Ask Maps Masuk Indonesia, Bisa Cari Hidden Gems hingga Bantu Hindari Macet
Google Maps selama ini dikenal sebagai aplikasi navigasi yang membantu pengguna mencari lokasi, menentukan rute, melihat kondisi lalu lintas, hingga menemukan berbagai tempat di sekitar. Namun, cara berinteraksi dengan peta kini mulai berubah. Pengguna tidak lagi harus selalu mengetik kata kunci tertentu atau membuka banyak menu untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Google menghadirkan Ask Maps di Indonesia, sebuah fitur percakapan berbasis Gemini AI yang dirancang untuk membuat Google Maps terasa lebih seperti teman perjalanan digital. Fitur ini memungkinkan pengguna mengajukan pertanyaan menggunakan bahasa sehari-hari, kemudian mendapatkan rekomendasi tempat, informasi perjalanan, hingga bantuan menyusun rute berdasarkan kebutuhan.
Kehadiran Ask Maps juga menarik karena Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapatkan fitur ini dalam momentum menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan mengusung semangat “Jelajah Nusantara, Lebih Dekat”, Google ingin membantu pengguna mengeksplorasi berbagai sudut Indonesia, termasuk tempat-tempat yang mungkin tidak langsung muncul ketika seseorang melakukan pencarian biasa.
Lantas, apa saja yang bisa dilakukan Ask Maps dan bagaimana fitur ini dapat membantu aktivitas sehari-hari? Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Ask Maps memungkinkan pengguna mencari tempat dengan bahasa sehari-hari
Salah satu perubahan paling menarik dari Ask Maps adalah cara pengguna melakukan pencarian. Jika biasanya kita harus mengetik kata kunci seperti “kafe dekat sini” atau “tempat wisata di Jakarta”, fitur berbasis AI ini memungkinkan pertanyaan yang lebih natural dan spesifik.
Misalnya, pengguna dapat meminta rekomendasi kafe yang tenang untuk mengobrol, tempat makan legendaris di suatu daerah, atau lokasi menarik yang cocok dikunjungi selama beberapa jam.
Pengguna juga dapat memberikan konteks yang lebih panjang. Misalnya, seseorang ingin mencari tempat untuk menghabiskan waktu sebelum jadwal penerbangan. Alih-alih mencari hotel, restoran, tempat wisata, dan rute secara terpisah, kebutuhan tersebut dapat disampaikan dalam bentuk percakapan.
Kemampuan memahami konteks seperti ini membuat proses pencarian terasa lebih fleksibel. Pengguna tidak harus mengetahui kata kunci yang tepat terlebih dahulu.
2. Bisa membantu menemukan hidden gems di berbagai daerah
Indonesia memiliki begitu banyak tempat menarik yang tidak selalu menjadi destinasi wisata utama. Ada warung makan yang sudah berdiri selama puluhan tahun, kedai kecil yang populer di kalangan warga lokal, gang dengan suasana unik, hingga bangunan bersejarah yang mungkin terlewatkan wisatawan.
Ask Maps dirancang untuk membantu pengguna menemukan tempat-tempat semacam itu.
Pengguna bisa memanfaatkannya untuk mencari hidden gems, UMKM legendaris, tempat nongkrong dengan suasana tertentu, hingga cagar budaya. Rekomendasi tersebut dapat menjadi alternatif ketika pengguna merasa bosan mengunjungi destinasi yang itu-itu saja.
Misalnya, ketika sedang berada di sebuah kota, pengguna tidak hanya perlu bertanya “apa tempat wisata di sini?”, tetapi bisa mempersempit permintaan menjadi “carikan tempat makan lokal yang sudah lama berdiri dan populer di kalangan warga sekitar”.
Dengan pendekatan seperti ini, eksplorasi sebuah daerah bisa terasa lebih personal.
Baca juga : Cara Servis Redmi A5 Mati Setelah Dibanting: Cek LCD, Konektor, hingga Penggantian Layar
3. Membantu menyusun rute perjalanan
Ask Maps bukan hanya soal mencari tempat. Fitur ini juga dirancang untuk membantu pengguna menyusun perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Contohnya, pengguna ingin melakukan touring motor selama tiga jam. Pengguna bisa meminta rekomendasi rute dengan pemandangan menarik dan tempat yang bisa disinggahi sepanjang perjalanan.
AI kemudian dapat membantu menggabungkan beberapa kebutuhan tersebut menjadi sebuah rencana perjalanan.
