7 Merek yang Masih Menjual HP Lipat pada 2026, Ada Samsung hingga Google Pixel

7 Merek yang Masih Menjual HP Lipat pada 2026, Ada Samsung hingga Google Pixel

Pasar smartphone lipat sempat diprediksi hanya menjadi tren sesaat. Namun, memasuki 2026, anggapan tersebut justru semakin sulit dipertahankan. Sejumlah produsen besar masih konsisten menghadirkan perangkat dengan layar yang bisa dilipat, baik dalam format fold maupun flip.

Samsung menjadi salah satu contoh paling jelas. Pada Juli 2026, perusahaan asal Korea Selatan tersebut memperkenalkan Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Z Flip 8 series. Sebulan kemudian, Google ikut meramaikan persaingan dengan menghadirkan Pixel 11 Pro Fold.

Meski demikian, kondisi pasar HP lipat tidak sepenuhnya ramai. Beberapa merek seperti Xiaomi, nubia, dan TECNO disebut telah meninggalkan persaingan di kategori ini. Artinya, produsen yang masih bertahan harus memiliki strategi dan keunggulan yang cukup kuat untuk menarik konsumen.

Menariknya, masing-masing merek tidak menawarkan pendekatan yang sama. Ada yang fokus pada produktivitas, harga, desain, ketahanan, bodi tipis, kamera, hingga kecerdasan buatan.

Berikut tujuh merek yang masih menjual HP lipat pada 2026 beserta keunggulan masing-masing.

1. Samsung, Pemimpin Pasar HP Lipat

Kalau berbicara mengenai HP lipat, nama Samsung hampir pasti masuk dalam pembahasan. Samsung merupakan salah satu pelopor utama kategori smartphone layar lipat dan sampai sekarang masih menjadi pemain penting di pasar tersebut.

Pada 2026, Samsung kembali memperbarui lini produknya melalui Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Z Flip 8 series.

Kekuatan Samsung bukan hanya terletak pada jumlah produknya, tetapi juga pada diferensiasi antarperangkat. Format Fold misalnya lebih diarahkan untuk pengguna yang membutuhkan layar besar dan kemampuan multitasking.

Galaxy Z Fold 8 dapat menjadi pilihan bagi pengguna yang ingin merasakan pengalaman seperti membawa tablet kecil dalam bentuk smartphone. Ketika dibuka, layar yang lebih luas membuat aktivitas seperti membaca dokumen, menonton video, menjalankan beberapa aplikasi sekaligus, hingga bekerja menjadi lebih nyaman.

Samsung juga menawarkan model seperti Galaxy Z Flip 8 yang memiliki pendekatan berbeda. Perangkat ini dapat dilipat secara vertikal sehingga bentuknya menjadi lebih ringkas ketika disimpan.

Karena itu, lini Flip lebih cocok bagi pengguna yang mengutamakan kepraktisan dan gaya untuk penggunaan sehari-hari.

Menurut data yang dikutip dari Counterpoint dalam tulisan sumber, Samsung diproyeksikan memimpin pasar HP lipat 2026 dengan pangsa sekitar 32 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun persaingan semakin ketat, Samsung masih memiliki posisi yang sangat kuat.

2. Motorola, Pilihan HP Lipat yang Lebih Terjangkau

Merek berikutnya adalah Motorola.

Jika sebagian HP lipat berada di kelas premium dengan harga sangat tinggi, Motorola mencoba mengambil pendekatan yang sedikit berbeda dengan menawarkan pilihan dari beberapa rentang harga.

Salah satu contohnya adalah Motorola Razr 60 yang disebut dibanderol mulai sekitar Rp10 jutaan. Selain itu, Motorola juga memiliki model yang lebih tinggi seperti Razr 70 Ultra dan Motorola Razr Fold dengan harga yang mencapai puluhan juta rupiah.

Strategi tersebut menarik karena HP lipat masih tergolong produk mahal bagi sebagian besar konsumen. Dengan menghadirkan pilihan yang lebih beragam, Motorola dapat menjadi pintu masuk bagi pengguna yang ingin mencoba teknologi layar lipat tanpa langsung membeli model paling mahal.

Dari sisi performa, Motorola juga tidak sekadar mengandalkan desain. Perangkat dalam lini tersebut menggunakan chipset seperti MediaTek Dimensity 7400X hingga Snapdragon 8 Gen 5, tergantung modelnya.

Beberapa perangkat juga dilengkapi kamera periskop telefoto.

