Google Hentikan Pengembangan Chrome dengan Desain Fluent Windows 11, Apa Penyebabnya?

Google Hentikan Pengembangan Chrome dengan Desain Fluent Windows 11, Apa Penyebabnya?

Selama beberapa tahun terakhir, Microsoft berupaya membangun identitas visual baru untuk Windows melalui Fluent Design System. Bahasa desain ini diperkenalkan bersamaan dengan perkembangan Windows 10 dan kemudian semakin dimatangkan di Windows 11. Tujuannya bukan hanya membuat tampilan sistem operasi terlihat lebih modern, tetapi juga menciptakan pengalaman yang konsisten di seluruh aplikasi Windows.

Salah satu elemen Fluent Design yang paling menarik perhatian adalah Mica, efek visual yang membuat latar belakang aplikasi mengikuti warna wallpaper desktop secara halus. Efek ini memberikan kesan elegan tanpa mengorbankan performa komputer. Karena tampilannya yang menyatu dengan sistem operasi, banyak pengguna berharap aplikasi pihak ketiga, termasuk Google Chrome, ikut mengadopsinya.

Harapan tersebut sempat terlihat akan menjadi kenyataan. Sejak 2023, pengembang Chromium mulai bereksperimen menghadirkan dukungan Mica pada Chrome. Bahkan pada versi Canary, pengguna dapat mencoba tampilan baru yang membuat title bar Chrome terlihat seperti aplikasi bawaan Windows 11.

Namun setelah beberapa tahun pengembangan, Google akhirnya memutuskan menghentikan proyek tersebut. Dukungan Mica di Chrome resmi dibatalkan sebelum sempat dirilis ke versi stabil. Keputusan ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa Google membatalkan fitur yang selama ini cukup dinantikan pengguna Windows?

Chrome Sempat Dipersiapkan agar Lebih “Menyatu” dengan Windows 11

Ketika Windows 11 diperkenalkan, Microsoft membawa perubahan desain yang cukup signifikan dibanding generasi sebelumnya.

Perubahan tersebut meliputi:

  • sudut jendela yang membulat (rounded corners),
  • ikon baru,
  • animasi lebih halus,
  • efek transparansi,
  • serta penggunaan material visual seperti Acrylic dan Mica.

Sayangnya, tidak semua aplikasi langsung mengikuti perubahan tersebut.

Google Chrome, misalnya, masih mempertahankan desain khas Material Design yang digunakan secara lintas platform, baik di Windows, macOS, Linux, maupun ChromeOS.

Akibatnya, Chrome terlihat sedikit berbeda dibanding aplikasi bawaan Windows seperti File Explorer, Settings, Paint, atau Microsoft Store.

Karena itulah Google mulai mengembangkan dukungan Mica agar Chrome terasa lebih “native” ketika dijalankan di Windows 11.

Pengembangan Mica Sudah Dimulai Sejak 2023

Sebenarnya proyek ini bukanlah sesuatu yang baru.

Pada tahun 2023, sejumlah pengembang Chromium menemukan referensi kode yang menunjukkan bahwa Google sedang menguji implementasi Mica Material.

Temuan tersebut langsung menarik perhatian komunitas Windows.

Banyak pengguna berharap Chrome akhirnya memiliki tampilan yang lebih serasi dengan Windows 11 tanpa mengubah identitas browser secara keseluruhan.

Meski demikian, proyek tersebut berjalan cukup lambat.

Google tampaknya berhati-hati karena Chrome merupakan browser lintas platform yang digunakan miliaran orang di berbagai sistem operasi.

Baca juga : Mengapa Mouse Vertikal Makin Diminati? Ternyata Bukan Sekadar Tren

Pernah Muncul di Chrome Canary

Pada tahun 2025, perkembangan proyek tersebut mulai terlihat lebih nyata.

Melalui Chrome Canary—versi eksperimental yang digunakan untuk menguji fitur baru—pengguna dapat mengaktifkan Mica melalui sebuah flag tersembunyi.

Setelah diaktifkan, title bar Chrome akan mengikuti warna wallpaper desktop menggunakan material Mica.

Hasilnya cukup menarik.

