5 Besar Produsen Chip Ponsel Dunia Semester I-2026: MediaTek Masih Nomor 1, Persaingan Semakin Sengit

5 Besar Produsen Chip Ponsel Dunia Semester I-2026: MediaTek Masih Nomor 1, Persaingan Semakin Sengit

Industri smartphone global tengah menghadapi periode yang penuh tantangan. Setelah sempat mengalami pemulihan pascapandemi dan lonjakan permintaan perangkat 5G, pasar kini kembali menghadapi tekanan akibat kenaikan harga komponen, melambatnya ekonomi global, serta semakin panjangnya siklus pergantian ponsel oleh konsumen. Namun di balik perlambatan tersebut, persaingan antarprodusen chipset smartphone justru semakin menarik untuk disimak.

Chipset atau System-on-Chip (SoC) merupakan otak dari sebuah smartphone. Komponen inilah yang menentukan kemampuan perangkat dalam menjalankan aplikasi, bermain game, mengambil foto, memproses kecerdasan buatan (AI), hingga mengatur konsumsi daya baterai. Karena perannya yang sangat vital, persaingan di pasar chipset selalu menjadi indikator penting untuk melihat arah perkembangan industri smartphone secara keseluruhan.

Laporan terbaru Counterpoint Research mengenai pengiriman chipset smartphone global pada semester pertama 2026 menunjukkan perubahan menarik di peta persaingan industri. MediaTek masih berhasil mempertahankan posisinya sebagai produsen chipset smartphone terbesar di dunia, tetapi dominasinya mulai terkikis. Di sisi lain, Apple, Unisoc, dan Samsung justru berhasil memperbesar pangsa pasarnya di tengah penurunan pasar secara keseluruhan.

Bagaimana peta persaingan lima besar produsen chipset smartphone dunia saat ini? Dan apa yang menyebabkan beberapa perusahaan mengalami penurunan sementara yang lain justru tumbuh? Berikut ulasan lengkapnya.

MediaTek Tetap Memimpin Pasar Dunia

MediaTek kembali menempati posisi teratas sebagai produsen chipset smartphone terbesar di dunia pada semester I-2026 dengan pangsa pasar global sebesar 32 persen.

Pencapaian ini menunjukkan bahwa perusahaan asal Taiwan tersebut masih menjadi pemain paling dominan dalam industri chipset mobile. Selama bertahun-tahun, MediaTek berhasil membangun reputasi kuat terutama di segmen menengah dan entry-level, yang merupakan pasar smartphone terbesar secara volume.

Chipset MediaTek digunakan oleh berbagai merek populer seperti Vivo, Oppo, Realme, Redmi, Poco, Infinix, Tecno, hingga sejumlah produsen smartphone lokal di berbagai negara berkembang.

Namun meski masih menjadi pemimpin pasar, posisi MediaTek tidak sekuat beberapa tahun lalu. Pada semester pertama 2025, perusahaan ini menguasai sekitar 37 persen pasar global. Artinya, dalam satu tahun terakhir MediaTek kehilangan sekitar lima poin persentase pangsa pasar.

Penurunan tersebut bukan sekadar angka statistik biasa. Ini menunjukkan bahwa tekanan di pasar smartphone mulai berdampak langsung terhadap volume pengiriman chipset perusahaan.

Menurut Counterpoint Research, salah satu penyebab utama penurunan tersebut adalah krisis pasokan memori yang masih berlangsung. Ketersediaan memori yang terbatas membuat banyak produsen smartphone mengurangi produksi perangkat kelas bawah dan kelas menengah, segmen yang selama ini menjadi benteng utama MediaTek.

Meski demikian, MediaTek masih memiliki kabar baik dari lini premium. Chipset Dimensity 9500 yang menjadi andalan perusahaan berhasil mendapatkan respons positif di pasar. Sejumlah smartphone flagship dan premium dari Vivo, Oppo, Poco, serta Redmi menggunakan chipset tersebut sebagai jantung utama perangkat mereka.

Keberhasilan Dimensity 9500 menunjukkan bahwa MediaTek semakin mampu bersaing di segmen atas yang selama ini didominasi Qualcomm.

Qualcomm Tetap Kuat, tetapi Mulai Kehilangan Momentum

Di posisi kedua terdapat Qualcomm dengan pangsa pasar global sebesar 22 persen.

Sebagai perusahaan yang selama bertahun-tahun identik dengan chipset premium Snapdragon, Qualcomm tetap menjadi salah satu pemain paling berpengaruh dalam industri smartphone.

