Qualcomm Ungkap Spek Snapdragon C, Kencang untuk Laptop 4 Jutaan

Qualcomm Ungkap Spek Snapdragon C, Kencang untuk Laptop 4 Jutaan

Qualcomm mulai membuka rincian mengenai prosesor terbarunya, Snapdragon C, yang dirancang khusus untuk laptop kelas entry-level. Chip berbasis arsitektur Arm ini diposisikan sebagai alternatif baru bagi produsen laptop yang selama ini banyak mengandalkan prosesor murah dari Intel.

Kehadiran Snapdragon C cukup menarik karena Qualcomm tidak hanya menjanjikan performa yang memadai untuk aktivitas sehari-hari, tetapi juga menawarkan efisiensi daya yang menjadi salah satu keunggulan utama arsitektur Arm. Dengan target perangkat di kisaran harga mulai dari USD 300 atau sekitar Rp 4,7 juta, Snapdragon C berpotensi membuat persaingan laptop murah semakin ramai.

Qualcomm sendiri mengklaim chip tersebut mampu memberikan performa lebih tinggi dibandingkan Intel N250 dalam sejumlah pengujian internal. Di sisi lain, konsumsi dayanya juga disebut jauh lebih rendah ketika digunakan untuk aktivitas seperti streaming video, browsing, hingga panggilan video.

Lantas, seperti apa spesifikasi Snapdragon C dan seberapa menarik prosesor ini untuk laptop murah?

Snapdragon C Dibuat untuk Laptop Entry-Level

Selama ini, pasar laptop murah banyak diisi perangkat dengan prosesor entry-level dari Intel. Perangkat tersebut biasanya ditujukan untuk pengguna yang membutuhkan laptop sederhana untuk menjalankan aplikasi perkantoran, browsing internet, belajar, menonton video, hingga aktivitas produktivitas ringan.

Qualcomm melihat celah tersebut sebagai peluang untuk memperluas penggunaan chip berbasis Arm ke perangkat yang harganya lebih terjangkau.

Snapdragon C dirancang dengan pendekatan yang cukup berbeda. Qualcomm mencoba menggabungkan CPU yang memiliki performa kompetitif, GPU terintegrasi, pemrosesan AI melalui NPU, serta konsumsi daya rendah dalam satu chip.

Strategi ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi Qualcomm. Perusahaan tersebut sebelumnya telah mendorong Snapdragon untuk berbagai perangkat Windows, termasuk laptop premium. Namun, Snapdragon C menjadi menarik karena fokusnya diarahkan ke segmen harga yang jauh lebih rendah.

Jika laptop berbasis Snapdragon C benar-benar dapat dijual di kisaran Rp4 jutaan sambil mempertahankan performa dan daya tahan baterai yang baik, chip ini dapat menjadi alternatif menarik bagi konsumen dengan anggaran terbatas.

Menggunakan CPU Qualcomm Kryo 8-Core

Dari sisi CPU, Snapdragon C dibekali prosesor Qualcomm Kryo dengan delapan core. Chip tersebut memiliki kecepatan clock maksimum hingga 3 GHz untuk single-core dan hingga 2 GHz untuk multi-core, dengan total cache sebesar 2 MB.

Konfigurasi tersebut memang tidak ditujukan untuk menandingi prosesor laptop kelas atas. Namun, untuk perangkat entry-level, Qualcomm tampaknya lebih mengejar keseimbangan antara performa dan konsumsi energi.

Kecepatan single-core hingga 3 GHz dapat membantu menangani berbagai pekerjaan yang mengandalkan respons cepat dari satu atau beberapa core. Sementara itu, delapan core memberikan ruang bagi prosesor untuk menangani beberapa tugas secara bersamaan.

Dalam penggunaan sehari-hari, kombinasi tersebut berpotensi mencukupi kebutuhan seperti membuka banyak tab browser, mengedit dokumen, mengikuti rapat online, memutar video, menjalankan aplikasi komunikasi, dan melakukan multitasking ringan.

Baca juga : Windows 11 25H2 vs 26H1 vs 26H2, Apa Bedanya? Ini Penjelasan dan Jalur Updatenya

Ada GPU Adreno dan NPU Hexagon

Snapdragon C tidak hanya mengandalkan CPU. Qualcomm turut menyematkan GPU Adreno dengan kecepatan hingga 900 MHz untuk menangani pemrosesan grafis.

GPU terintegrasi semacam ini penting pada laptop entry-level karena pengguna tidak mungkin mendapatkan kartu grafis diskrit dengan harga perangkat yang berada di kisaran Rp4 jutaan.

