Indonesia Siapkan 4 Landing Station Kabel Laut, Berambisi Jadi Hub Digital Asia Pasifik
Indonesia tengah memperkuat posisinya sebagai salah satu simpul penting konektivitas digital di kawasan Asia Pasifik. Pemerintah menyiapkan empat lokasi landing station kabel laut internasional sekaligus menata ratusan koridor kabel bawah laut di wilayah perairan Indonesia.
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena sebagian besar lalu lintas data internasional saat ini masih mengandalkan kabel komunikasi bawah laut. Pertumbuhan layanan cloud, pusat data, streaming, transaksi digital, hingga kecerdasan buatan (AI) membuat kebutuhan terhadap jaringan internet berkapasitas besar dan stabil terus meningkat.
Dengan kondisi geografis yang berada di antara Asia dan Australia serta memiliki wilayah laut yang sangat luas, Indonesia mempunyai peluang untuk berkembang bukan sekadar sebagai negara pengguna konektivitas digital, tetapi juga sebagai hub jaringan internet regional.
Empat Wilayah Disiapkan sebagai Landing Station
Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menyiapkan empat lokasi yang direncanakan menjadi titik pendaratan kabel laut internasional. Keempat wilayah tersebut adalah Jakarta, Nusa Tenggara Timur (NTT), Manado, dan Jayapura.
Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut KKP Kartika Listriana menjelaskan bahwa pemilihan lokasi tersebut mempertimbangkan efektivitas jalur konektivitas. Artinya, landing station tidak sekadar dibangun berdasarkan ketersediaan lahan, tetapi juga memperhatikan posisi geografis dan hubungan dengan jaringan kabel yang menuju negara lain.
Jakarta tentu memiliki posisi penting karena menjadi salah satu pusat ekonomi, pemerintahan, bisnis, dan infrastruktur digital Indonesia. Konsentrasi perusahaan teknologi, operator telekomunikasi, serta pusat data membuat wilayah ini secara alami membutuhkan konektivitas berkapasitas besar.
Sementara itu, wilayah Indonesia timur memiliki keunggulan geografis tersendiri. Jayapura, misalnya, berada relatif dekat dengan Australia. Posisi tersebut dapat membuat Papua menjadi salah satu pintu masuk konektivitas antara Indonesia dan Australia.
Artinya, pengembangan landing station tidak hanya bertujuan meningkatkan koneksi domestik, tetapi juga membuka peluang Indonesia menjadi bagian dari rute lalu lintas data internasional.
Indonesia Sudah Memiliki Ratusan Koridor Kabel Bawah Laut
Rencana empat landing station tersebut tidak berdiri sendiri. Indonesia sebenarnya telah memiliki kerangka penataan ruang laut untuk mendukung pembangunan jaringan kabel bawah laut.
Dalam presentasinya pada Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026, Kartika mengungkap bahwa Indonesia telah menetapkan koridor alur kabel bawah laut nasional melalui Kepmen KP Nomor 14 Tahun 2021.
Penataan tersebut mencakup 217 segmen koridor, 209 landing point, dan empat lokasi landing station Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) internasional yang masuk ke Indonesia.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan jaringan kabel bawah laut bukan proyek sederhana. Infrastruktur yang berada di dasar laut harus direncanakan secara hati-hati karena ruang laut juga digunakan untuk berbagai kegiatan lain.
Kabel komunikasi harus berbagi ruang dengan jalur pelayaran, aktivitas perikanan, industri minyak dan gas, pertambangan, kawasan konservasi, hingga pariwisata. Tanpa perencanaan yang jelas, pembangunan kabel berpotensi menimbulkan konflik dengan aktivitas lain.
Karena itu, keberadaan koridor khusus memberikan kepastian kepada operator dan investor mengenai jalur yang dapat digunakan untuk membangun infrastruktur kabel.
Kepastian seperti ini juga penting dari sisi investasi. Pembangunan kabel laut membutuhkan biaya besar dan perencanaan jangka panjang. Investor tentu membutuhkan kepastian bahwa infrastruktur yang mereka bangun tidak menghadapi persoalan ruang yang tidak terduga.
Baca juga : 5 Android Launcher Terbaik untuk Dicoba di 2026, Bikin HP Lebih Personal
Lebih dari 99 Persen Trafik Data Internasional Lewat Kabel Laut
Ada alasan kuat mengapa kabel bawah laut menjadi bagian penting dari strategi konektivitas Indonesia.