Dengan demikian, Motorola berusaha menjadikan HP lipat bukan hanya sebagai produk eksklusif, tetapi sebagai kategori smartphone yang dapat menjangkau konsumen lebih luas.

Baca juga : Cara Praktis Bikin KTP Digital Pakai HP, Tak Perlu Selalu Bawa Kartu Fisik

3. HUAWEI, Menggabungkan Kemewahan dan Inovasi

HUAWEI memiliki pendekatan yang berbeda lagi.

Perusahaan ini lebih menonjolkan desain premium sekaligus inovasi pada mekanisme layar lipat. Salah satu produk yang paling menarik perhatian adalah HUAWEI Mate XT Ultimate, yang menggunakan konsep tri-fold atau layar yang dapat dilipat pada dua bagian.

Konsep tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dari HP Fold konvensional yang umumnya hanya memiliki satu mekanisme lipatan.

HUAWEI juga mempunyai lini Pura X dengan desain bergaya passport yang terlihat lebih mengotak. Sementara itu, HUAWEI Mate X7 membawa nuansa premium melalui bagian belakang berbahan kulit vegan.

Tidak hanya mengandalkan tampilan, spesifikasinya juga cukup serius. Berdasarkan informasi dalam tulisan sumber, Mate X7 memiliki baterai hingga 5.600 mAh, tiga kamera yang terdiri dari kamera utama, ultrawide, dan periskop telefoto, serta layar LTPO.

Perangkat tersebut juga memiliki sertifikasi ketahanan seperti IP58/IP59.

HUAWEI dengan demikian mencoba membuktikan bahwa HP lipat tidak harus identik dengan perangkat yang hanya mengejar bentuk futuristik. Produk tersebut juga dapat mengedepankan material premium, kamera, ketahanan, serta teknologi layar.

4. HONOR, Mengutamakan Ketahanan

Salah satu kekhawatiran terbesar terhadap HP lipat adalah daya tahannya.

Mekanisme engsel membuat perangkat jenis ini memiliki lebih banyak komponen bergerak dibandingkan smartphone biasa. Karena itu, ketahanan engsel dan perlindungan terhadap air menjadi faktor penting.

HONOR mencoba menjawab persoalan tersebut melalui lini HP lipatnya.

Salah satu contohnya adalah HONOR Magic V6. Perangkat ini disebut mampu menghadapi berbagai kondisi berat, termasuk paparan lumpur, air, hingga semprotan air bertekanan tinggi.

Kemampuan tersebut didukung sertifikasi IP68/IP69.

HONOR juga menggunakan teknologi Super Steel Hinge. Berdasarkan informasi sumber, engsel tersebut dirancang mampu bertahan hingga 500.000 kali lipatan serta menahan tekanan hingga 2.800 MPa.

Tentu angka tersebut tidak berarti pengguna harus membuka dan menutup perangkat sebanyak ratusan ribu kali untuk membuktikan ketahanannya. Namun, klaim tersebut menunjukkan bahwa HONOR berusaha mengatasi salah satu kelemahan paling sering diasosiasikan dengan HP lipat.

Pendekatan HONOR cukup jelas: layar lipat tidak hanya harus terlihat canggih, tetapi juga harus cukup tangguh untuk digunakan sehari-hari.

5. OPPO, Mengejar Bodi yang Tipis dan Ringan

Ketebalan merupakan tantangan lain pada HP lipat.

Ketika smartphone biasa dibuat semakin tipis, perangkat lipat justru memiliki tambahan layar, engsel, serta berbagai komponen yang membuat desainnya lebih kompleks.

OPPO mencoba mengatasi persoalan tersebut dengan menghadirkan perangkat lipat yang sangat tipis.

OPPO Find N5 dan Find N6 menjadi contoh pendekatan tersebut.

Dalam informasi yang tersedia, OPPO Find N6 memiliki ketebalan sekitar 4,2 mm ketika dibuka dan 8,9 mm ketika dilipat, dengan bobot sekitar 225 gram.

Find N5 juga memiliki bobot sekitar 229 gram.

Angka tersebut penting karena bobot dan ketebalan sangat memengaruhi kenyamanan penggunaan. HP lipat yang terlalu berat dapat terasa melelahkan ketika digunakan dalam waktu lama.

Sementara perangkat yang lebih tipis dan ringan akan terasa lebih mendekati pengalaman menggunakan smartphone konvensional.

OPPO pada akhirnya menjadikan desain sebagai salah satu senjata utamanya. Mereka ingin menunjukkan bahwa memiliki layar besar tidak selalu berarti harus membawa perangkat yang terasa tebal dan berat.