Hal ini tentu berbeda dengan sekadar mencari rute tercepat. Dalam perjalanan wisata, rute tercepat belum tentu menjadi rute terbaik. Pengguna mungkin justru ingin melewati jalan yang memiliki pemandangan bagus, berhenti di tempat makan tertentu, atau mengunjungi lokasi menarik sebelum kembali ke titik awal.
Ask Maps berusaha menjadikan Google Maps bukan hanya alat navigasi, tetapi juga alat untuk merencanakan pengalaman perjalanan.
4. Informasi transportasi umum diperbarui secara real-time
Bagi pengguna transportasi umum, informasi mengenai jadwal dan keterlambatan merupakan hal yang sangat penting. Jadwal yang terlihat bagus di atas kertas bisa menjadi kurang berguna ketika kereta terlambat atau terjadi gangguan perjalanan.
Ask Maps menghadirkan live transit board yang menggabungkan informasi transportasi umum dalam satu pengalaman pencarian.
Sebagai contoh, pengguna dapat bertanya bagaimana cara menuju Kota Tua Jakarta dari Bandara Soekarno-Hatta sekaligus menanyakan kapan jadwal kereta berikutnya.
Alih-alih harus membuka beberapa informasi secara terpisah, Ask Maps dapat membantu menampilkan pilihan perjalanan beserta informasi keterlambatan yang tersedia secara real-time.
Fitur seperti ini bisa sangat membantu ketika pengguna sedang berada di kota yang belum familiar. Pengguna tidak perlu terlalu banyak menebak-nebak harus menggunakan moda transportasi apa atau kapan sebaiknya berangkat.
5. Pengguna kendaraan pribadi juga dibantu menghadapi gangguan lalu lintas
Tidak semua orang menggunakan transportasi umum. Karena itu, Ask Maps juga memberikan perhatian kepada pengguna kendaraan pribadi.
Ketika menyusun rute, pengguna dapat memperoleh informasi mengenai gangguan jalan atau insiden lalu lintas yang terjadi di sepanjang perjalanan.
Informasi seperti ini penting karena kondisi jalan bisa berubah dalam waktu singkat. Jalan yang biasanya lancar pada pagi hari belum tentu memiliki kondisi yang sama ketika terjadi kecelakaan, penutupan jalan, atau kepadatan lalu lintas.
Dengan adanya informasi terkini, pengguna dapat mempertimbangkan alternatif perjalanan sebelum berangkat.
Namun, seperti halnya informasi navigasi lainnya, kondisi lalu lintas tetap dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, informasi dari aplikasi sebaiknya dipandang sebagai panduan, bukan jaminan bahwa perjalanan akan selalu bebas hambatan.
6. Bisa terhubung dengan Gmail untuk rekomendasi yang lebih personal
Salah satu fitur yang membuat Ask Maps terasa lebih personal adalah dukungan Personal Intelligence.
Jika pengguna memilih menghubungkan akun Gmail, Ask Maps dapat memanfaatkan informasi perjalanan yang relevan, seperti reservasi hotel atau tiket penerbangan. Dukungan integrasi dengan Google Calendar juga disebut akan hadir kemudian.
Bayangkan pengguna memiliki reservasi hotel dan tiket pesawat untuk keesokan harinya. Pengguna dapat bertanya mengenai aktivitas yang bisa dilakukan di sekitar hotel sebelum berangkat ke bandara.
Dengan konteks tersebut, rekomendasi tidak lagi hanya berdasarkan lokasi saat ini. Sistem dapat mempertimbangkan rencana perjalanan yang sudah diketahui.
Misalnya, pengguna bisa meminta rekomendasi tempat menarik di sekitar hotel, kemudian menanyakan kapan sebaiknya meninggalkan lokasi tersebut agar tetap tiba di bandara tepat waktu.
Konsep ini membuat Ask Maps lebih mirip asisten perjalanan dibandingkan mesin pencari lokasi biasa.
7. Ask Maps dapat mengingat percakapan
Pengalaman menggunakan layanan berbasis AI biasanya menjadi lebih nyaman ketika pengguna tidak harus mengulang informasi yang sama berkali-kali.
Ask Maps menyediakan kemampuan mengingat percakapan sebelumnya apabila pengguna mengaktifkan pengaturan riwayat yang diperlukan.
Sebagai contoh, pengguna sebelumnya berdiskusi mengenai itinerary liburan dan mendapatkan rekomendasi mengunjungi sebuah tempat. Pada percakapan berikutnya, pengguna dapat melanjutkan dengan pertanyaan seperti, “Setelah tempat itu, sebaiknya saya pergi ke mana?”
Dengan demikian, percakapan dapat berkembang secara bertahap.
