5 HP yang Punya LED di Bagian Belakang, Salah Satunya Google Pixel
Desain smartphone belakangan ini memang cenderung memiliki pola yang mirip. Bagian depan didominasi layar dengan bezel tipis, sementara bagian belakang biasanya hanya dihiasi modul kamera, logo merek, dan beberapa elemen pendukung lainnya. Namun, sejumlah produsen mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan menambahkan lampu LED pada bagian belakang bodi.
Kehadiran LED di bagian belakang bukan sekadar untuk mempercantik tampilan. Pada beberapa smartphone, lampu tersebut dapat digunakan sebagai indikator notifikasi, panggilan masuk, pengisian daya, kondisi baterai, hingga memberikan efek visual ketika pengguna bermain game atau mendengarkan musik.
Menariknya, setiap produsen memiliki pendekatan berbeda. Ada yang menggunakan LED berbentuk garis, lingkaran, hingga pola khusus yang menjadi identitas perangkat. Bahkan, Google ikut memasukkan fitur serupa melalui seri Pixel 11 dengan nama HiLight.
Lantas, HP apa saja yang menawarkan fitur LED di bagian belakang? Berikut lima di antaranya.
1. Google Pixel 11 Series dengan HiLight
Google Pixel 11 series menjadi salah satu smartphone terbaru yang membawa elemen pencahayaan pada bagian belakang. Google menyebut fitur tersebut sebagai HiLight.
Berbeda dengan sistem LED pada beberapa smartphone gaming yang memiliki banyak garis cahaya, HiLight tampil cukup minimalis. Lampunya berbentuk lingkaran kecil yang ditempatkan di bagian kanan visor atau bingkai kamera belakang.
Posisinya membuat HiLight terlihat menyatu dengan desain modul kamera. Pendekatan tersebut cukup menarik karena Google tidak membuat bagian belakang smartphone terlihat terlalu ramai.
Fungsi HiLight juga berkaitan dengan aktivitas tertentu pada perangkat. Berdasarkan informasi yang diberikan Google, lampu tersebut dapat menyala ketika pengguna menggunakan Gemini atau ketika ada panggilan masuk.
Google juga memberikan opsi personalisasi. Pengguna dapat mengatur warna HiLight untuk menandai kontak tertentu. Dengan begitu, warna lampu bisa membantu pengguna mengenali siapa yang sedang menelepon tanpa harus langsung melihat layar.
Misalnya, pengguna dapat menetapkan warna tertentu untuk anggota keluarga atau kontak penting. Ketika panggilan masuk dari kontak tersebut, HiLight dapat menjadi indikator visual tambahan.
Namun, dibandingkan beberapa pesaingnya, fungsi HiLight masih tergolong terbatas. LED tersebut belum digunakan untuk sebanyak mungkin aktivitas seperti indikator pengisian daya, equalizer musik, atau efek gaming.
Meski demikian, kehadirannya menunjukkan bahwa Google mulai mengeksplorasi elemen visual baru pada desain Pixel.
2. Nothing Phone dengan Glyph Interface
Kalau membicarakan HP dengan LED belakang, Nothing Phone mungkin menjadi salah satu perangkat yang paling mudah diingat. Pasalnya, pencahayaan di bagian belakang bukan sekadar fitur tambahan, tetapi sudah menjadi identitas utama desain smartphone Nothing.
Sistem tersebut dikenal sebagai Glyph Interface. Lampu LED ditempatkan di bagian belakang bodi transparan dengan pola tertentu yang mengikuti desain perangkat.
Pada beberapa generasi Nothing Phone, Glyph terdiri dari beberapa strip LED dengan bentuk berbeda. Jumlah dan susunannya juga dapat berubah sesuai model yang digunakan.
Fungsinya cukup beragam. Glyph dapat digunakan untuk memberi tanda ketika ada pesan masuk maupun panggilan telepon. Lampu juga bisa berfungsi sebagai indikator pengisian daya sehingga pengguna dapat mengetahui status charging secara visual.