Chrome tampak jauh lebih menyatu dengan Windows 11.

Efek tersebut sangat mirip dengan yang digunakan pada:

  • File Explorer,
  • Paint,
  • Notepad,
  • Microsoft Store,
  • hingga Settings.

Banyak pengguna menganggap tampilan ini lebih elegan dibanding desain standar Chrome.

Apa Itu Mica?

Mica sering disalahartikan sebagai efek transparansi biasa.

Padahal sebenarnya berbeda.

Jika Acrylic menggunakan efek blur transparan terhadap objek di belakang jendela aplikasi, maka Mica bekerja dengan cara mengambil sampel warna wallpaper desktop.

Warna tersebut kemudian digunakan sebagai latar belakang title bar maupun area tertentu pada aplikasi.

Karena wallpaper hanya dianalisis sekali ketika aplikasi dibuka, Mica jauh lebih hemat sumber daya dibanding Acrylic.

Microsoft merancang Mica agar:

  • tampilan aplikasi lebih konsisten,
  • fokus pengguna tetap terjaga,
  • konsumsi GPU lebih rendah,
  • serta antarmuka terasa lebih menyatu dengan desktop.

Inilah alasan mengapa hampir seluruh aplikasi bawaan Windows 11 menggunakan material tersebut.

Mengapa Google Membatalkannya?

Setelah dikembangkan selama beberapa tahun, Google akhirnya memutuskan menghentikan proyek Mica.

Keputusan ini diketahui melalui perubahan kode terbaru pada Chromium.

Engineer Google, David Pennington, mengonfirmasi bahwa flag untuk mengaktifkan Mica telah dihapus.

Tidak hanya itu.

Sisa kode yang berkaitan dengan implementasi Mica juga dijadwalkan ikut dibersihkan dari basis kode Chromium.

Artinya, proyek tersebut secara praktis telah dihentikan.

Kemungkinan besar pengguna Chrome versi stabil tidak akan pernah menikmati fitur tersebut.

Bukan Karena Sulit Dikembangkan

Yang menarik, pembatalan ini bukan disebabkan kendala teknis.

Google sebenarnya sudah berhasil membuat Mica bekerja pada Chrome Canary.

Namun perusahaan tampaknya melihat bahwa manfaat implementasi tersebut tidak lagi sebanding dengan biaya pemeliharaan fitur di masa depan.

Chrome merupakan browser lintas platform.

Setiap fitur yang hanya berlaku di Windows harus:

  • diuji secara terpisah,
  • dipelihara setiap pembaruan,
  • serta dipastikan tidak menimbulkan bug baru.

Jika keuntungan visual yang diperoleh relatif kecil, Google mungkin memilih memfokuskan sumber dayanya pada fitur lain.

Microsoft Justru Mulai Meninggalkan Fluent Design

Ironisnya, keputusan Google datang di saat Microsoft sendiri mulai mengubah arah desain produknya.

Fluent Design memang masih digunakan di berbagai bagian Windows 11.

Namun pada aplikasi dan layanan terbaru, Microsoft mulai memperkenalkan bahasa desain baru yang dikenal sebagai Copilot Design.

Pendekatan ini sudah mulai terlihat pada:

  • Microsoft Copilot,
  • Microsoft Edge,
  • Bing,
  • MSN,
  • serta berbagai layanan berbasis AI lainnya.

Desain baru tersebut lebih menonjolkan antarmuka sederhana, kartu informasi, elemen adaptif, serta pengalaman yang mendukung interaksi dengan AI.

Dengan kata lain, fokus Microsoft kini tidak lagi sepenuhnya berada pada Fluent Design.

Mengapa Hal Ini Berpengaruh bagi Chrome?

Google tentu memperhatikan arah perkembangan Windows.

Jika Microsoft sendiri mulai mengurangi penggunaan Fluent Design pada produk-produk barunya, maka implementasi Mica di Chrome menjadi kurang relevan.

Google kemungkinan menilai bahwa:

  • Fluent bukan lagi identitas utama Windows,
  • Microsoft sedang beralih ke desain baru,
  • dan pengguna mungkin tidak lagi menganggap Mica sebagai fitur penting.