Adreno dapat menangani kebutuhan visual sehari-hari, mulai dari antarmuka Windows, pemutaran video, aplikasi multimedia, hingga beberapa aktivitas grafis ringan. Namun, laptop berbasis Snapdragon C tentu bukan perangkat yang ditujukan khusus untuk gaming berat atau pekerjaan 3D profesional.

Menariknya, Qualcomm juga menyertakan Hexagon NPU. Komponen ini dirancang untuk menangani beban kerja kecerdasan buatan secara lebih efisien.

Keberadaan NPU menjadi semakin relevan karena berbagai fitur AI mulai masuk ke sistem operasi dan aplikasi modern. Dengan pemrosesan AI yang dilakukan secara lokal, sebagian pekerjaan dapat ditangani tanpa selalu mengandalkan server cloud.

Dengan demikian, Snapdragon C tidak hanya menawarkan CPU dan GPU, tetapi juga mencoba mempersiapkan laptop murah untuk kebutuhan komputasi AI yang semakin berkembang.

Klaim Performa Lebih Cepat dari Intel N250

Salah satu bagian paling menarik dari pengumuman Snapdragon C adalah klaim performanya.

Qualcomm melakukan pengujian internal dengan membandingkan sistem sampel berbasis Snapdragon C dengan laptop yang menggunakan Intel N250. Kedua perangkat dalam pengujian tersebut menggunakan RAM 8 GB.

Hasilnya, Qualcomm mengklaim Snapdragon C unggul cukup signifikan dalam beberapa benchmark.

Pada pengujian Geekbench, Snapdragon C disebut memiliki performa single-core 44 persen lebih tinggi dibandingkan Intel N250. Untuk pengujian multi-core, keunggulannya mencapai 24 persen.

Perbedaan tersebut semakin besar dalam pengujian Cinebench. Qualcomm mengklaim Snapdragon C mencatat performa single-thread 50 persen lebih tinggi, sedangkan performa multi-thread disebut unggul hingga 67 persen.

Untuk aktivitas browsing, Qualcomm menggunakan pengujian Speedometer 3.1. Dalam pengujian tersebut, Snapdragon C diklaim mencapai performa hingga 39 persen lebih tinggi dibandingkan Intel N250.

Namun, perlu diingat bahwa angka tersebut merupakan hasil pengujian internal Qualcomm. Performa laptop sebenarnya tetap dapat berbeda tergantung desain perangkat, sistem pendingin, RAM, penyimpanan, konfigurasi software, dan kondisi pengujian.

Karena itu, hasil benchmark tersebut sebaiknya dipandang sebagai gambaran awal, bukan jaminan bahwa setiap laptop Snapdragon C akan selalu memiliki performa persis seperti angka yang diklaim.

Efisiensi Daya Menjadi Keunggulan Utama

Jika performa menjadi salah satu daya tarik Snapdragon C, efisiensi daya merupakan senjata utama Qualcomm.

Perusahaan mengklaim Snapdragon C jauh lebih hemat dibandingkan Intel N250 ketika digunakan dalam berbagai skenario penggunaan sehari-hari.

Dalam pengujian streaming Netflix melalui Microsoft Edge, misalnya, Qualcomm mengklaim Snapdragon C memiliki efisiensi daya 106 persen lebih baik dibandingkan Intel N250.

Sementara ketika digunakan untuk menjelajah web, Snapdragon C disebut 68 persen lebih efisien.

Untuk aktivitas panggilan video menggunakan Microsoft Teams, Qualcomm mengklaim efisiensinya mencapai 74 persen lebih baik.

Angka-angka tersebut menjadi penting karena daya tahan baterai merupakan salah satu faktor yang sering menjadi kompromi pada laptop murah.

Laptop dengan harga terjangkau biasanya harus menyeimbangkan berbagai komponen agar biaya produksi tetap rendah. Jika Snapdragon C mampu menawarkan konsumsi daya yang lebih rendah tanpa mengorbankan performa secara signifikan, produsen dapat membuat laptop yang tetap ringan dan memiliki daya tahan baterai panjang.

Qualcomm bahkan menjanjikan kemampuan penggunaan seharian penuh dalam skenario penggunaan tertentu.

Cocok untuk Pelajar dan Pekerja dengan Mobilitas Tinggi?

Jika melihat target produknya, laptop Snapdragon C berpotensi menarik bagi pengguna yang tidak membutuhkan spesifikasi ekstrem.

Pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, pengguna yang sering bekerja dari kafe, hingga pengguna yang membutuhkan perangkat kedua untuk bepergian merupakan beberapa kelompok yang berpotensi mendapatkan manfaat dari laptop semacam ini.

