Mau Pasang DC Charger di Rumah atau Kantor? Segini Estimasi Biayanya
Kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) menawarkan cara baru dalam menggunakan kendaraan sehari-hari. Salah satu keunggulan yang paling sering dibicarakan adalah biaya operasional yang relatif efisien dan kemudahan pengisian daya. Namun, bagi pemilik EV, waktu pengisian baterai tetap menjadi salah satu pertimbangan penting, terutama ketika kendaraan digunakan secara intensif setiap hari.
Untuk kebutuhan tersebut, DC Charger dapat menjadi solusi karena mampu mengisi baterai kendaraan listrik dengan daya jauh lebih besar dibandingkan charger AC rumahan. Waktu pengisian pun bisa dipangkas sehingga kendaraan dapat kembali digunakan dalam waktu lebih singkat.
Meski terdengar praktis, memasang DC Charger di rumah bukan perkara sederhana. Perangkat ini membutuhkan kapasitas listrik yang besar, instalasi khusus, serta investasi yang jauh lebih mahal dibandingkan wall charger AC.
Menurut Ninis Ribang, Public Relation PT Tri Energi Berkarya (TEB), DC Charger sebenarnya tetap memungkinkan dipasang di rumah. Namun, konsumen harus mempertimbangkan kebutuhan daya dan biaya keseluruhannya.
Lantas, berapa biaya yang perlu disiapkan jika ingin memasang DC Charger di rumah atau kantor?
DC Charger membutuhkan daya listrik sangat besar
Perbedaan paling mendasar antara charger AC dan DC terletak pada kebutuhan daya serta cara pengisian baterai kendaraan listrik.
Wall charger AC umumnya lebih cocok digunakan di rumah karena proses pengisian dapat dilakukan dalam waktu yang relatif panjang. Kendaraan bisa dihubungkan dengan charger pada malam hari dan dibiarkan mengisi ketika pemilik tidur.
Sementara itu, DC Charger dirancang untuk memberikan daya lebih besar sehingga proses pengisian dapat berlangsung lebih cepat.
Namun, daya besar tersebut tentu membutuhkan infrastruktur kelistrikan yang memadai.
Ninis memberikan contoh DC Charger dengan kapasitas sekitar 25 kW hingga 30 kW. Untuk memasang perangkat tersebut, kebutuhan daya listrik di lokasi setidaknya berada di kisaran 33.000 VA.
Angka tersebut tentu jauh lebih besar dibandingkan kapasitas listrik yang umum digunakan pada rumah tangga.
Artinya, pemilik rumah tidak cukup hanya membeli mesin DC Charger kemudian mencolokkannya ke instalasi listrik yang sudah tersedia. Kapasitas listrik, meteran, sistem distribusi, kabel, pengaman, hingga instalasi pendukung harus diperhitungkan sejak awal.
Jika kapasitas listrik rumah belum mencukupi, pemilik harus melakukan penyesuaian terlebih dahulu.
Harga mesin DC Charger bisa mencapai Rp130 juta
Persoalan berikutnya adalah harga perangkat.
Untuk DC Charger dengan kemampuan sekitar 25-30 kW, harga unitnya dapat mencapai sekitar Rp130 juta.
Angka tersebut baru untuk mesinnya.
Dengan kata lain, Rp130 juta belum bisa dianggap sebagai total biaya yang harus dikeluarkan konsumen untuk membuat fasilitas DC Charger siap digunakan.
Masih terdapat sejumlah komponen lain yang perlu diperhitungkan, seperti material instalasi, meteran, sumber daya listrik, kabel, perangkat pengaman, dan kebutuhan teknis lainnya.
Hal ini membuat total investasi dapat menjadi jauh lebih besar daripada harga mesin semata.
Sebagai gambaran sederhana, seseorang yang melihat harga DC Charger Rp130 juta tidak seharusnya langsung menganggap bahwa dengan Rp130 juta fasilitas pengisian sudah selesai dan siap digunakan. Ada pekerjaan infrastruktur yang harus dilakukan agar perangkat dapat beroperasi dengan aman dan sesuai kebutuhan.
Baca juga : 6 HP BlackBerry Paling Ikonis Sepanjang Masa, Pernah Punya?
Mengapa pemasangan DC Charger tidak semudah wall charger AC?
Bagi pemilik mobil listrik, wall charger AC biasanya lebih masuk akal untuk penggunaan rumahan karena karakter penggunaannya memang berbeda.
Mobil yang diparkir di rumah pada malam hari memiliki banyak waktu untuk mengisi baterai. Tidak ada tuntutan agar baterai terisi penuh dalam waktu sangat singkat.