Meski demikian, kemampuan mengingat ini berkaitan dengan pengaturan riwayat. Artinya, pengguna tetap perlu memperhatikan pengaturan yang tersedia dan memahami informasi apa saja yang ingin disimpan.
8. Mendukung Bahasa Indonesia dan Inggris
Kehadiran Ask Maps di Indonesia juga menjadi lebih relevan karena fitur ini mendukung Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Dukungan bahasa lokal sangat penting untuk layanan berbasis percakapan. Pengguna tidak seharusnya dipaksa menggunakan bahasa tertentu hanya untuk mendapatkan rekomendasi.
Google juga menyebut dukungan terhadap berbagai bahasa lokal lainnya akan diluncurkan secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan.
Jika implementasinya berjalan dengan baik, dukungan tersebut dapat membuat pengalaman menggunakan Maps semakin mudah bagi masyarakat dengan latar belakang bahasa yang beragam.
9. Privasi tetap berada di tangan pengguna
Kemampuan AI yang semakin personal tentu menimbulkan pertanyaan mengenai privasi. Semakin banyak informasi yang diberikan kepada sistem, semakin besar pula konteks yang dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi.
Google menyebut koneksi ke aplikasi seperti Gmail dinonaktifkan secara default. Dengan demikian, pengguna harus memberikan izin terlebih dahulu apabila ingin menghubungkan layanan tersebut.
Pendekatan ini memberi pengguna pilihan. Mereka yang membutuhkan rekomendasi perjalanan lebih personal dapat mengaktifkan koneksi yang diperlukan, sementara pengguna yang tidak ingin menghubungkan data pribadi dapat tetap menggunakan fitur tanpa integrasi tersebut.
Karena itu, sebelum mengaktifkan berbagai koneksi, pengguna sebaiknya membaca pengaturan privasi dan memahami data apa yang dapat digunakan oleh layanan.
10. Ask Maps berpotensi mengubah cara orang menggunakan Google Maps
Selama bertahun-tahun, Google Maps identik dengan pencarian lokasi dan navigasi. Kita mencari tempat, memilih tujuan, lalu mengikuti petunjuk arah.
Ask Maps membawa pendekatan yang berbeda. Interaksi dengan peta dapat dilakukan melalui percakapan, sehingga pengguna bisa menyampaikan kebutuhan dalam bentuk pertanyaan yang lebih kompleks.
Mulai dari mencari tempat makan lokal, menyusun itinerary, mencari rute touring, memeriksa transportasi umum, sampai mempertimbangkan kondisi lalu lintas, semuanya dapat dilakukan dalam satu alur percakapan.
Kekuatan utamanya bukan sekadar kemampuan AI menjawab pertanyaan, tetapi bagaimana AI tersebut dipadukan dengan informasi lokasi dan data perjalanan yang tersedia di Google Maps.
Jadi, apakah Ask Maps menarik untuk dicoba?
Menurut saya, kehadiran Ask Maps di Indonesia cukup menarik karena fitur ini mencoba menyelesaikan masalah yang sering muncul ketika bepergian: bukan hanya “mau ke mana?”, tetapi “saya ingin melakukan apa dan bagaimana cara terbaik mencapainya?”
Kemampuan menemukan hidden gems, mencari UMKM lokal, menyusun rute, membaca informasi transportasi real-time, hingga memberikan rekomendasi berdasarkan konteks perjalanan membuat Google Maps berpotensi menjadi lebih dari sekadar aplikasi navigasi.
Namun, pengguna tetap perlu menggunakan informasi dengan bijak. Kondisi lalu lintas dapat berubah, informasi tempat bisa mengalami pembaruan, dan rekomendasi AI tidak selalu berarti pilihan tersebut pasti paling sesuai dengan kondisi nyata.
Yang tidak kalah penting, pengguna perlu memperhatikan pengaturan privasi ketika mengaktifkan fitur personal seperti koneksi Gmail dan riwayat percakapan.
Pada akhirnya, Ask Maps membawa konsep Google Maps ke arah yang lebih conversational dan personal. Jika sebelumnya kita harus tahu apa yang ingin dicari sebelum membuka Maps, kini kita bisa menjelaskan kebutuhan terlebih dahulu dan membiarkan AI membantu mencari kemungkinan yang tersedia.
Bagi pengguna yang gemar menjelajah tempat baru, mencari kuliner lokal, merencanakan perjalanan akhir pekan, atau sekadar ingin menghindari kerepotan saat bepergian, Ask Maps bisa menjadi salah satu fitur Google Maps yang cukup menarik untuk dicoba.