Untuk kebutuhan seperti mengetik dokumen, browsing, menonton YouTube atau Netflix, mengakses aplikasi berbasis web, mengikuti kelas online, hingga rapat video, spesifikasi Snapdragon C terlihat cukup menjanjikan.

Daya tahan baterai juga dapat menjadi nilai tambah bagi pengguna yang sering bekerja jauh dari stopkontak.

Namun, ada beberapa hal yang tetap perlu diperhatikan. Laptop berbasis Arm memiliki ekosistem aplikasi yang berbeda dibandingkan PC Windows berbasis x86. Kompatibilitas aplikasi Windows terus berkembang, tetapi pengguna yang bergantung pada software tertentu sebaiknya memastikan aplikasinya dapat berjalan dengan baik sebelum membeli.

Hal tersebut terutama relevan bagi pengguna profesional yang membutuhkan aplikasi khusus, software lawas, driver tertentu, atau perangkat periferal tertentu.

Acer, HP, Asus, dan Lenovo Siap Menggunakannya

Snapdragon C juga mendapatkan dukungan dari sejumlah produsen laptop besar.

Acer, HP, Asus, dan Lenovo dilaporkan tengah mempersiapkan perangkat yang menggunakan chip tersebut. Dukungan dari banyak OEM menjadi faktor penting karena keberhasilan sebuah platform tidak hanya bergantung pada kemampuan prosesornya.

Acer bahkan telah memperlihatkan Aspire Go 15 sebagai salah satu laptop pertama yang menggunakan Snapdragon C.

Perangkat tersebut dibekali RAM 8 GB dan SSD 512 GB, konfigurasi yang cukup umum untuk laptop entry-level modern.

Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa Qualcomm memang menyasar perangkat yang ditujukan untuk produktivitas harian, bukan workstation atau laptop gaming kelas berat.

Meski begitu, Qualcomm dan para produsen belum mengumumkan harga final maupun tanggal peluncuran seluruh laptop Snapdragon C secara resmi.

Akan Bersaing dengan Intel dan Apple

Kehadiran Snapdragon C berpotensi membuat persaingan laptop entry-level semakin menarik.

Qualcomm tidak hanya berhadapan dengan prosesor entry-level Intel, tetapi juga menghadapi perkembangan ekosistem Arm yang semakin luas.

Di segmen tersebut, Snapdragon C diproyeksikan menjadi pesaing bagi platform Intel Wildcat Lake serta MacBook Neo dari Apple.

Persaingan ini menarik karena masing-masing perusahaan memiliki pendekatan berbeda.

Intel memiliki pengalaman panjang di pasar PC dan kompatibilitas software yang sangat luas. Apple memiliki kendali penuh atas hardware dan software dalam ekosistem Mac. Sementara Qualcomm mencoba menawarkan kombinasi Windows, arsitektur Arm, performa kompetitif, dan efisiensi daya.

Bagi konsumen, persaingan tersebut justru bisa menjadi kabar baik. Produsen memiliki lebih banyak pilihan platform sehingga laptop murah berpotensi mendapatkan peningkatan performa dan daya tahan baterai.

Bukan Sekadar Laptop Murah

Snapdragon C menunjukkan bahwa Qualcomm tidak hanya ingin bermain di pasar laptop premium. Perusahaan juga mulai serius membawa arsitektur Arm ke kelas perangkat yang lebih terjangkau.

Dengan delapan core Qualcomm Kryo, GPU Adreno, Hexagon NPU, serta klaim efisiensi daya yang tinggi, Snapdragon C terlihat memiliki formula yang cukup menarik untuk laptop entry-level.

Klaim benchmark juga menunjukkan bahwa Qualcomm percaya diri dengan kemampuan chip tersebut ketika dibandingkan dengan Intel N250.

Namun, keberhasilan Snapdragon C pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh angka benchmark. Harga jual, kualitas laptop, optimasi software, kompatibilitas aplikasi Windows, daya tahan baterai dalam penggunaan nyata, serta pengalaman pengguna akan menjadi faktor yang tidak kalah penting.

Jika semua aspek tersebut dapat berjalan dengan baik, laptop Snapdragon C berpotensi menjadi salah satu pilihan baru yang menarik di kelas harga Rp4 jutaan.

Untuk konsumen, hadirnya Snapdragon C juga berarti satu hal sederhana: pilihan laptop murah semakin banyak. Dan ketika Qualcomm, Intel, Apple, serta produsen PC lainnya terus bersaing di segmen tersebut, bukan tidak mungkin laptop entry-level generasi berikutnya akan menawarkan performa dan daya tahan baterai yang jauh lebih baik dibandingkan perangkat murah beberapa tahun lalu.