5 Hal Menarik di HUAWEI Pura X View, HP Mengotak yang Beda dari Smartphone Biasa

5 Hal Menarik di HUAWEI Pura X View, HP Mengotak yang Beda dari Smartphone Biasa

Pasar smartphone saat ini memang terasa semakin homogen. Sebagian besar HP menggunakan layar memanjang dengan desain yang sekilas terlihat mirip satu sama lain. Perbedaan biasanya hanya muncul pada modul kamera, material bodi, atau ukuran bezel.

Namun, Huawei mencoba keluar dari pola tersebut melalui HUAWEI Pura X View. Smartphone ini hadir dengan desain yang tidak biasa karena mengusung layar mengotak dengan bentuk yang lebih menyerupai tablet mini, buku, atau paspor dibandingkan smartphone candybar pada umumnya.

Bukan cuma desainnya yang menarik perhatian. Pura X View juga membawa sejumlah spesifikasi yang cukup agresif, mulai dari layar LTPO2 OLED 120Hz, tiga kamera belakang 50MP, bodi tipis 6,68 mm, baterai 7.000 mAh, hingga HarmonyOS 7.

Berikut lima hal menarik yang membuat HUAWEI Pura X View berbeda dari kebanyakan smartphone.

1. Mengusung Form Factor Mengotak yang Sangat Unik

Hal pertama yang langsung terlihat dari Pura X View adalah bentuk layarnya.

Jika smartphone konvensional biasanya memiliki layar dengan rasio panjang seperti 18:9, 19:9, atau bahkan 20:9, Pura X View tampil dengan layar yang jauh lebih lebar. Bentuknya terlihat hampir mengotak dan memberikan kesan seperti membawa tablet mini yang bisa digunakan sebagai smartphone.

Perangkat ini menggunakan aspek rasio 16:9,5. Bentuk tersebut membuat pengalaman melihat konten menjadi berbeda karena bidang layar lebih proporsional untuk aktivitas tertentu.

Layarnya berukuran 6,39 inci dengan panel LTPO2 OLED dan refresh rate hingga 120Hz. Resolusinya mencapai 2232 x 1320 piksel, sedangkan tingkat kecerahan maksimal yang disebutkan mencapai 6.500 nits.

Kombinasi tersebut membuat Pura X View tidak hanya mengandalkan desain unik sebagai daya tarik.

Refresh rate 120Hz dapat membuat animasi dan perpindahan antarmuka terasa lebih mulus. Sementara panel OLED memberikan karakteristik layar dengan kontras tinggi dan warna yang lebih menonjol.

Bentuk mengotak juga berpotensi memberikan keuntungan untuk aktivitas seperti membaca, membuka beberapa aplikasi, melihat dokumen, atau menikmati konten yang membutuhkan bidang layar lebih lebar.

Namun, desain tersebut juga berarti pengalaman genggamnya akan berbeda dibandingkan smartphone biasa. Pengguna yang sudah terbiasa dengan layar panjang mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Justru di situlah daya tarik Pura X View. Huawei tampaknya tidak berusaha membuat smartphone yang sekadar mengikuti tren, tetapi mencoba menciptakan kategori penggunaan yang berbeda.

2. Tiga Kamera Belakang Sama-Sama 50MP

Tidak hanya layar yang dibuat berbeda, sektor fotografi Pura X View juga cukup menarik.

Smartphone ini dibekali tiga kamera belakang yang masing-masing memiliki resolusi 50MP. Konfigurasinya terdiri dari kamera utama, ultrawide, dan telefoto.

Kamera utama dilengkapi OIS atau optical image stabilization, yang membantu mengurangi efek guncangan ketika pengguna mengambil foto atau merekam video dengan tangan.

Sementara kamera ultrawide dapat digunakan untuk menangkap bidang pandang yang lebih luas. Kamera ini berguna ketika pengguna ingin memotret pemandangan, bangunan, kelompok orang, atau objek yang sulit dimasukkan seluruhnya ke dalam frame kamera utama.

Kamera telefoto kemudian menawarkan perspektif berbeda untuk mengambil objek dari jarak yang lebih jauh.

Penggunaan tiga sensor 50MP pada kamera belakang membuat konfigurasi Pura X View terlihat cukup serius. Ketiga kamera tersebut tidak sekadar mengandalkan satu sensor resolusi tinggi sebagai kamera utama, tetapi memberikan beberapa pilihan perspektif kepada pengguna.

Untuk kebutuhan video, kamera belakang Pura X View mampu merekam hingga 4K pada 60 frame per detik.

