Sebelum Fairphone, 4 Perusahaan Ini Ternyata Sempat Bikin HP Modular

Sebelum Fairphone, 4 Perusahaan Ini Ternyata Sempat Bikin HP Modular

Ketika membicarakan HP modular, nama Fairphone hampir selalu muncul. Brand asal Belanda tersebut memang menjadi salah satu perusahaan yang paling konsisten mempertahankan konsep smartphone yang mudah diperbaiki dan komponennya dapat diganti sendiri oleh pengguna.

Fairphone generasi ke-6, misalnya, menawarkan 12 komponen yang dapat diganti pengguna, termasuk baterai, layar, speaker, dan kamera. Konsep seperti ini menarik karena berbeda dari tren smartphone modern yang semakin sulit dibongkar dan diperbaiki.

Namun, Fairphone sebenarnya bukan pelopor HP modular. Jauh sebelum konsep tersebut menjadi identitas Fairphone, beberapa perusahaan sudah mencoba menghadirkan smartphone atau ponsel dengan komponen yang bisa diganti maupun ditambahkan. Bahkan, beberapa proyek tersebut datang dari perusahaan teknologi besar seperti Google, Motorola, dan LG.

Sayangnya, sebagian besar eksperimen tersebut tidak bertahan lama. Ada yang terkendala teknologi, harga aksesori, rendahnya minat konsumen, hingga masalah finansial perusahaan.

Lantas, perusahaan mana saja yang pernah mencoba membuat HP modular sebelum Fairphone? Berikut empat di antaranya.

1. Google dengan Project Ara

Salah satu proyek HP modular paling ambisius yang pernah dibuat adalah Project Ara milik Google. Berbeda dari sekadar smartphone dengan aksesori tambahan, Project Ara pada awalnya dirancang agar sebagian besar komponen utama ponsel dapat diganti oleh pengguna.

Konsepnya menggunakan sebuah rangka utama sebagai fondasi. Pengguna kemudian dapat memasang berbagai modul seperti layar, baterai, kamera, prosesor, dan komponen lainnya sesuai kebutuhan.

Ide tersebut berasal dari tim Advanced Technology and Projects (ATAP) Motorola Mobility. Ketika Google mengakuisisi Motorola Mobility, tim ATAP tetap dipertahankan dan kemudian menjadi bagian penting dalam pengembangan Project Ara.

Konsep Project Ara juga memiliki hubungan dengan Phonebloks, sebuah konsep smartphone modular yang diperkenalkan oleh desainer Dave Hakkens. Google bahkan melibatkan Hakkens sebagai konsultan dalam proyek tersebut.

Secara konsep, Project Ara terdengar sangat menarik. Bayangkan pengguna dapat mengganti kamera ketika membutuhkan kualitas fotografi lebih baik atau meningkatkan komponen tertentu tanpa harus membeli smartphone baru.

Namun, perjalanan Project Ara ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Proyek tersebut mengalami penundaan berulang kali. Google akhirnya membatalkan Project Ara pada September 2016, padahal sebelumnya smartphone modular tersebut direncanakan meluncur pada 2017.

Menariknya, prototipe terakhir Project Ara ternyata sudah cukup berbeda dari visi awal. Banyak komponen penting seperti chipset, antena, sensor, baterai, dan layar akhirnya tidak dapat diganti.

Kegagalan Project Ara menunjukkan bahwa membuat smartphone yang benar-benar modular ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar merancang komponen yang bisa dilepas-pasang.

2. Motorola dan Moto Mods

Jika Google mencoba pendekatan yang sangat ambisius, Motorola mengambil jalan yang lebih realistis melalui lini Moto Z.

Motorola tidak membuat seluruh komponen smartphone dapat dibongkar-pasang. Sebaliknya, mereka membuat smartphone biasa yang dapat diperluas menggunakan aksesori khusus bernama Moto Mods.

Aksesori tersebut dipasang di bagian belakang smartphone menggunakan magnet dan konektor pogo pin. Dengan mekanisme ini, pengguna dapat menambahkan fungsi tertentu tanpa perlu mengganti smartphone.