Daripada mempertahankan fitur yang masa depannya belum jelas, Google memilih menghentikannya sejak sekarang.

Apakah Chrome Akan Tetap Berbeda dari Windows?

Ya.

Untuk saat ini Chrome masih menggunakan identitas visualnya sendiri.

Google mengandalkan Material Design yang diterapkan secara konsisten di seluruh platform.

Strategi tersebut memiliki beberapa keuntungan.

Antara lain:

  • tampilan Chrome tetap familiar di Windows, macOS, Linux, dan ChromeOS,
  • pengembangan lebih sederhana,
  • serta pembaruan desain dapat dilakukan secara seragam.

Meski demikian, Chrome tetap menyesuaikan beberapa elemen kecil dengan sistem operasi, misalnya ikon jendela, pengaturan tema gelap, hingga dukungan warna aksen tertentu.

Apakah Fluent Design Akan Hilang?

Belum tentu.

Windows 11 sendiri masih menggunakan Fluent Design pada banyak bagian sistem.

Misalnya:

  • menu Start,
  • File Explorer,
  • Settings,
  • Taskbar,
  • menu konteks,
  • serta berbagai aplikasi bawaan.

Namun arah pengembangan Microsoft menunjukkan bahwa Fluent kemungkinan tidak lagi menjadi fokus utama.

Ke depan, bukan tidak mungkin sebagian besar aplikasi Microsoft akan mengikuti prinsip Copilot Design yang lebih berorientasi pada pengalaman AI.

Dampaknya bagi Pengguna

Bagi sebagian besar pengguna Chrome, pembatalan fitur ini mungkin tidak akan memberikan dampak besar terhadap penggunaan sehari-hari.

Performa browser, keamanan, kompatibilitas situs web, serta fitur baru seperti integrasi AI tetap menjadi prioritas utama Google.

Namun bagi pengguna Windows yang mengutamakan estetika antarmuka, keputusan ini tentu cukup mengecewakan.

Chrome akan tetap terlihat sedikit berbeda dibanding aplikasi bawaan Windows 11.

Sebaliknya, Microsoft Edge masih menawarkan pengalaman visual yang lebih dekat dengan sistem operasi, meskipun kini juga mulai mengadopsi identitas desain baru.

Fokus Google Beralih ke Fitur yang Lebih Penting

Dalam beberapa tahun terakhir, Google tampak lebih memprioritaskan pengembangan fitur-fitur seperti:

  • peningkatan keamanan browser,
  • perlindungan privasi,
  • penghematan memori,
  • efisiensi konsumsi daya,
  • integrasi kecerdasan buatan (AI),
  • peningkatan performa JavaScript,
  • serta dukungan standar web terbaru.

Dari sudut pandang perusahaan, fitur-fitur tersebut memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi miliaran pengguna dibanding sekadar perubahan tampilan title bar.

Kesimpulan

Keputusan Google menghentikan pengembangan Mica Material untuk Chrome menandai berakhirnya salah satu proyek visual yang cukup lama dinantikan pengguna Windows 11. Padahal, sejak 2023 implementasi Fluent Design telah menunjukkan perkembangan positif dan bahkan sempat diuji pada Chrome Canary. Jika berhasil dirilis, Chrome akan tampil lebih serasi dengan aplikasi bawaan Windows berkat efek Mica yang elegan dan hemat sumber daya.

Namun perubahan arah strategi Microsoft tampaknya menjadi salah satu faktor penting di balik keputusan tersebut. Saat Microsoft mulai beralih ke Copilot Design sebagai identitas visual baru, Fluent Design tidak lagi menjadi fokus utama. Dalam kondisi seperti ini, Google memilih mengalihkan sumber daya pengembangannya ke fitur yang dinilai lebih bermanfaat, seperti peningkatan performa, keamanan, dan integrasi AI. Bagi pengguna, pembatalan Mica mungkin memang mengurangi potensi penyempurnaan tampilan Chrome di Windows 11, tetapi pengalaman menjelajah web secara keseluruhan diperkirakan tidak akan terpengaruh secara signifikan.