Kemampuan tersebut sudah cukup untuk kebutuhan seperti membuat vlog, merekam perjalanan, membuat konten media sosial, atau mengabadikan aktivitas sehari-hari dengan kualitas video yang tinggi.

Sementara itu, kamera depannya memiliki resolusi 10,7MP. Kamera selfie tersebut memang tidak memiliki resolusi sebesar kamera belakang, dan kemampuan perekaman videonya juga lebih terbatas pada 1080p.

Dengan demikian, pengguna yang sering membuat konten menggunakan kamera depan perlu mempertimbangkan keterbatasan tersebut.

Baca juga : Bilibili, Pesaing YouTube Asal China Siap Mendunia, MrBeast Sudah Gabung

3. Bodi Tipis 6,68 mm Meski Membawa Desain Tidak Biasa

Desain mengotak biasanya membuat sebuah perangkat terlihat lebih besar. Namun, Huawei justru berhasil mempertahankan dimensi bodi yang relatif tipis.

HUAWEI Pura X View memiliki ketebalan hanya 6,68 mm dan bobot sekitar 201 gram.

Angka tersebut menarik karena smartphone ini membawa layar dengan bentuk yang tidak biasa sekaligus baterai berkapasitas besar.

Sebagai perbandingan, banyak smartphone modern memiliki ketebalan sekitar 7-8 mm. Karena itu, ketebalan di bawah 7 mm membuat Pura X View terlihat cukup ramping untuk perangkat dengan karakteristik seperti ini.

Bobot 201 gram juga masih berada pada tingkat yang relatif wajar untuk penggunaan sehari-hari.

Bodi tipis dapat memberikan keuntungan ketika perangkat digunakan dalam waktu lama. Smartphone lebih mudah dimasukkan ke saku atau tas dan tidak terlalu terasa membebani tangan.

Huawei juga menyebut perangkat ini memiliki ketahanan terhadap debu dan air. Namun, berdasarkan informasi yang tersedia, jenis sertifikasi perlindungan yang digunakan belum diketahui secara jelas.

Karena itu, pengguna sebaiknya tidak langsung menganggap perangkat ini memiliki tingkat ketahanan air tertentu sebelum melihat sertifikasi resmi yang diberikan Huawei.

4. Baterai 7.000 mAh di Bodi yang Tetap Tipis

Bagian lain yang cukup mengejutkan adalah kapasitas baterainya.

Pura X View dibekali baterai berkapasitas 7.000 mAh. Kapasitas tersebut tergolong sangat besar untuk sebuah perangkat yang memiliki ketebalan hanya 6,68 mm.

Baterai berkapasitas besar tentu menjadi keuntungan bagi pengguna yang memiliki mobilitas tinggi. Mereka tidak perlu terlalu sering mencari stopkontak untuk mengisi ulang baterai, terutama ketika smartphone digunakan untuk aktivitas seperti menonton video, bermain game, navigasi, atau bekerja.

Meski demikian, kapasitas baterai tidak otomatis menentukan berapa lama smartphone dapat digunakan.

Daya tahan sebenarnya juga dipengaruhi oleh efisiensi chipset, jenis layar, refresh rate, koneksi jaringan, tingkat kecerahan layar, aplikasi yang berjalan di latar belakang, serta pola penggunaan.

Karena belum tersedia pengujian intensif atau klaim resmi mengenai durasi pemakaian, belum bisa dipastikan berapa lama Pura X View dapat bertahan dalam penggunaan nyata.

Namun, secara teori, 7.000 mAh memberikan modal yang sangat besar untuk mengejar daya tahan seharian atau bahkan lebih, tergantung pola penggunaan.

Huawei juga membekali perangkat ini dengan pengisian cepat 66W. Dengan daya tersebut, pengguna tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama ketika harus mengisi baterai berkapasitas besar.

Kombinasi baterai jumbo dan fast charging menjadi semakin menarik karena kapasitas baterai yang besar biasanya berarti waktu pengisian juga berpotensi lebih lama jika menggunakan charger berdaya rendah.

5. Tidak Menggunakan Android, Melainkan HarmonyOS 7

Hal menarik terakhir adalah sistem operasinya.

HUAWEI Pura X View tidak menggunakan Android sebagai sistem operasi utamanya. Perangkat ini hadir dengan HarmonyOS 7, sistem operasi yang dikembangkan Huawei.

Kondisi tersebut merupakan bagian dari perjalanan Huawei dalam membangun ekosistem perangkat lunaknya sendiri setelah perusahaan menghadapi berbagai pembatasan dari Amerika Serikat.

HarmonyOS 7 juga membawa perubahan dari sisi tampilan antarmuka.

Huawei memperkenalkan bahasa desain baru yang mengedepankan elemen 3D serta ikon transparan. Pendekatan visual tersebut memberikan kesan modern dan lebih playful.