Sebaliknya, DC Charger dibuat untuk situasi ketika waktu menjadi faktor penting.
Misalnya, kendaraan baru tiba dalam kondisi baterai rendah tetapi harus kembali digunakan dalam waktu singkat. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan pengisian berdaya tinggi menjadi sangat berguna.
Namun, konsekuensinya adalah kebutuhan listrik juga meningkat.
Semakin besar daya yang digunakan, semakin serius pula kebutuhan terhadap instalasi kelistrikan. Karena itu, pemasangan DC Charger membutuhkan perencanaan yang lebih matang.
Pemilik juga perlu memastikan bahwa kapasitas listrik yang tersedia mampu memenuhi kebutuhan charger tanpa mengganggu kebutuhan listrik lainnya.
DC Charger lebih cocok untuk area komersial
Dengan mempertimbangkan harga perangkat dan kebutuhan infrastrukturnya, DC Charger dinilai lebih masuk akal jika digunakan pada lokasi komersial.
Contohnya adalah area parkir pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, tempat usaha, fasilitas publik, atau lokasi yang memang melayani banyak kendaraan listrik.
Di tempat-tempat seperti itu, kecepatan pengisian memiliki nilai ekonomi.
Pengguna tidak harus menunggu terlalu lama ketika membutuhkan tambahan energi sebelum melanjutkan perjalanan.
Selain itu, satu fasilitas pengisian juga berpotensi digunakan oleh banyak pengguna sehingga investasi perangkat bisa lebih masuk akal dibandingkan jika hanya digunakan untuk satu kendaraan pribadi.
Hal tersebut berbeda dengan rumah yang mungkin hanya memiliki satu atau dua kendaraan.
Jika DC Charger hanya digunakan sesekali, investasi puluhan hingga ratusan juta rupiah bisa menjadi kurang efisien.
Bukan berarti DC Charger tidak cocok untuk rumah
Meskipun lebih cocok untuk area komersial, bukan berarti DC Charger sama sekali tidak dapat digunakan di rumah.
Ada kondisi tertentu ketika investasi tersebut mungkin masuk akal.
Salah satunya adalah rumah yang memiliki lebih dari satu mobil listrik.
Bayangkan sebuah keluarga memiliki dua mobil listrik yang sama-sama digunakan setiap hari untuk bekerja. Keduanya membutuhkan energi yang cukup banyak karena menempuh perjalanan rutin.
Jika rumah hanya memiliki satu wall charger AC, kedua kendaraan harus mengantre.
Mobil pertama mungkin mengisi daya pada malam hari. Setelah baterainya cukup, kendaraan kedua baru mendapatkan giliran.
Masalah semakin terasa apabila kedua mobil digunakan setiap hari dengan jarak tempuh yang cukup jauh.
Dalam kondisi tersebut, waktu pengisian menjadi lebih penting.
Dua mobil listrik bisa membuat satu charger tidak cukup
Menurut Ninis, pemilik dua mobil listrik perlu mempertimbangkan pola penggunaan kendaraan sebelum menentukan jumlah charger.
Jika salah satu kendaraan hanya digunakan sesekali, satu charger mungkin masih mencukupi.
Namun, situasinya berbeda apabila kedua mobil digunakan sebagai kendaraan harian.
Misalnya, mobil pertama digunakan untuk pergi bekerja pada pagi hingga sore, sedangkan mobil kedua juga digunakan untuk aktivitas rutin. Ketika keduanya kembali ke rumah dengan baterai yang perlu diisi, hanya tersedia satu charger.
Pada akhirnya, pemilik harus menentukan kendaraan mana yang mengisi terlebih dahulu.
Masalah ini sebenarnya bukan semata-mata persoalan kapasitas charger, tetapi manajemen waktu.
Jika kedua kendaraan membutuhkan pengisian pada waktu yang sama, satu charger jelas tidak dapat mengisi keduanya secara bersamaan.
Dalam kondisi seperti itu, menambah charger AC atau menggunakan fasilitas DC Charger bisa menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan.
Kantor juga bisa menjadi solusi
Pemilik kendaraan listrik dengan mobilitas tinggi sebenarnya tidak selalu harus mengandalkan pengisian di rumah.
Kantor dapat menjadi lokasi alternatif yang sangat penting.
Jika tempat kerja menyediakan charger, kendaraan bisa diisi selama jam kerja. Dengan begitu, pemilik tidak harus selalu menunggu kendaraan mengisi daya di rumah.
Kondisi ini menjadi semakin menarik bagi orang yang memiliki dua kendaraan listrik dengan kebutuhan penggunaan tinggi.
Misalnya, satu kendaraan digunakan pada hari tertentu dan diisi di rumah, sementara kendaraan lain dapat diisi ketika berada di kantor.