Namun seperti MediaTek, Qualcomm juga mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada semester I-2025, perusahaan asal Amerika Serikat ini masih menguasai sekitar 26 persen pasar global.

Artinya, Qualcomm kehilangan empat poin persentase dalam waktu satu tahun.

Penurunan tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh perubahan strategi Samsung pada lini Galaxy S26 Series.

Jika pada beberapa generasi sebelumnya Samsung lebih banyak menggunakan chipset Snapdragon untuk hampir seluruh pasar global, tahun ini sebagian model Galaxy S26 kembali menggunakan Exynos 2600 buatan Samsung sendiri.

Akibatnya, volume pesanan chipset Snapdragon dari Samsung berkurang cukup besar.

Selain itu, performa penjualan seri Xiaomi 17 yang tidak sekuat ekspektasi pasar juga turut memengaruhi pengiriman chipset Qualcomm.

Meski demikian, Qualcomm masih memiliki posisi yang sangat kuat di segmen premium. Chipset Snapdragon tetap menjadi pilihan utama bagi banyak produsen smartphone flagship Android karena menawarkan performa tinggi, efisiensi daya yang baik, serta dukungan AI yang semakin canggih.

Dalam beberapa tahun ke depan, Qualcomm diperkirakan akan tetap menjadi pesaing utama MediaTek di pasar chipset global.

Baca juga : Syarat Main Minecraft: Java Edition di PC Naik, Kini Butuh RAM 16 GB

Apple Menjadi Bintang Pertumbuhan Tahun Ini

Jika MediaTek dan Qualcomm mengalami penurunan, situasinya berbeda bagi Apple.

Perusahaan asal Cupertino tersebut berhasil meningkatkan pangsa pasarnya dari 15 persen pada semester I-2025 menjadi 19 persen pada semester I-2026.

Kenaikan empat poin persentase ini menjadi salah satu pertumbuhan terbesar di antara seluruh pemain besar industri chipset.

Berbeda dengan MediaTek, Qualcomm, atau Samsung yang menjual chipset kepada banyak merek smartphone, Apple hanya menggunakan chipset buatannya sendiri untuk produk iPhone.

Karena itu, kenaikan pangsa pasar Apple secara langsung mencerminkan keberhasilan penjualan iPhone.

Menurut laporan Counterpoint, pertumbuhan tersebut didorong oleh performa penjualan seri iPhone 17 yang sangat kuat di berbagai wilayah dunia.

Chipset Apple seri A19 dan A19 Pro yang digunakan pada keluarga iPhone 17 mendapat banyak pujian karena menawarkan peningkatan performa AI yang signifikan tanpa mengorbankan efisiensi daya.

Selain itu, integrasi antara perangkat keras dan perangkat lunak yang menjadi keunggulan Apple terus memberikan pengalaman pengguna yang sulit ditandingi pesaing.

Keberhasilan Apple menunjukkan bahwa pasar smartphone premium masih memiliki daya tarik yang kuat meskipun kondisi ekonomi global belum sepenuhnya pulih.

Unisoc Semakin Diperhitungkan

Salah satu nama yang paling menarik dalam daftar ini adalah Unisoc.

Meski belum sepopuler MediaTek atau Qualcomm, perusahaan asal China tersebut berhasil meningkatkan pangsa pasarnya dari 11 persen menjadi 13 persen.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa Unisoc mulai menjadi pemain yang semakin diperhitungkan di pasar global.

Selama beberapa tahun terakhir, Unisoc fokus mengembangkan chipset yang murah namun cukup kompetitif untuk smartphone entry-level dan kelas menengah bawah.

Strategi tersebut terbukti efektif.

Di tengah kenaikan biaya produksi smartphone, banyak produsen mencari solusi yang lebih ekonomis tanpa harus mengorbankan terlalu banyak fitur.

Chipset Unisoc menjadi salah satu jawaban atas kebutuhan tersebut.

Selain sukses di segmen 4G, Unisoc juga mulai memperluas kehadirannya di pasar 5G.

Kerja sama dengan merek-merek seperti Poco dan Redmi membantu meningkatkan volume pengiriman chipset perusahaan secara signifikan.

Meski masih tertinggal cukup jauh dari MediaTek dan Qualcomm, tren pertumbuhan Unisoc menunjukkan bahwa perusahaan ini berpotensi menjadi kekuatan yang lebih besar di masa depan.