Pilihan Moto Mods juga cukup beragam. Ada modul baterai tambahan untuk memperpanjang daya tahan, speaker untuk meningkatkan pengalaman audio, kamera, proyektor, hingga kontroler game. Bahkan terdapat smart speaker berbasis Alexa.

Beberapa perangkat yang mendukung Moto Mods antara lain Moto Z, Moto Z Force, Moto Z Play, Moto Z2, Moto Z3, dan Moto Z4.

Konsep ini sebenarnya cukup masuk akal untuk penggunaan sehari-hari. Pengguna tidak perlu membongkar smartphone untuk mengganti prosesor atau layar. Mereka cukup memasang aksesori ketika membutuhkan fungsi tertentu.

Namun, konsep tersebut akhirnya tidak berumur panjang. Moto Z4 yang dirilis pada 2019 menjadi smartphone terakhir yang mendukung Moto Mods.

Motorola sendiri tidak pernah menjelaskan secara resmi alasan penghentian lini Moto Z dan Moto Mods. Akan tetapi, rendahnya minat konsumen terhadap aksesori yang relatif mahal kemungkinan menjadi salah satu faktornya.

Masalahnya memang cukup jelas. Jika sebuah aksesori hanya digunakan sesekali tetapi harganya cukup tinggi, konsumen bisa berpikir ulang sebelum membelinya. Pada akhirnya, konsep modular membutuhkan ekosistem aksesori yang tidak hanya menarik, tetapi juga terjangkau dan benar-benar berguna.

Baca juga : Mengenal GNSS, Sistem Navigasi Satelit yang Bikin HP Bisa Menentukan Lokasi Tanpa Internet

3. LG G5 dengan modul Friends

Perusahaan lain yang pernah bereksperimen dengan smartphone modular adalah LG melalui LG G5.

Smartphone ini memiliki bagian bawah yang dapat dilepas dan diganti dengan modul bernama Friends. Konsep tersebut memungkinkan LG G5 memperoleh fungsi tambahan melalui aksesori khusus.

Salah satu modul yang menarik adalah Cam Plus. Modul ini menambahkan baterai sekaligus kontrol kamera sehingga smartphone terasa lebih mirip kamera digital. Ada pula Hi-Fi Plus with B&O Play yang membawa DAC serta amplifier Hi-Fi 32-bit untuk pengguna yang mengutamakan kualitas audio.

Di atas kertas, konsep LG G5 cukup menarik. Pengguna dapat memilih modul sesuai kebutuhan tanpa harus mengganti seluruh smartphone.

Namun, LG G5 memiliki satu kelemahan yang cukup mengganggu. Pengguna harus mematikan smartphone terlebih dahulu setiap kali ingin mengganti modul.

Hal ini terjadi karena bagian bawah smartphone yang dilepas juga berfungsi sebagai tempat baterai. Jadi, mengganti modul bukan sekadar memasang dan mencopot aksesori seperti Moto Mods.

LG G5 sendiri mendapatkan sejumlah ulasan positif. Akan tetapi, konsep modularnya tidak berhasil menarik perhatian pasar secara signifikan.

LG akhirnya kembali menggunakan desain smartphone konvensional pada LG G6. Perusahaan tersebut memang masih sempat bereksperimen dengan desain smartphone unik, seperti LG Wing dan aksesori layar kedua untuk lini V, tetapi tidak kembali membuat smartphone modular seperti G5.

Pada 2021, LG akhirnya meninggalkan bisnis smartphone sepenuhnya.

4. Modu, pelopor dari Israel

Jauh sebelum Project Ara, Moto Mods, maupun LG G5, ada perusahaan asal Israel bernama Modu yang sudah bereksperimen dengan konsep ponsel modular sejak 2008.

Modu mengembangkan perangkat yang memiliki bentuk sangat kecil dan dapat dimasukkan ke berbagai aksesori tambahan. Aksesori tersebut dapat memberikan fungsi berbeda, seperti kamera, GPS, layar yang lebih besar, atau fitur lainnya.

