5 Alasan Under Display Camera Jarang Dipakai oleh Smartphone

5 Alasan Under Display Camera Jarang Dipakai oleh Smartphone

Under Display Camera (UDC) merupakan salah satu inovasi paling menarik di industri smartphone dalam beberapa tahun terakhir. Sesuai namanya, teknologi ini menempatkan kamera depan di bawah panel layar sehingga kamera tidak lagi terlihat dari permukaan. Dengan begitu, pengguna dapat menikmati tampilan layar yang benar-benar penuh (full screen) tanpa gangguan notch maupun punch hole.

Di atas kertas, konsep tersebut terdengar seperti masa depan smartphone. Layar terlihat lebih bersih, pengalaman menonton video menjadi lebih imersif, dan desain perangkat tampak jauh lebih premium. Tidak heran jika saat pertama kali diperkenalkan, banyak orang memprediksi bahwa UDC akan segera menjadi standar baru pada smartphone flagship.

Namun, kenyataannya berbeda. Setelah bertahun-tahun dikembangkan, hanya segelintir produsen yang benar-benar mengadopsi teknologi ini. Sebagian besar smartphone premium maupun kelas menengah masih mengandalkan kamera depan punch hole atau bahkan notch. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan: mengapa Under Display Camera masih sangat jarang digunakan?

Berikut lima alasan utama yang membuat teknologi UDC belum mampu menggantikan kamera depan konvensional.

1. Kualitas foto masih kalah jauh dibanding kamera selfie biasa

Kelemahan terbesar Under Display Camera adalah kualitas hasil fotonya yang belum mampu menandingi kamera selfie konvensional. Hal ini terjadi karena kamera harus menangkap cahaya yang melewati lapisan layar terlebih dahulu sebelum mencapai sensor. Akibatnya, jumlah cahaya yang masuk menjadi jauh lebih sedikit dibanding kamera yang langsung menghadap ke luar.

Dalam kondisi pencahayaan terang sekalipun, hasil foto dari UDC umumnya masih terlihat kurang tajam. Warna yang dihasilkan sering kali tidak seakurat kamera selfie biasa, sementara detail wajah terlihat lebih lembut sehingga memberikan kesan seperti terkena efek kabut atau foggy. Ketika gambar diperbesar, tekstur kulit maupun detail rambut juga tampak kurang jelas.

Masalah tersebut menjadi jauh lebih terasa saat digunakan di kondisi minim cahaya. Kamera UDC kesulitan menangkap cahaya sehingga foto terlihat gelap, penuh noise, dan kehilangan banyak detail. Pada beberapa perangkat, wajah pengguna bahkan sulit dikenali jika pencahayaan terlalu redup.

Kualitas video juga mengalami kendala serupa. Saat melakukan panggilan video atau merekam vlog menggunakan kamera depan, hasil rekaman sering terlihat kurang bersih dibanding smartphone yang memakai kamera punch hole.

Beberapa produsen memang mencoba mengatasi kelemahan ini melalui pemrosesan gambar berbasis kecerdasan buatan (AI). Namun, AI hanya mampu membantu sampai batas tertentu. Jika data yang diterima sensor sudah kurang optimal sejak awal, hasil akhirnya tetap tidak akan bisa menyamai kamera selfie konvensional.

2. Teknologi UDC masih belum benar-benar matang

Alasan berikutnya adalah teknologi Under Display Camera sendiri masih terus berkembang dan belum mencapai tahap yang benar-benar matang.

Agar kamera dapat melihat melalui layar, produsen harus menggunakan panel khusus yang memiliki tingkat transparansi lebih tinggi pada area kamera. Selain itu, susunan piksel di bagian tersebut juga dibuat berbeda agar cahaya bisa masuk menuju sensor.

Sayangnya, solusi tersebut masih memiliki banyak kompromi.

Panel layar yang lebih transparan sering kali belum mampu mengalirkan cahaya dalam jumlah ideal. Sebagian cahaya tetap terhalang oleh lapisan layar sehingga sensor kamera tidak bekerja secara maksimal. Akibatnya, kualitas foto masih berada di bawah ekspektasi.

Selain itu, area tempat kamera berada terkadang masih terlihat berbeda ketika layar menampilkan warna tertentu, terutama warna putih atau abu-abu. Pengguna yang jeli biasanya masih bisa melihat lokasi kamera karena kerapatan piksel pada area tersebut tidak sama dengan bagian layar lainnya.

Teknologi pemrosesan gambar juga harus bekerja lebih keras untuk menghilangkan efek buram yang muncul akibat cahaya melewati banyak lapisan. Proses ini membutuhkan algoritma yang kompleks dan belum selalu memberikan hasil yang konsisten.

Belum lagi adanya aksesori tambahan seperti tempered glass atau screen protector. Banyak pelindung layar yang tidak dirancang khusus untuk UDC sehingga dapat mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke kamera. Dampaknya, kualitas foto menjadi semakin menurun.

Karena berbagai keterbatasan tersebut, banyak produsen memilih menunggu hingga teknologi UDC benar-benar matang sebelum menggunakannya secara luas.

Baca juga : Berapa Kapasitas RAM yang Ideal di HP Redmi untuk Mahasiswa? Pilih RAM 8GB atau Langsung 12GB?

3. Kamera punch hole sudah dianggap sebagai solusi terbaik

Meski tidak menghasilkan tampilan layar yang sepenuhnya bersih, kamera punch hole ternyata sudah mampu memberikan keseimbangan yang sangat baik antara desain dan kualitas.

Lubang kamera pada smartphone modern kini semakin kecil. Saat digunakan untuk menonton video, bermain game, atau menjelajah media sosial, keberadaan punch hole hampir tidak terasa. Banyak pengguna bahkan terbiasa mengabaikan lubang kecil tersebut setelah beberapa hari pemakaian.

