 hingga 30 persen kapasitas dalam beberapa tahun pertama.

Dominasi Pabrikan Korea

Salah satu temuan menarik dalam studi ini adalah dominasi pabrikan Korea Selatan.

Kia dan Hyundai berhasil menempatkan beberapa model di posisi teratas.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa teknologi manajemen baterai yang mereka gunakan sangat efektif dalam menjaga umur pakai baterai.

Selain kualitas sel baterai itu sendiri, sistem pendinginan baterai dan software pengelola energi juga berperan besar dalam menekan degradasi.

Semakin baik sistem tersebut bekerja, semakin lambat penurunan kapasitas baterai terjadi.

Volvo dan Polestar Jadi Wakil Eropa Terbaik

Di kategori merek Eropa, Volvo XC40 Recharge berhasil mencatatkan hasil terbaik.

Setelah menempuh 100.000 kilometer, kondisi kesehatan baterainya masih berada di angka 94,70 persen.

Sementara itu, Polestar 2 dengan baterai CATL berkapasitas 78 kWh menempati posisi berikutnya dengan kesehatan baterai sebesar 94,35 persen.

Meski angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan model Hyundai dan Kia, hasilnya tetap sangat impresif.

Penurunan kapasitas sekitar 5 persen setelah perjalanan sejauh 100.000 kilometer masih tergolong sangat kecil.

Bagi sebagian besar pengguna, penurunan tersebut bahkan mungkin tidak akan terasa dalam penggunaan harian.

BMW i3 Tetap Membuktikan Ketangguhannya

Meskipun sudah berusia cukup lama dibandingkan banyak mobil listrik modern, BMW i3 masih menunjukkan performa baterai yang sangat baik.

Mobil listrik kompak asal Jerman ini mencatatkan battery health sebesar 93,77 persen setelah menempuh jarak 100.000 kilometer.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas rekayasa baterai BMW sudah sangat baik bahkan sejak awal era kendaraan listrik modern.

Hasil ini juga membuktikan bahwa umur baterai tidak hanya bergantung pada teknologi terbaru, tetapi juga pada desain sistem yang matang dan manajemen suhu yang efektif.

Tesla Bukan yang Terbaik

Salah satu hal yang cukup mengejutkan dari penelitian ini adalah posisi Tesla.

Sebagai salah satu pionir kendaraan listrik dunia, banyak orang mungkin mengira Tesla akan mendominasi daftar.

Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa Tesla bukanlah merek dengan degradasi baterai paling rendah.

Meski demikian, performanya tetap sangat baik.

Tesla Model 3 yang menggunakan baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) dari CATL menjadi model Tesla dengan tingkat degradasi paling rendah.

Teknologi baterai LFP memang dikenal memiliki ketahanan siklus pengisian yang lebih tinggi dibanding baterai berbasis NMC atau NCA yang digunakan pada sebagian besar kendaraan listrik lainnya.

Baterai jenis ini juga lebih aman dan memungkinkan pengisian hingga 100 persen secara rutin tanpa mempercepat degradasi.

Mengapa Degradasi Bisa Berbeda?

Setiap kendaraan memiliki tingkat degradasi yang berbeda karena dipengaruhi banyak faktor.

Beberapa faktor utama meliputi:

1. Jenis Sel Baterai

Teknologi baterai yang digunakan sangat menentukan umur pakainya.

Baterai LFP umumnya lebih tahan lama dibanding baterai NMC.

2. Sistem Pendinginan

Panas merupakan musuh utama baterai lithium.

Mobil dengan sistem pendinginan baterai yang baik cenderung mengalami degradasi lebih lambat.

3. Kebiasaan Pengisian

Sering mengisi daya hingga 100 persen atau membiarkan baterai kosong total dapat mempercepat degradasi pada beberapa jenis baterai.

4. Iklim dan Cuaca

Suhu lingkungan juga berpengaruh.

Menariknya, Swedia memiliki iklim yang relatif dingin sehingga membantu menjaga suhu baterai tetap stabil.

Apa Artinya bagi Konsumen?

Hasil penelitian ini memberikan kabar baik bagi calon pengguna mobil listrik.

Jika sebuah kendaraan masih mempertahankan lebih dari 94 persen kapasitas baterainya setelah 100.000 kilometer, maka umur pakai baterai sebenarnya jauh lebih panjang daripada yang sering dikhawatirkan.

Sebagai gambaran, rata-rata pengguna mobil di Indonesia menempuh sekitar 15.000 hingga 20.000 kilometer per tahun.

Artinya, untuk mencapai angka 100.000 kilometer dibutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh tahun penggunaan.

Jika setelah periode tersebut kapasitas baterai masih berada di atas 94 persen, maka baterai berpotensi tetap layak digunakan selama lebih dari satu dekade.

Bahkan banyak produsen kini memberikan garansi baterai hingga delapan tahun atau 160.000 kilometer.

Masa Depan Mobil Listrik Semakin Menjanjikan

Penelitian dari Swedia ini memperkuat keyakinan bahwa teknologi baterai kendaraan listrik telah berkembang sangat pesat.

Kekhawatiran mengenai degradasi ekstrem yang dulu sering menjadi alasan untuk menunda pembelian mobil listrik kini semakin terbantahkan oleh data nyata.

Dengan manajemen baterai yang semakin canggih, sistem pendinginan yang lebih efektif, serta kemajuan teknologi sel baterai generasi terbaru, umur pakai kendaraan listrik diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Bagi konsumen, hasil studi ini menjadi bukti bahwa mobil listrik bukan hanya ramah lingkungan dan hemat biaya operasional, tetapi juga mampu mempertahankan performa baterainya dalam jangka panjang. Jika tren ini terus berlanjut, maka salah satu hambatan terbesar adopsi kendaraan listrik akan semakin berkurang, membuka jalan menuju era transportasi yang lebih bersih dan berkelanjutan.