Samsung Bangkit Lewat Exynos

Posisi kelima ditempati Samsung dengan pangsa pasar 8 persen.

Meskipun masih berada di bawah empat pemain lainnya, Samsung mencatat pertumbuhan yang cukup mengesankan dibanding tahun sebelumnya.

Pada semester I-2025, pangsa pasar Exynos hanya sekitar 5 persen. Kini angka tersebut meningkat menjadi 8 persen.

Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh keputusan Samsung untuk kembali menggunakan chipset Exynos pada beberapa model Galaxy S26 Series.

Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Samsung masih berkomitmen mengembangkan bisnis semikonduktornya sendiri.

Dalam beberapa tahun terakhir, Exynos sering mendapat kritik karena dianggap tertinggal dari Snapdragon dalam hal performa dan efisiensi daya.

Namun generasi terbaru Exynos 2600 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

Samsung juga memanfaatkan kemajuan teknologi fabrikasi chip yang dimiliki divisi semikonduktornya untuk meningkatkan daya saing Exynos.

Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Samsung akan terus meningkatkan pangsa pasar chipsetnya dalam beberapa tahun mendatang.

Pasar Chipset Smartphone Sedang Melambat

Di balik perubahan pangsa pasar antarperusahaan, terdapat fakta yang lebih besar: pasar chipset smartphone global sedang mengalami perlambatan.

Counterpoint mencatat bahwa pengiriman chipset smartphone dunia pada semester pertama 2026 turun sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan tersebut.

Pertama adalah kenaikan harga memori yang membuat biaya produksi smartphone meningkat.

Kedua, produsen smartphone kini lebih berhati-hati dalam mengelola inventaris atau stok perangkat.

Ketiga, konsumen semakin lama mengganti smartphone mereka.

Jika dahulu banyak orang mengganti ponsel setiap dua atau tiga tahun, kini banyak pengguna yang tetap memakai perangkat yang sama selama empat hingga lima tahun karena performanya masih dianggap memadai.

Kondisi ini membuat permintaan smartphone baru tidak tumbuh secepat beberapa tahun lalu.

Chip AI Justru Menjadi Titik Terang

Menariknya, di tengah pelemahan pasar secara umum, segmen chipset yang mendukung kecerdasan buatan generatif atau GenAI justru mengalami pertumbuhan pesat.

Counterpoint mencatat pengiriman chipset untuk smartphone AI meningkat sekitar 24 persen secara tahunan.

Tren ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi fitur yang semakin dicari konsumen.

Saat ini, berbagai produsen smartphone berlomba menghadirkan fitur AI seperti penerjemahan real-time, ringkasan dokumen otomatis, pengeditan foto berbasis AI, pencarian cerdas, hingga asisten virtual yang lebih pintar.

Untuk menjalankan fitur-fitur tersebut secara optimal, dibutuhkan chipset dengan kemampuan pemrosesan AI yang tinggi.

Karena itulah perusahaan seperti MediaTek, Qualcomm, Apple, Samsung, dan Unisoc mulai mengintegrasikan Neural Processing Unit (NPU) yang semakin canggih ke dalam produk mereka.

Masa Depan Industri Chipset Smartphone

Meski pasar saat ini sedang menghadapi tekanan, persaingan di industri chipset smartphone diperkirakan akan semakin menarik dalam beberapa tahun ke depan.

MediaTek masih memimpin, tetapi dominasinya mulai mendapat tantangan dari berbagai arah. Qualcomm berusaha mempertahankan kekuatannya di segmen premium. Apple terus memperbesar pengaruhnya melalui kesuksesan iPhone. Unisoc berkembang pesat di pasar hemat biaya. Sementara Samsung mulai menunjukkan kebangkitan Exynos.

Di sisi lain, revolusi AI diprediksi akan menjadi faktor penentu persaingan berikutnya. Produsen chipset yang mampu menghadirkan kemampuan AI terbaik dengan efisiensi daya tinggi kemungkinan akan memperoleh keuntungan besar.

Dengan kondisi pasar yang terus berubah, satu hal menjadi jelas: industri chipset smartphone tidak lagi hanya soal kecepatan prosesor atau kemampuan grafis. Kini, persaingan juga ditentukan oleh kecerdasan buatan, efisiensi energi, integrasi ekosistem, dan kemampuan menghadapi tantangan rantai pasok global.

Semester pertama 2026 mungkin menunjukkan penurunan volume pengiriman secara keseluruhan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana industri semikonduktor terus berevolusi menuju era smartphone yang semakin cerdas dan terhubung.