Tidak berhenti di situ, Glyph juga dapat memberikan efek mengikuti musik melalui fungsi seperti equalizer. Bahkan, pencahayaan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai fill light ketika pengguna mengambil foto.
Inilah yang membuat pendekatan Nothing cukup berbeda. Lampu belakang tidak hanya dibuat agar smartphone terlihat unik, tetapi benar-benar diintegrasikan ke dalam pengalaman penggunaan sehari-hari.
Meski demikian, Nothing mulai mengeksplorasi konsep baru pada generasi terbarunya. Glyph Interface mulai digantikan oleh layar kecil interaktif yang dikenal sebagai Glyph Matrix.
Perubahan ini menunjukkan bahwa Nothing masih berusaha mencari cara baru untuk membuat bagian belakang smartphone lebih interaktif.
Baca juga : 7 Perbedaan Utama Teknologi Layar QNED, OLED, dan QLED
3. TECNO Pova Series dengan LED RGB
Buat pengguna yang menyukai smartphone dengan desain agresif dan pencahayaan RGB, seri TECNO Pova juga menarik untuk dilirik.
Beberapa model Pova, termasuk Pova 5, Pova 6, dan Pova 7 series, membawa LED RGB pada bagian belakang. TECNO menggunakan desain yang berbeda-beda pada setiap generasi.
Pada Pova 5 dan Pova 6, misalnya, LED belakang tampil dalam bentuk garis. Sementara pada Pova 7 series, pencahayaan dibuat mengelilingi area kamera dan disebut sebagai Status Light.
Fungsinya tidak hanya sebagai hiasan. LED tersebut dapat digunakan sebagai indikator pengisian daya, notifikasi, kondisi baterai, hingga memberikan efek pencahayaan ketika pengguna memainkan game atau mendengarkan musik.
Konsep seperti ini terasa cocok dengan karakter Pova yang memang menyasar pengguna yang menginginkan perangkat dengan tampilan gaming.
Penggunaan LED RGB juga membuat smartphone terlihat lebih menarik ketika berada di tempat dengan pencahayaan rendah. Efek lampu yang menyala ketika mendapatkan notifikasi atau memainkan musik dapat memberikan kesan lebih futuristis.
Keunggulan lainnya adalah fleksibilitas fungsi. Pengguna tidak hanya mendapatkan satu jenis indikator, tetapi dapat memanfaatkan LED untuk beberapa aktivitas berbeda.
Dengan demikian, LED belakang pada seri Pova bukan sekadar ornamen desain, tetapi menjadi bagian dari pengalaman penggunaan smartphone.
4. Infinix GT Series dengan Mecha Mini LED
Selain TECNO Pova, Infinix GT series juga terkenal dengan pendekatan desain yang berorientasi gaming. Salah satu elemen yang memperkuat karakter tersebut adalah pencahayaan LED pada bagian belakang.
Nama dan desain LED-nya berubah dari satu generasi ke generasi lainnya. Pada Infinix GT 10 Pro, misalnya, sistem tersebut disebut Mini LED.
Kemudian pada GT 20 Pro, Infinix menggunakan nama Mecha Loop LED Interface dengan desain pencahayaan berbentuk melengkung. Sementara pada GT 30 Pro, pencahayaannya tampil seperti strip tebal dan disebut Mechanical Light Waves.
Walaupun namanya berbeda, konsep dasarnya tetap sama, yaitu memberikan respons visual berdasarkan aktivitas tertentu.
LED tersebut dapat menyala ketika ada notifikasi, menunjukkan kondisi baterai atau pengisian daya, serta memberikan efek visual ketika smartphone digunakan untuk memainkan musik.
Fitur seperti equalizer juga membuat pencahayaan belakang terasa lebih hidup. Lampu dapat mengikuti aktivitas audio sehingga bagian belakang smartphone seolah-olah ikut bereaksi terhadap musik yang sedang dimainkan.