6. vivo, Mengandalkan Kamera

Bagi sebagian pengguna, kamera merupakan salah satu alasan utama membeli smartphone flagship. vivo mencoba membawa keunggulan tersebut ke kategori HP lipat.

Lini seperti vivo X Fold 6 dan vivo X Fold 5 menawarkan konfigurasi kamera yang cukup lengkap.

Perangkat tersebut memiliki kamera utama, ultrawide, selfie, serta periskop telefoto dengan kemampuan optical zoom hingga 3x.

Salah satu nilai tambah vivo adalah kolaborasinya dengan ZEISS. Kerja sama tersebut digunakan untuk meningkatkan pengalaman fotografi, termasuk ketajaman, detail, dan karakter bokeh.

Menariknya, kemampuan fotografi vivo tidak berhenti pada kamera bawaan.

Perangkat tertentu juga dapat dipasangkan dengan aksesori Teleconverter yang memiliki focal length hingga 200 mm.

Pendekatan ini membuat HP lipat vivo menarik bagi pengguna yang ingin menggabungkan layar fleksibel dengan kemampuan fotografi yang serius.

Jadi, vivo tidak hanya menjual konsep “HP yang bisa dilipat”, tetapi juga mencoba menjadikannya perangkat fotografi.

7. Google Pixel, Mengandalkan AI dan Multitasking

Terakhir ada Google Pixel.

Google memiliki strategi yang cukup berbeda dibandingkan produsen lain. Jika beberapa merek lebih sibuk menonjolkan spesifikasi hardware, Google justru mengandalkan software dan kecerdasan buatan sebagai daya tarik utama.

Pada 2026, Google menghadirkan Pixel 11 Pro Fold.

Salah satu fokusnya adalah kemampuan AI yang dapat berjalan langsung di perangkat. Chip Google Tensor dilengkapi Neural Processing Unit atau NPU yang dirancang untuk menangani berbagai tugas AI.

Google juga mengintegrasikan Gemini ke dalam pengalaman Pixel.

Selain AI, layar besar pada HP lipat Pixel dimanfaatkan untuk multitasking. Google menyediakan fitur seperti Bubbles, Drag and Drop, Magic Cue, hingga Split Screen yang membuat pengguna dapat menjalankan dan mengatur beberapa aktivitas secara bersamaan.

Pendekatan ini cocok bagi pengguna yang tidak hanya mencari spesifikasi tinggi, tetapi ingin perangkat yang terasa pintar dalam membantu pekerjaan sehari-hari.

Persaingan HP Lipat Makin Menarik

Jika melihat ketujuh merek tersebut, terlihat jelas bahwa pasar HP lipat 2026 tidak hanya berisi persaingan spesifikasi.

Samsung kuat sebagai pemain mapan dengan lini Fold dan Flip yang beragam. Motorola mencoba memperluas akses melalui pilihan harga yang lebih bervariasi. HUAWEI mengedepankan kemewahan dan inovasi seperti layar tri-fold.

Sementara itu, HONOR fokus pada ketahanan, OPPO mengejar bodi tipis, vivo mengandalkan kamera, dan Google Pixel menonjolkan AI serta software.

Strategi yang berbeda tersebut justru membuat pasar HP lipat semakin menarik.

Di sisi lain, berkurangnya jumlah pemain juga menunjukkan bahwa membuat HP lipat bukan perkara sederhana. Produsen harus mengembangkan layar fleksibel, engsel, baterai, sistem pendinginan, software, serta konstruksi bodi secara bersamaan.

Ke depan, persaingan bisa menjadi semakin sengit apabila semakin banyak perusahaan besar masuk ke kategori ini. Dalam informasi sumber juga disebutkan adanya kemungkinan Apple memasuki pasar HP lipat pada 2026 melalui produk yang disebut-sebut sebagai iPhone Ultra.

Jika benar-benar terealisasi, kehadiran Apple tentu berpotensi mengubah persaingan secara signifikan.

Pada akhirnya, HP lipat sudah berkembang jauh dari sekadar teknologi eksperimental. Tahun 2026 menunjukkan bahwa perangkat ini mulai memiliki identitas masing-masing. Konsumen pun tidak lagi hanya memilih berdasarkan “bisa dilipat atau tidak”, tetapi dapat menentukan perangkat berdasarkan kebutuhan: produktivitas, harga, ketahanan, desain, kamera, atau kecerdasan buatan.

Dan justru di situlah masa depan HP lipat menjadi semakin menarik.