Desain tersebut sekilas mengingatkan pada konsep visual seperti Liquid Glass yang digunakan Apple, meskipun Huawei tetap membawa pendekatan desainnya sendiri.

Pura X View juga diklaim sebagai perangkat pertama yang hadir menggunakan HarmonyOS 7. Dengan demikian, perangkat ini tidak hanya menjadi eksperimen Huawei dari sisi bentuk fisik, tetapi juga menjadi salah satu kendaraan untuk memperkenalkan generasi terbaru sistem operasi perusahaan tersebut.

Penggunaan HarmonyOS tentu memiliki konsekuensi bagi calon pengguna. Mereka perlu memperhatikan dukungan aplikasi dan ekosistem yang tersedia dibandingkan smartphone Android atau iPhone.

Namun, bagi pengguna yang tertarik dengan ekosistem Huawei, kehadiran HarmonyOS 7 justru menjadi salah satu daya tarik utama.

Desain Unik Jadi Kekuatan Sekaligus Tantangan

Jika melihat keseluruhan spesifikasinya, Pura X View jelas bukan smartphone yang hanya mengandalkan desain aneh untuk mendapatkan perhatian.

Layar 6,39 inci dengan LTPO2 OLED 120Hz dan resolusi tinggi membuat sektor visualnya serius. Tiga kamera belakang 50MP menawarkan konfigurasi fotografi yang lengkap. Bodi 6,68 mm membuatnya tetap ramping, sedangkan baterai 7.000 mAh memberikan kapasitas daya yang sangat besar.

Namun, desain mengotak juga menjadi tantangan tersendiri.

Aplikasi dan konten pada umumnya dirancang dengan mempertimbangkan format layar smartphone konvensional. Rasio 16:9,5 milik Pura X View dapat memberikan pengalaman berbeda, tetapi optimal atau tidaknya sangat bergantung pada bagaimana aplikasi menyesuaikan diri terhadap bentuk layar tersebut.

Pengguna juga perlu mempertimbangkan kenyamanan ketika memegang perangkat. Smartphone dengan bidang layar yang lebih lebar tentu memberikan karakter ergonomi yang berbeda dibandingkan perangkat dengan layar memanjang.

Dengan kata lain, bentuk unik Pura X View merupakan pedang bermata dua. Bagi pengguna yang menginginkan sesuatu berbeda, desain ini menjadi keunggulan. Tetapi bagi mereka yang lebih menyukai desain smartphone konvensional, bentuk tersebut mungkin membutuhkan adaptasi.

Sayangnya, Pura X View Masih Terbatas di China

Salah satu kendala terbesar bagi pengguna di luar China adalah ketersediaan.

HUAWEI Pura X View hanya dijual di pasar China berdasarkan informasi yang tersedia. Artinya, konsumen dari negara lain, termasuk Indonesia, akan menghadapi tantangan jika ingin mendapatkannya secara resmi.

Keterbatasan distribusi ini juga membuat perangkat tersebut lebih sulit dinilai dari sisi pengalaman penggunaan global.

Padahal, jika Huawei membawa Pura X View ke lebih banyak negara, desainnya berpotensi menjadi salah satu alternatif menarik di tengah pasar smartphone yang semakin seragam.

Kesimpulan

HUAWEI Pura X View menunjukkan bahwa inovasi smartphone masih belum berhenti pada peningkatan spesifikasi semata.

Perangkat ini menawarkan form factor mengotak dengan rasio 16:9,5, layar LTPO2 OLED 120Hz berukuran 6,39 inci, tiga kamera belakang 50MP, bodi tipis 6,68 mm, baterai jumbo 7.000 mAh, pengisian cepat 66W, serta HarmonyOS 7.

Yang paling menarik justru keberanian Huawei mengambil pendekatan berbeda. Alih-alih mengikuti desain smartphone memanjang yang sudah menjadi standar, Pura X View mencoba menawarkan pengalaman layar yang lebih menyerupai tablet mini.

Kamera dan baterainya juga menunjukkan bahwa desain unik tersebut tidak berarti Huawei harus mengorbankan spesifikasi lainnya.

Sayangnya, perangkat ini masih terbatas untuk pasar China sehingga pengguna Indonesia belum bisa mendapatkannya dengan mudah melalui jalur resmi. Meski begitu, kehadiran Pura X View tetap menarik untuk diperhatikan.

Sebab, semakin banyak produsen berani bereksperimen dengan desain dan pengalaman baru, semakin besar pula kemungkinan industri smartphone melahirkan kategori perangkat yang benar-benar berbeda di masa depan.