Infinix juga menawarkan berbagai warna pencahayaan. Warna seperti putih, biru, kuning, hingga merah dapat digunakan sesuai fungsi maupun preferensi pengguna.
Bagi pengguna yang menyukai desain gaming, pendekatan ini tentu menarik. Smartphone tidak hanya mengandalkan performa hardware dan layar, tetapi juga memberikan identitas visual yang lebih kuat.
5. iQOO dengan Monster Halo Light
Pilihan terakhir datang dari iQOO, terutama seri angka seperti iQOO 13 dan iQOO 15. Smartphone tersebut menggunakan sistem pencahayaan RGB yang dikenal sebagai Monster Halo Light.
Pada beberapa konteks, sistem tersebut juga disebut sebagai Floating Light. Posisinya mengelilingi area kamera belakang sehingga menciptakan efek seperti lingkaran cahaya di sekitar modul kamera.
Salah satu hal menarik dari Monster Halo Light adalah integrasinya dengan aktivitas gaming.
Ketika pengguna melakukan aksi tertentu dalam game, termasuk mengeluarkan jurus pamungkas, lampu dapat memberikan efek visual sebagai respons. Ini membuat pengalaman bermain game terasa lebih imersif.
Selain gaming, lampu juga dapat digunakan untuk memberikan informasi mengenai panggilan masuk, pesan, serta status pengisian daya.
iQOO turut memberikan kebebasan kepada pengguna untuk melakukan kustomisasi warna. Dengan demikian, lampu belakang tidak harus memiliki warna yang sama untuk setiap kondisi.
Konsep ini memperlihatkan bagaimana produsen smartphone mulai memanfaatkan pencahayaan sebagai bagian dari antarmuka pengguna. Informasi yang biasanya hanya muncul di layar dapat disampaikan melalui perubahan cahaya pada bodi perangkat.
Mana yang Paling Menarik?
Kalau dibandingkan, kelima smartphone tersebut memiliki pendekatan yang cukup berbeda.
Google Pixel 11 memilih pendekatan minimalis melalui HiLight. Fungsinya memang belum sebanyak pesaing, tetapi tampilannya lebih sederhana dan cocok bagi pengguna yang tidak ingin desain belakang terlalu ramai.
Nothing Phone bisa menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang menganggap desain sebagai bagian penting dari identitas smartphone. Glyph Interface memiliki banyak fungsi dan menjadi salah satu ciri khas Nothing.
Sementara itu, TECNO Pova dan Infinix GT lebih cocok untuk pengguna yang menyukai estetika gaming. LED RGB pada kedua lini tersebut dapat memberikan berbagai efek visual untuk notifikasi, musik, pengisian daya, maupun aktivitas gaming.
Sedangkan iQOO menggabungkan desain lampu belakang dengan pengalaman bermain game. Monster Halo Light terasa seperti bagian dari sistem feedback visual ketika pengguna sedang bermain.
Pada akhirnya, keberadaan LED di belakang HP memang bukan fitur wajib. Smartphone tetap bisa digunakan dengan normal tanpa pencahayaan tersebut. Namun, fitur ini memberikan cara baru bagi produsen untuk membedakan perangkat mereka di tengah desain smartphone yang semakin seragam.
Menariknya lagi, fungsi LED kini sudah berkembang jauh dari sekadar lampu dekorasi. Lampu dapat menjadi indikator notifikasi, status baterai, charging, aktivitas musik, bahkan respons terhadap aksi dalam game.
Dengan kata lain, bagian belakang smartphone yang sebelumnya hanya menjadi tempat kamera dan logo kini mulai berubah menjadi bagian interaktif dari perangkat. Jika tren ini terus berkembang, bukan tidak mungkin produsen akan menghadirkan sistem pencahayaan yang semakin pintar dan dapat memberikan lebih banyak informasi kepada pengguna tanpa harus menyalakan layar.