Dengan distribusi waktu pengisian seperti ini, kebutuhan terhadap DC Charger di rumah bisa berkurang.
Wall charger AC masih lebih masuk akal untuk sebagian besar rumah
Bagi pemilik satu mobil listrik dengan pola penggunaan normal, wall charger AC kemungkinan masih menjadi pilihan yang lebih rasional.
Alasannya sederhana: kendaraan biasanya memiliki waktu cukup panjang ketika tidak digunakan.
Malam hari menjadi waktu ideal untuk mengisi daya.
Pemilik cukup memarkir kendaraan, menghubungkan kabel charger, kemudian membiarkannya mengisi selama beberapa jam.
Tidak perlu mengejar kecepatan pengisian seperti ketika menggunakan DC Charger.
Dalam konteks rumah tangga, kebutuhan tersebut membuat AC charging lebih praktis dan ekonomis.
DC Charger baru memberikan keuntungan besar ketika kecepatan pengisian memang menjadi kebutuhan utama.
Jangan hanya menghitung harga mesin
Salah satu kesalahan yang perlu dihindari calon pengguna adalah hanya melihat harga perangkat.
Harga sekitar Rp130 juta untuk unit DC Charger 25-30 kW memang sudah memberikan gambaran bahwa perangkat tersebut membutuhkan investasi besar. Namun, biaya sebenarnya masih dapat bertambah karena adanya kebutuhan instalasi.
Beberapa hal yang perlu diperhitungkan antara lain:
- Kapasitas listrik yang tersedia.
- Penyesuaian atau peningkatan daya.
- Meteran listrik.
- Kabel dan material instalasi.
- Perangkat pengaman kelistrikan.
- Pekerjaan pemasangan.
- Ruang atau lokasi pemasangan.
- Kebutuhan infrastruktur pendukung lainnya.
Karena itu, sebelum membeli perangkat, calon pengguna sebaiknya meminta perhitungan teknis secara menyeluruh.
Jangan sampai mesin sudah dibeli tetapi kapasitas listrik di lokasi ternyata tidak memadai.
Kecepatan pengisian harus disesuaikan dengan kebutuhan
Pada akhirnya, keputusan memilih DC Charger atau AC Charger sebaiknya tidak hanya berdasarkan anggapan bahwa “semakin cepat pasti semakin baik”.
Kecepatan memang penting, tetapi kebutuhan setiap pengguna berbeda.
Untuk satu mobil yang hanya digunakan untuk perjalanan harian dan memiliki waktu parkir panjang, wall charger AC dapat menjadi pilihan yang lebih masuk akal.
Sementara itu, DC Charger lebih menarik bagi pengguna dengan kebutuhan pengisian cepat, kendaraan lebih dari satu, atau lokasi yang memiliki aktivitas kendaraan listrik tinggi.
Bagi kantor, fasilitas DC Charger juga bisa menjadi nilai tambah karena kendaraan karyawan atau operasional dapat memperoleh pengisian lebih cepat selama berada di lokasi.
Jadi, berapa dana yang perlu disiapkan?
Jika menggunakan contoh DC Charger 25-30 kW, harga unitnya saja bisa mencapai sekitar Rp130 juta. Perangkat tersebut membutuhkan kapasitas listrik sekitar 33.000 VA sebagai kebutuhan minimal dalam contoh yang disampaikan distributor.
Namun, Rp130 juta belum merupakan total biaya pemasangan.
Konsumen masih perlu menghitung biaya meteran, sumber daya listrik, material, instalasi, dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya. Karena itu, total investasi sebaiknya dihitung berdasarkan kondisi lokasi masing-masing.
Dengan biaya sebesar itu, DC Charger memang bukan perangkat yang ditujukan untuk semua pemilik mobil listrik.
Untuk rumah dengan satu mobil dan waktu pengisian yang cukup panjang, AC wall charger masih menjadi pilihan yang lebih praktis. Sebaliknya, bagi pemilik beberapa mobil listrik yang sama-sama aktif digunakan setiap hari, atau bagi kantor dan area komersial yang membutuhkan pengisian cepat, DC Charger bisa menjadi investasi yang lebih masuk akal.
Pada akhirnya, teknologi pengisian kendaraan listrik bukan hanya soal seberapa cepat baterai bisa penuh. Yang tidak kalah penting adalah menyesuaikan daya listrik, biaya investasi, pola penggunaan kendaraan, dan kebutuhan pengisian.
Dengan perhitungan yang tepat sejak awal, pemilik EV dapat memilih sistem charging yang benar-benar sesuai kebutuhan tanpa mengeluarkan investasi jauh lebih besar dari yang diperlukan.