Menurut KKP, lebih dari 50 sistem kabel bawah laut internasional dan domestik telah berada di Indonesia. Bahkan, lebih dari 99 persen trafik data internasional disebut berjalan melalui kabel bawah laut.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa kabel laut bukan sekadar infrastruktur pendukung internet. Kabel tersebut merupakan salah satu fondasi utama komunikasi digital global.
Ketika seseorang melakukan panggilan video dengan orang di negara lain, mengakses layanan cloud, bermain game online dengan server luar negeri, melakukan transaksi digital internasional, atau menggunakan platform AI yang infrastrukturnya berada di luar Indonesia, data yang dikirimkan dapat melewati jaringan kabel bawah laut.
Karena itu, kualitas dan kapasitas kabel laut memiliki hubungan langsung dengan perkembangan ekonomi digital.
Semakin banyak perusahaan menggunakan layanan cloud dan data center, semakin besar pula kebutuhan terhadap koneksi internasional berkapasitas tinggi. Begitu pula dengan perkembangan AI yang membutuhkan pertukaran data dalam jumlah sangat besar.
Konsep Hub & Spoke Mulai Dipertimbangkan
Ke depan, pemerintah tidak hanya ingin membangun kabel dari satu titik ke titik lain. Penataan jaringan juga diarahkan menggunakan konsep Hub & Spoke.
Secara sederhana, konsep ini menempatkan suatu lokasi sebagai pusat atau hub, kemudian menghubungkannya dengan berbagai landing point lain yang berfungsi seperti cabang atau “spoke”.
Model tersebut memungkinkan konektivitas dikembangkan secara lebih terstruktur. Hub dapat didukung oleh infrastruktur digital lain, terutama data center, sehingga tidak hanya menjadi tempat kabel mendarat.
Bayangkan sebuah wilayah memiliki landing station yang terhubung ke beberapa jalur internasional. Jika di sekitar wilayah tersebut juga tersedia data center dan jaringan domestik berkapasitas besar, kawasan itu dapat berkembang menjadi pusat pertukaran dan pemrosesan data.
Inilah yang membuat konsep hub digital menjadi menarik.
Indonesia tidak hanya mendapatkan manfaat dari kabel yang melewati wilayahnya, tetapi juga berpotensi memperoleh aktivitas ekonomi tambahan dari data center, layanan cloud, perusahaan teknologi, penyedia jaringan, dan berbagai layanan digital lainnya.
Jarak Antarkabel Juga Harus Diperhitungkan
Membangun lebih banyak kabel tidak berarti semua kabel dapat diletakkan berdekatan tanpa perhitungan.
Menurut KKP, pengembangan koridor harus mempertimbangkan jarak aman antarkabel dan kapasitas setiap koridor.
Hal ini penting karena kabel bawah laut merupakan infrastruktur yang rentan terhadap berbagai gangguan. Aktivitas kapal, jangkar, pekerjaan konstruksi laut, maupun kegiatan lainnya dapat berpotensi merusak kabel apabila tidak ada pengaturan ruang yang memadai.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan jalur kabel memiliki ruang yang cukup sekaligus tidak mengganggu aktivitas maritim lainnya.
Penataan juga memiliki fungsi penting dalam menjaga ketahanan jaringan. Infrastruktur konektivitas idealnya tidak hanya memiliki kapasitas besar, tetapi juga mempunyai jalur alternatif apabila salah satu kabel mengalami gangguan.
Dengan semakin banyaknya aktivitas digital, gangguan terhadap kabel laut dapat berdampak luas terhadap layanan internet dan bisnis yang bergantung pada koneksi internasional.
Peluang Besar dari Data Center dan AI
Ambisi menjadi hub konektivitas Asia Pasifik muncul pada saat kebutuhan infrastruktur digital sedang berkembang pesat.
Cloud computing, layanan streaming, game online, e-commerce, fintech, data center, dan AI semuanya membutuhkan jaringan dengan kapasitas tinggi.
AI bahkan dapat meningkatkan kebutuhan tersebut secara signifikan. Pengembangan model AI dan penggunaan layanan AI membutuhkan infrastruktur komputasi yang sangat besar. Data harus dipindahkan antara server, pusat data, pengguna, dan berbagai layanan pendukung.