Produk seperti Modu 1 mulai dijual pada 2009. Ponsel tersebut memiliki fitur dasar berupa keyboard, layar OLED, dan penyimpanan 2GB. Setiap pembelian juga disertai dua aksesori, sementara konsumen dapat memilih aksesori tambahan dengan fitur berbeda.

Pada 2010, Modu meluncurkan Modu T dengan ukuran yang lebih besar, layar sentuh, serta sistem operasi Qualcomm Brew.

Aksesori yang tersedia juga cukup unik. Ada Camerafy yang dilengkapi kamera 5MP, Textify dengan keyboard QWERTY fisik, serta Sportify yang dirancang untuk pelacakan kebugaran dan pemutar musik.

Konsep Modu sebenarnya memperlihatkan salah satu gagasan penting dalam smartphone modular: satu perangkat dasar dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan dengan bantuan aksesori.

Sayangnya, penjualan produk Modu tidak cukup kuat. Perusahaan tersebut juga menghadapi utang yang terus menumpuk hingga akhirnya tutup pada 2011.

Setelah Modu berhenti beroperasi, Google kemudian membeli sejumlah paten miliknya. Paten tersebut kemungkinan turut berperan dalam pengembangan Project Ara.

Kenapa HP modular sulit sukses?

Dari empat contoh tersebut, terlihat bahwa konsep modular bukanlah ide baru. Bahkan, perusahaan besar sudah mencoba berbagai pendekatan untuk membuatnya menjadi produk mainstream.

Masalahnya, HP modular memiliki tantangan besar dari sisi teknologi dan bisnis.

Smartphone merupakan perangkat yang komponennya harus bekerja dalam ruang sangat terbatas. Setiap komponen harus dirancang agar hemat tempat, ringan, tahan terhadap penggunaan sehari-hari, serta mampu berkomunikasi dengan komponen lain.

Semakin banyak komponen yang dibuat dapat dilepas-pasang, semakin kompleks pula desainnya. Belum lagi persoalan ketahanan terhadap debu, air, benturan, dan tekanan fisik.

Dari sisi bisnis, aksesori modular juga membutuhkan ekosistem. Konsumen tidak akan tertarik jika pilihan modul sedikit. Sebaliknya, perusahaan mungkin enggan membuat banyak modul jika jumlah pengguna perangkatnya tidak cukup besar.

Inilah yang membuat konsep seperti Moto Mods menghadapi masalah. Aksesori yang menarik belum tentu laku jika harganya terlalu mahal atau manfaatnya tidak cukup besar untuk penggunaan sehari-hari.

Fairphone mengambil pendekatan berbeda

Di tengah berbagai kegagalan tersebut, Fairphone memilih fokus yang sedikit berbeda. Mereka tidak berusaha membuat satu smartphone yang bisa diubah menjadi perangkat apa pun.

Sebaliknya, fokusnya adalah kemudahan perbaikan dan penggantian komponen. Baterai, layar, kamera, speaker, dan komponen lainnya dapat diganti ketika mengalami kerusakan atau ketika pengguna ingin memperpanjang umur perangkat.

Pendekatan ini membuat modularitas memiliki manfaat yang lebih praktis. Pengguna tidak harus membeli modul baru untuk sekadar mendapatkan fungsi tambahan. Mereka bisa mempertahankan smartphone lebih lama dengan mengganti komponen yang rusak.

Pada akhirnya, perjalanan HP modular memperlihatkan bahwa ide bagus belum tentu mudah menjadi produk sukses. Google punya Project Ara yang ambisius, Motorola memiliki Moto Mods yang praktis, LG menawarkan LG G5 Friends, sedangkan Modu sudah mencoba konsep tersebut sejak akhir 2000-an.

Namun, hingga sekarang Fairphone menjadi salah satu brand yang paling konsisten mempertahankan filosofi tersebut.

HP modular ternyata bukan konsep yang gagal sepenuhnya—hanya saja, industri membutuhkan pendekatan yang tepat agar modularitas benar-benar memberikan manfaat bagi konsumen.