Sebagai gantinya, kamera depan memperoleh akses langsung terhadap cahaya tanpa terhalang panel layar. Hasil foto menjadi jauh lebih tajam, warna lebih akurat, serta performa di kondisi minim cahaya juga lebih baik.

Bagi produsen smartphone, punch hole juga lebih mudah diproduksi karena teknologinya sudah matang. Biaya produksi lebih rendah, proses manufaktur lebih sederhana, dan tingkat kegagalan produksi juga lebih kecil dibanding UDC.

Dari sudut pandang konsumen, keuntungan menggunakan UDC memang hanya sebatas tampilan layar yang lebih bersih. Sebaliknya, pengguna harus menerima kompromi berupa kualitas selfie yang menurun.

Karena itulah sebagian besar produsen masih menganggap punch hole sebagai pilihan paling rasional. Solusi ini menawarkan pengalaman visual yang tetap modern tanpa harus mengorbankan performa kamera depan.

4. UDC masih menyulitkan berbagai fitur penting

Fungsi kamera depan pada smartphone modern bukan hanya untuk mengambil selfie. Kamera tersebut juga berperan dalam berbagai fitur keamanan dan komunikasi yang digunakan setiap hari.

Salah satunya adalah sistem pengenalan wajah atau face recognition. Teknologi biometrik membutuhkan gambar wajah yang sangat jelas agar proses identifikasi berlangsung cepat dan akurat.

Karena kamera UDC menerima cahaya lebih sedikit, proses pengenalan wajah menjadi lebih sulit dilakukan secara konsisten. Dalam kondisi tertentu, sistem membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali pengguna atau bahkan gagal melakukan autentikasi.

Hal ini menjadi tantangan besar bagi produsen yang ingin menghadirkan sistem keamanan setara dengan teknologi pengenalan wajah tiga dimensi.

Beberapa perusahaan diketahui terus mengembangkan berbagai solusi baru. Ada yang bereksperimen dengan kamera ganda di bawah layar, sementara lainnya mencoba menggunakan sensor baru yang memiliki sensitivitas cahaya lebih tinggi. Bahkan muncul konsep seperti Polar UDC yang diklaim mampu meningkatkan kualitas gambar sekaligus mendukung sistem biometrik yang lebih akurat.

Namun hingga saat ini, belum ada implementasi yang benar-benar mampu menyamai performa kamera depan biasa untuk kebutuhan keamanan maupun panggilan video berkualitas tinggi.

Selama kendala tersebut belum terselesaikan, produsen tentu akan berhati-hati dalam mengadopsi UDC pada lebih banyak perangkat.

5. Lebih cocok digunakan pada smartphone gaming dan lipat

Meskipun belum populer, bukan berarti Under Display Camera gagal sepenuhnya. Teknologi ini tetap memiliki pasar yang cukup jelas, terutama pada smartphone gaming dan smartphone lipat.

Pada smartphone gaming, layar penuh tanpa gangguan punch hole menjadi nilai tambah yang cukup penting. Saat bermain game, tidak adanya lubang kamera membuat tampilan lebih luas dan meningkatkan pengalaman visual. Selain itu, sebagian besar gamer juga tidak terlalu sering menggunakan kamera depan sehingga kompromi terhadap kualitas selfie dianggap masih bisa diterima.

Karena alasan tersebut, sejumlah seri REDMAGIC tetap mempertahankan teknologi UDC sebagai salah satu ciri khas produknya.

Sementara itu, smartphone lipat juga memanfaatkan UDC agar layar bagian dalam terlihat lebih bersih ketika digunakan sebagai tablet mini. Pengguna dapat menikmati aktivitas multitasking, membaca dokumen, atau menonton film tanpa terganggu oleh lubang kamera yang mencolok.

Meski demikian, sebagian besar produsen masih menempatkan kamera selfie berkualitas tinggi pada layar luar perangkat lipat. Artinya, UDC hanya digunakan ketika pengguna membutuhkan tampilan layar yang lebih luas, bukan sebagai kamera utama untuk selfie.

Ke depan, teknologi ini diperkirakan akan terus berkembang. Sejumlah perusahaan disebut masih melakukan riset untuk meningkatkan transparansi panel layar, memperbesar jumlah cahaya yang diterima sensor, serta menyempurnakan algoritma pemrosesan gambar. Jika semua hambatan tersebut berhasil diatasi, bukan tidak mungkin UDC akan menjadi standar baru di masa depan.

Kesimpulan

Under Display Camera merupakan salah satu inovasi paling revolusioner dalam desain smartphone karena mampu menghadirkan layar penuh tanpa notch maupun punch hole. Dari sisi estetika, teknologi ini memang menawarkan pengalaman visual yang lebih bersih dan modern.

Namun hingga saat ini, kualitas kamera yang belum mampu menyaingi kamera selfie konvensional menjadi hambatan terbesar. Ditambah lagi dengan teknologi yang masih berkembang, dukungan terhadap fitur keamanan yang belum optimal, serta dominasi kamera punch hole yang sudah terbukti andal, membuat banyak produsen memilih menunggu sebelum mengadopsi UDC secara luas.

Untuk saat ini, Under Display Camera lebih cocok diterapkan pada smartphone gaming dan perangkat lipat yang mengutamakan tampilan layar penuh dibanding kualitas kamera depan. Meski begitu, perkembangan teknologi smartphone berlangsung sangat cepat. Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan UDC akan hadir dengan kualitas yang jauh lebih baik dan akhirnya menjadi standar baru di industri smartphone. Saat hal itu terjadi, impian memiliki layar yang benar-benar penuh tanpa mengorbankan kualitas kamera depan mungkin akhirnya bisa terwujud.