Kondisi tersebut membuat lokasi yang memiliki konektivitas internasional kuat menjadi semakin strategis.
Jika Indonesia mampu mengembangkan landing station yang terintegrasi dengan data center dan jaringan domestik, manfaatnya dapat meluas ke berbagai sektor ekonomi.
Perusahaan teknologi dapat memperoleh akses koneksi yang lebih baik. Penyedia cloud dapat memperluas infrastruktur. Data center bisa berkembang di wilayah baru. Sementara perusahaan lokal memperoleh akses terhadap layanan digital dengan koneksi internasional yang lebih kuat.
Tidak Membatasi Perusahaan Teknologi yang Ingin Berinvestasi
Pemerintah juga menyatakan terbuka terhadap keterlibatan perusahaan teknologi global dalam pengembangan infrastruktur tersebut.
Indonesia tidak ingin mengkhususkan pembangunan konektivitas hanya kepada perusahaan tertentu. Yang menjadi syarat utama adalah perusahaan yang berinvestasi harus mengikuti regulasi dan ketentuan yang berlaku di Indonesia.
Sikap terbuka tersebut dapat menjadi modal penting untuk menarik investasi.
Pembangunan jaringan kabel bawah laut dan data center membutuhkan modal besar. Keterlibatan perusahaan teknologi global, operator telekomunikasi, dan investor infrastruktur dapat mempercepat pengembangan ekosistem digital nasional.
Namun, keterbukaan investasi tetap perlu diimbangi dengan tata kelola yang baik. Infrastruktur strategis harus dibangun dengan mempertimbangkan keamanan, ketahanan jaringan, perlindungan lingkungan laut, dan kepentingan nasional.
Tantangan Indonesia Bukan Hanya Membangun Kabel
Meskipun peluangnya besar, ambisi menjadi hub digital Asia Pasifik bukan tanpa tantangan.
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas. Kondisi geografis tersebut memberikan keuntungan dari sisi posisi strategis, tetapi sekaligus membuat pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur menjadi kompleks.
Kabel harus melewati berbagai karakteristik dasar laut dan wilayah dengan aktivitas manusia yang berbeda-beda. Pemerintah juga harus berkoordinasi dengan banyak pihak agar pembangunan tidak menimbulkan konflik pemanfaatan ruang.
Selain itu, landing station saja tidak cukup.
Agar benar-benar menjadi hub digital, Indonesia membutuhkan jaringan domestik yang kuat untuk menghubungkan landing station dengan kota-kota dan pusat ekonomi lainnya. Data center, pembangkit listrik, jaringan fiber optik darat, serta sistem keamanan siber juga perlu berkembang secara bersamaan.
Dengan kata lain, kabel laut hanyalah salah satu bagian dari ekosistem yang lebih besar.
Indonesia Punya Modal, tetapi Harus Dikelola dengan Tepat
Posisi geografis Indonesia memberikan peluang besar untuk menjadi salah satu titik penting dalam jaringan digital Asia Pasifik. Empat landing station yang direncanakan di Jakarta, NTT, Manado, dan Jayapura dapat menjadi bagian awal dari strategi tersebut.
Keberadaan 217 segmen koridor, 209 landing point, dan puluhan sistem kabel yang telah berada di Indonesia juga menunjukkan bahwa ekosistem kabel laut sebenarnya sudah terbentuk.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengembangkan infrastruktur tersebut menjadi ekosistem konektivitas yang terintegrasi.
Jika konsep Hub & Spoke dapat diterapkan dengan baik dan didukung data center serta jaringan domestik berkapasitas tinggi, Indonesia berpeluang mendapatkan manfaat ekonomi yang jauh lebih besar dari sekadar menjadi jalur lewatnya kabel internasional.
Pada akhirnya, ambisi menjadi hub digital bukan hanya persoalan membangun landing station. Indonesia perlu memastikan seluruh rantai infrastrukturnya—mulai dari kabel bawah laut, jaringan darat, data center, energi, hingga regulasi—dapat bekerja sebagai satu kesatuan.
Dengan pasar digital yang besar dan posisi geografis yang strategis, peluang tersebut memang terbuka lebar. Tinggal bagaimana pemerintah, operator, investor, dan masyarakat mampu mengelolanya secara terencana agar posisi strategis Indonesia di peta konektivitas digital dunia benar-benar menghasilkan manfaat jangka panjang.